Kamis, 9 April 2026

Kabar dari Purwakarta

Bupati Purwakarta : Kenapa . . . Jabar Banyak Warganya yang Miskin?

Belum lagi masalah pertambahan jumlah penduduk karena program KB tidak berjalan dengan baik

Penulis: Mega Nugraha | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUNJABAR/MEGA NUGRAHA
Ratusan warga Purwakarta mengikuti shalat gerhana matahari di Mesjid Baing Yusuf, kawasan Alun-alun Purwakarta, Rabu (9/3). Pada kesempatan itu, hadir pula Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha

PURWAKARTA,TRIBUNJABAR.CO.ID - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menjelaskan berbagai program pengentasan kemiskinan dijalankan pemerintah pusat hingga daerah. Namun, angka kemiskinan tak kunjung terselesaikan.

"Pendidikan dan kesehatan ini memang dua hal yang berbiaya tinggi dan menguras uang masyarakat. Makanya dua hal itu digratiskan supaya masyarakat tidak terbebani, pertanyaannya kenapa masih ada masyarakat miskin, sampai Jabar banyak warganya yang miskin?" ujar Dedi di Purwakarta, Rabu (16/6/2016).

Ia menganalisa, itu karena masyarakat digiring untuk jadi masyarakat konsumerisme secara terstruktur, bahkan oleh pemerintah sendiri. Semua penghasilan masyarakat dipakai untuk membeli barang-barang yang harusnya tidak dibeli. Misalnya, kebaikan orangtua membelikan atau mengkredit motor untuk anaknya yang masih di bawah umur.

"Misalnya, warga yang sudah terbiasa memasak dengan api kayu dibakar, dialihkan dan dipaksa supaya beli tabung gas 5 kg setiap bulan, beli pulsa untuk HP anak. Enggak beres-beres jadinya, miskin terus," ujar dia.

Belum lagi masalah pertambahan jumlah penduduk karena program KB tidak berjalan dengan baik. Ia mengklaim, pertumbuhan jumlah penduduk selama lima tahun terakhir masih normal.

"Buktinya penduduk Purwakarta saat ini masih di bawah 1 juta jiwa penduduk. Meski memang saya juga akui masih ada ada warga yang belum ber-KB," ujarnya.

Ia menambahkan di beberapa tempat di Purwakarta ia tidak memaksakan tabung gas dipasok bahkan ia menganjurkan agar warga di pinggiran tetap menggunakan kayu bakar.

"Di daerah-daerah pinggiran saya sih anjurkan pakai kayu bakar saja, orang di desa kayu banyak, jadi beban ekonomi kalau harus beli tabung gas," ujar dia. (men)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved