Pergerakan Tanah Makin Meluas di Cipatat
Rumah Hancur, Ade Sekeluarga Terpaksa Mengungsi Ke Madrasah
Saat itu, rumah Ade hanya retak-retak saja di bagian dinding dan lantai saja, namun lama-lama retakan meluas sampai ke dapur, kamar mandi, ruang tenga
CIPATAT, TRIBUNJABAR.CO.ID - Ade Juhendi (52) bersama istrinya Erni Siti (41) dan ketiga anaknya Lutfi (23), Ryan (13), dan Amelia (6), terpaksa meninggalkan rumahnya yang hancur akibat pergerakan tanah. Ade memboyong keluarganya mengungsi ke Madrasah Abdul Aziz At Taqwa Belekambang.
Rumah Ade di Kampung Balekambang RT 03/10 Desa Cirawamekar, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, tersebut lambat laun hancur seiring pergerakan tanah yang sudah terjadi sejak Jumat (18/11), pukul 17.00.
Saat itu, rumah Ade hanya retak-retak saja di bagian dinding dan lantai saja, namun lama-lama retakan meluas sampai ke dapur, kamar mandi, ruang tengah, dan atap rumah. Bukan hanya rumah Ade saja, tetapi rumah tetangganya pun mengalami kerusakan.
"Rumah saya yang hancurnya paling parah. Awalnya terdengar pecahan kaca jendela. Terus lama-lama kedengaran suara retakan tembok, lalu lantai keramik saya merekah," tutur Erni, istri Ade di lokasi pengungsian, Jumat (25/11).
Melihat keadaan rumahnya hancur, Ade dan Erni berusaha mengamankan barang-barang berharga seperlunya. Malam itu juga mereka sekeluarga langsung mengungsi ke rumah saudaranya.
Di hari berikutnya pergerakan tanah terus terjadi. Tidak hanya menghancurkan beberapa rumah, pergerakan tanah juga mengakibatkan jalan kampung ambles setengah meter, pohon bertumbangan, tebing longsor, dan halaman warga retak-retak. "Akhirnya pada malam kedua warga mengungsi dan tidur di masjid hingga hari ini,” ujar Erni.
Sekdes Cirawamekar, Tosin (40), didampingi Ketua RT 04 Olis Karyati (42), mengatakan, akibat pergerakan tanah tersebut sebanyak 28 kepala keluarga (KK) atau 86 jiwa diungsikan ke madrasah.
Dikatakan Tosin, pihak desa sudah melaporkan kejadian tersebut kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB dan kantor kecamatan. "BPBD berjanji akan melakukan penelitian (kajian teknis) di sini. Yang jelas kalau bantuan logistik dan makanan sudah ada, seperti sembako dan selimut," ujarnya.
Kemarin saat Tribun mendatangi lokasi pergerakan tanah di Kampung Balekambang, bunyi derak bangunan bergeser masih terdengar jelas. Terkait penyebab bencana ini, Tosin belum bisa memastikannya. “Selain faktor alam kami tidak tahu. Kalau pertambangan di sekitar lokasi memang sudah dihentikan sejak puasa kemarin,” tutur dia. (aa)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/rumah-hancur_20161126_132507.jpg)