Rabu, 13 Mei 2026

Sulit Ditemukan Ini Dia Perbedaan Jeruk Garut dengan Jeruk Keprok dan Siem

Tanaman asli dari kota intan itu sempat sulit ditemukan karena rusak diterpa abu Gunung Galunggung.

Tayang:
Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Ferri Amiril Mukminin
tribun jabar
Jeruk Garut 

LETUSAN Gunung Galunggung di Tasikmalaya tahun 1982 berdampak terhadap tanaman jeruk garut. Tanaman asli dari kota intan itu sempat sulit ditemukan karena rusak diterpa abu Gunung Galunggung.

H. Ilyas (62), salah seorang petani jeruk garut masih mengingat kejadian itu. Padahal ia baru satu tahun menanam jeruk. Saat letusan, tanaman jeruk baru berumur satu tahun lebih. Letusan gunung membuat puluhan tanamannya rusak.

"Dulu setiap pagi harus disiram tanamannya karena kena abu. Tapi tetap saja rusak tanamannya karena saking banyak abu," ujar Ilyas, warga Kampung Bojongkalapa, Desa Karangsari, Kecamatan Karangpawitan saat menceritakan pengalamannya kepada Tribun, Senin (19/9).

Setelah meletusnya Gunung Galunggung, lanjut Ilyas, jeruk garut banyak yang tak berbuah. Jeruk garut pun sempat sulit ditemukan. Bahkan hingga kini, diakui Ilyas jeruk garut yang asli sudah sulit ditemukan. Kebanyakan petani saat ini menanam jeruk keprok garut dan jeruk siem.

"Jeruk keprok itu sekarang disebutnya jeruk garut. Kalau yang dulu disebut jeruk garut sudah tidak ada kayaknya. Tapi karena sudah jadi ciri khas, sekarang jeruk keprok jadi disebut jeruk garut," katanya sambil menenteng sebilah golok menuju kebun jeruknya.

Menurut Ilyas, saat ini sentra jeruk garut memang masih terpusat di Kecamatan Karangpawitan. Para petani di Karangpawitan memang menjadikan jeruk garut sebagai potensi utama pertanian karena harganya yang menggiurkan.

"Satu kilo saja dijual dari petani ke bandar kisara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per kilo. Kalau di pasar bisa sampai Rp 30 ribu sekilonya," ucapnya.

Hanya saja, Ilyas mengeluhkan jeruk garut yang mudah terserang hama. Jika tak diserang hama, dari satu pohon jeruk bisa menghasilkan sampai satu kuintal. Namun karena sangat mudah terserang, hanya bisa dipanen 25 kilo.

"Berbagai cara sudah dilakukan. Semua insektisida sudah disemprotkan ke tanaman. Tapi tidak mempan. Ini yang masih jadi kendala petani," ujarnya.

Ilyas mengaku jika prospek jeruk garut sangat menjanjikan. Jika telah berumur dua tahun, jeruk sudah bisa dipanen. Tak ada musim untuk panen jeruk. Biasanya panen dilakukan antara 15 sampai 20 hari sekali. Jadi dalam satu tahun ia bisa berkali-kali meraup untung dari hasil kebunnya.

"Untuk jeruk garut saya punya 60 pohon. Dari jumlah itu setiap panen paling kecil 80 kilo dan paling banyak bisa sampai dua kuintal. Kalau mulus semua bisa panen sampai 60 kuintal cuma karena ada hama jadi sedikit," katanya.

Pemeliharaan jeruk garut pun sangat mudah. Dari 2.500 meter lahan miliknya, ia hanya perlu rajin memeriksa setiap pohon jika terserang hama. Hanya modal awalnya saja yang cukup menguras dompet.

"Satu pohon itu dari ditanam sampai berbuah butuh modal Rp 250 ribu. Jika sudah besar tak repot lagi. Tinggal nunggu panen saja," ucapnya.

Jeruk garut pun sangat dicari konsumen karena rasa asamnya yang membuat segar dan buahnya yang besar. Penjualannya kebanyakan ke luar daerah seperti Jakarta, Bandung, dan Bogor.

Kepala Desa Karangsari, Nurliana, mengatakan di wilayahnya terdapat sekitar 200 petani jeruk garut dengan luas lahan lebih dari 10 hektare. Jeruk garut pun menjadi produk unggulan dari wilayahnya

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved