Wisata Sejarah

Ereveld Leuwigajah Terpadat di Indonesia

Jasad yang dikuburkan di sana, kata Franky, terdiri atas orang berbagai agama, seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Yahudi.

Editor: Machmud Mubarok
NAZMI ABDURRAHMAN
Komunitas Tjimahi Heritage mengunjungi Ereveld Leuwigajah, taman makam kehormatan Belanda terpadat di Indonesia, yang berada di Kota Cimahi, Minggu (15/5). 

Laporan Wartawan Tribun, Nazmi Abdurrahman

CIMAHI, TRIBUNJABAR.CO.ID -  TAK banyak yang tahu, di belakang permakaman umum Leuwigajah, Kota Cimahi, terdapat sebuah Taman Makam Kehormatan Belanda (Ereveld Leuwigajah) yang berisi 5.200 jasad dari kamp tahanan semasa pendudukan Jepang dan serdadu Koninklijk Nederlandshe Indische Leger (KNIL), yang dikelola yayasan bernama Oorlogsgraven Stichting (OGS).

BERLATAR belakang pegunungan dan pepohonan rimbun, sebuah taman permakaman kehormatan Belanda tertata rapi dan menghampar luas. Begitu masuk ke taman ini, pengunjung bisa melihat monumen berupa prasasti bertuliskan "Ter eerbiedige nagedachtenis aan de vele ongenoemoen die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden", yang artinya, "Untuk mengenang dengan hormat mereka yang tak disebut tetapi telah mengorbankan dirinya dan tidak beristirahat di taman-taman kehormatan."

Di samping prasasti, terdapat dua buah pendopo yang berfungsi sebagai tempat mengisi buku tamu dan informasi seputar ereveld.
Jika berdiri di tengah, antara dua pendopo itu, pengunjung akan melihat hamparan nisan berwarna putih berjejer rapi, dilapisi rumput hijau di bawahnya. Tak ada kesan menakutkan atau angker seperti makam pada umumnya. Makam kehormatan Belanda ini justru lebih mirip taman yang sejuk dan nyaman.

Selain di Cimahi, taman makam kehormatan Belanda tersebar Asia Pasifik, Pulau Jawa, dan Pulau Ambon. Di Jawa, taman makam itu terbentang di Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Di Asia Pasifik, ereveld Belanda tersebar di Thailand, Myanmar, Singapura, Korea, Hong Kong, dan Australia.

Hampir di semua ereveld Belanda, tak sembarangan pengunjung diizinkan masuk, kecuali keluarga. Mereka yang ingin menikmati keindahan taman permakaman itu dalam bagian dari wisata harus minta izin terlebih dahulu ke kantor yayasan permakaman tersebut. Seperti yang dilakukan komunitas Tjimahi Heritage.

Sebelum mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi sejarah dan keindahan ereveld Leuwigajah, komunitas ini juga terlebih dulu mengajukan izin kepada yayasan pengelola permakaman.

"Ini memang bukan tempat wisata yang dibuka untuk umum. Jadi, kami meminta izin dengan mengirim e-mail kepada yayasan. Dua hari kemudian izinnya keluar," ujar Ketua Tjimahi Heritage, Machmud Mubarok, Minggu (15/5).

Menurut Machmud, ereveld Leuwigajah tidak termasuk dalam bangunan heritage. Namun, bagi warga Cimahi, sangat penting untuk mengetahui bagian-bagian terkecil sejarah Cimahi.

"Sebenarnya kami bisa banyak belajar dari makam, apalagi ini makam Belanda yang banyak menghiasi sejarah Indonesia sehingga tidak ada salahnya mengetahui sejarah mereka," katanya.

Menurut Machmud, dari kunjungan ke makam Belanda tersebut, komunitasnya juga jadi tahu ternyata bukan proses mudah untuk merawat makam agar bisa rapi dan nyaman. "Jika dibandingkan dengan makam yang ada di belakang ini, yang notabene dikelola oleh Pemerintah Kota, sangat jauh berbeda. Sangat-sangat kontras. Di sini sangat rapi, di sana bisa dilihat saja sendiri," ucapnya.

Ditemui di tempat yang sama, Franky Tuhumury (50), opzichter atau petugas Ereveld Leuwigajah, mengatakan, di tanah seluas tiga hektare itu terdapat 5.200 jasad, sekaligus menjadi ereveld terpadat di pulau Jawa.

"Ini diresmikan pada 20 Desember 1949. Isinya campuran orang Belanda dan Indonesia khusus bagi tentara KNIL yang dibunuh Jepang di tahun 1941-1945," ujar Frangky.

Jasad yang dikuburkan di sana, kata Franky, terdiri atas orang berbagai agama, seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Yahudi. Makam dari setiap agama dibedakan dari nisannya.

"Penganut Islam, nisan yang digunakan bagian atas agak bulat dan bawahnya lurus. Kristen nisannya berbentuk salib. Penganut Yahudi nisannya berbentuk bintang," katanya.

Menurut Franky, hampir setiap hari ada saja keluarga jenazah yang datang berziarah, termasuk dari Belanda, sehingga makam tersebut dijaga selama 24 jam oleh 13 petugas. Namun, kata Franky, biasanya keluarga korban ramai berkunjung pada Mei sampai Juni dan akhir tahun. "Karena pada bulan itu di sana (Belanda) sedang musim libur," katanya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved