Menpar Yakin Pariwisata Bisa Atasi Masalah Kemiskinan
Selama ini orang hanya menghitung cultural aspec saja, belum menyentuh pada economic dan environmental.
Memang diantara panelis ada yang berbeda pendapat. Takafumi Ueda, dari Japan International Cooperation Agency. Dia memang berbeda mazhab dari Arief Yahya, yang konsisten dan percaya dengan angka-angka. Ueda memandang tourism dari sisi yang berbeda, yakni dari ilmu sosial. “Apakah dengan hadirnya banyak wisatwan, memenuhi hotel-hotel chain bertaraf internasional, menyumbangkan GDP terbesar buat negara, itu secara otomatis menyejahterakan? Bagiamana dengan dampak sosialnya?” kata Ueda.
Ya, memang di mana-mana selalu ada risiko. Apalagi bisnis? Selalu ada risiko, karena itu ada yang disebut risk calculate, yang tugasnya menghitung seberapa besar risiko dibandingkan dengan benefitnya. Chen Min’er, Party Chief of Guizhou Province, Tiongkok menjawab dengan gambang. “Pemerintah menciptakan peluang. Perusahaan membangun bisnis dan usaha. Masyarakat lokal senang menjadi pemasok barang dan jasa! Semua diuntungkan, semua enjoy," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/menpar-arief-yahya_20160523_114044.jpg)