Roda Pantura, Kisah Sopir Truk dalam Animasi Bisu 18 Menit
Mengambil setting tahun 1998 saat Indonesia mengalami krisis moneter, film ini menggambarkan kehidupan sebuah keluarga baik- baik yang harus terpisah
Oleh Wartawan Tribun Jabar, Isa Rian Fadhilah
DI tengah masih banyaknya animator Indonesia yang berkiblat ke Hollywood atau Jepang, Hizkia Subiyantoro (37) memilih untuk tidak menjadi bagian dari "pengikut" keduanya. Ia mencoba menangkap fenomena-fenomena lokal. Salah-satunya Pantura.
DUA tahun tinggal di Pantura, tepatnya Kudus, mengilhami Hizkia membuat karya animasi tentang wilayah yang identik dengan truk tersebut. Pria asal Yogyakarta yang pernah mengikuti workshop dari nomine Oscar 2011 Bastien Dubois ini membuat sebuah karya film animasi bisu berjudul Roda Pantura.
Film pendek berdurasi 18 menit itu bercerita tentang seorang sopir truk yang tidak pernah pulang ke rumah lantaran uang setorannya tidak pernah cukup. Mengambil setting tahun 1998 saat Indonesia mengalami krisis moneter, film ini menggambarkan kehidupan sebuah keluarga baik- baik yang harus terpisah karena desakan ekonomi. Sang suami menjadi sopir truk dan istrinya menjadi buruh cuci. Tidak bisa pulang ke rumah membuat sang suami terjebak di tempat-tempat terlarang untuk memenuhi hasrat biologisnya. Sementara itu, sang istri pun mengalami godaan selama menunggu sang suami pulang.
"Cerita Pantura sebenarnya banyak, tapi tidak bisa semuanya divisualisasikan ke dalam 18 menit animasi Roda Pantura. Awalnya delapan menit, tapi untuk animasi yang ceritanya lambat, susah. Gerakan animasi di Roda Pantura tidak lembut," ujar Hizkia, yang juga menyutradarai film animasinya ini, di sela acara Baros Internasional Animation Festival 2016 di Cimahi Technopark, Sabtu (19/11).
Gerakan animasi pada Roda Pantura yang tidak lembut mengandung filosofi tersendiri. Gerakan yang tidak stabil tersebut terinspirasi dari wayang. Bayangan wayang sering tidak stabil lantaran lampu blencong dari minyak yang digunakan untuk menyinari wayang kerap tertiup angin.
"Itu yang saya transfer ke animasi saya. Filosofinya kenapa patah-patah karena kita itu manusia yang tidak sempurna. Ini masuknya animasi realis, patah-patah," ujarnya.
Pada Roda Pantura, tidak ada garis lurus. Ini dimaksudkan untuk memberi nyawa pada animasi. Adanya goresan di setiap garis yang terlihat lurus pada animasi tersebut menyimbolkan manusia yang tidak sempurna.
Di beberapa scene Roda Pantura terdapat bengkel, warung dangdut, sopir truk, gorong-gorong, joget dangdut, saweran, dan prostitusi. Hizkia mencoba menghadirkan situasi Pantura senyata mungkin dalam filmnya. Untuk menyuguhkankan situasi itu, ia melakukan riset dengan mendatangi beberapa tempat di Pantura seperti Kudus, Tuban, Rembang, Pati, dan Lasem.
Cerita Roda Pantura diperkaya dengan suara-suara yang juga berunsur lokal seperti keroncong, sinden, dan gamelan. Di beberapa bagian film, terdapat suara bajai yang diambil dengan merekam suara bajai asli di daerah Pantura.
"Kalau merekam suara bajai di Jakarta tentu beda dengan di Yogya misalnya. Karena kelembapan udaranya berbeda. Maka, saya melihat animasi ini dekat dengan hakikatnya orang Jawa, termasuk visual, audio, dan cerita soal simbol," kata pria yang pernah mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta jurusan Seni Murni ini.
Dalam film ini juga digambarkan bagaimana masyarakat marginal melihat negara sebagai sesuatu yang berjalan dengan sendirinya (auto pilot).
Nama Roda Pantura, menurut Hizkia, mengandung arti tersendiri. Jika disingkat menjadi RP, cocok dengan setting film tersebut, yakni di masa krisis moneter.
"Saya ingin bercerita tentang sesuatu yang lokal, yang dekat dengan saya," ujar Hizkia, seraya mengatakan bahwa dua produser dari Prancis dan India sempat tertarik untuk mendanai film animasinya ini.
"Tapi, saya memilih untuk membuat dan memproduksinya sendiri karena hak cipta dan distribusinya," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/animasi-roda-pantura_20161121_101758.jpg)