Sabtu, 11 April 2026

Rumah Sakit Pasir Junghuhn, Rumah Sakit di Tengah Perkebunan Teh Berusia Hampir Seabad

Di ruangan persalinan, terdapat ranjang pasien, dua inkubator, sampai ranjang bayi antik yang semuanya terbuat dari kayu.

TRIBUN JABAR/M SYARIF ABDUSSALAM
Suasana di Rumah Sakit Pasir Junghuhn, Kampung Pasir Junghuhn, Desa Wanasuka, Kecamatan Pangalengan, Selasa (26/4). 

PANGALENGAN, TRIBUNJABAR.CO.ID - Hampir semua bagian bangunannya tidak pernah diubah, sejak didirikan 99 tahun lalu oleh Pemerintah Hindia Belanda. Rumah Sakit Pasir Junghuhn masih berdiri tegak dan beroperasi melayani kesehatan para karyawan di enam perkebunan PTPN VIII di Pangalengan dan Kertasari.

Di salah satu sudut rumah sakit ini, tepatnya di ruang perawatan khusus perempuan, Dede Kusmayati duduk di kursi kerjanya, menulis laporan perawatan dan catatan pasien dalam sebuah buku besar. Sesekali perawat perempuan berjilbab putih ini menengok keluar, melalui jendela kayu dari ruangannya.

Sore itu terlihat awan mendung bergelayut, dengan angin sejuk masuk ke dalam ruangan melalui jendela-jendela besar. Kawasan sekitar rumah sakit ini merupakan perkebunan teh dan permukiman para pemetik teh. Karenanya, suasana tenang pun dapat dirasakan di lingkungan rumah sakit ini.

Di hadapan Dede, berderet 25 ranjang yang terbuat dari besi dan kayu, dengan kasur kapuk di atasnya. Hari itu, tidak ada pasien perempuan yang dirawat di ruangan tersebut. Namun demikian, Dede dengan rutin menjaga kebersihan ruangan dan ranjang-ranjangnya. Hal ini tampak dari ruangan yang bebas debu, sedangkan aroma alami pohon pinus dari luar masuk ke ruangan melalui jendela.

Dinding ruangan ini bercat putih dengan rangka kayu yang dicat abu-abu. Rangka-rangka kayu yang tersambung secara vertikal, horizontal, dan diagonal ini, mirip dengan struktur dinding bangunan-bangunan di kota tua di Jerman dan Belanda.

Terdapat sedikit bagian tembok yang jebol akibat gempa bumi di Pangalengan beberapa tahun lalu. Dari lubang di tembok tersebut, barulah diketahui dinding ini tidak terbuat dari susunan batu-bata, melainkan dari anyaman bambu yang ditutupi dengan adukan semen atau kapur. Walaupun demikian, struktur bangunan ini mampu membuatnya bertahan dalam usianya yang ke-99.

Selesai dengan laporannya, Dede berjalan keluar ruangan. Melewati koridor dengan atap seng bergelombang, Dede bergegas ke ruang bersalin di sebelahnya. Dede membuka pintu kayu ruangan tersebut dengan anak kunci yang terlihat kuno. Saat itu, dirinya hendak mempersiapkan kamar untuk pasien melahirkan.

Di ruangan persalinan, terdapat ranjang pasien, dua inkubator, sampai ranjang bayi antik yang semuanya terbuat dari kayu. Semua barang di ruangan ini bercat putih, termasuk timbangan bayi manual yang juga berusia lebih tua dari usia kemerdekaan Indonesia, sama seperti benda-benda lain di ruangan ini.

Sambil membereskan kasur bayi dengan ranjang kayu berukir, Dede teringat bahwa dirinya pun dilahirkan di rumah sakit tersebut, 52 tahun lalu. Dede juga teringat saat dirinya pertama kali bertugas di rumah sakit ini sebagai perawat, 32 tahun lalu. Saat itu, rumah sakit tengah dipenuhi pasien yang menderita infeksi pernapasan.

"Rumah sakit ini melayani karyawan PTPN VIII di perkebunan teh Pasirmalang, Kertamanah, Malabar, Purbasari, Talun Santosa, dan Sedep. Rumah sakit sedang kosong, hanya ada beberapa pasien pria," kata Dede saat ditemui di tempat bernama Rumah Sakit Pasir Junghuhn tersebut di Kampung Pasir Junghuhn, Desa Wanasuka, Kecamatan Pangalengan, Selasa (26/4).

Kepala Ruangan Rumah Sakit Pasir Junghuhn, Elis Maryati (52), mengatakan rumah sakit ini mengambil nama dari kampung tempatnya didirikan. Nama kampung ini memang unik karena memuat nama belakang seorang ahli botani dan geologi asal Belanda yang lahir pada 1809, Franz Wilhelm Junghuhn. Padahal biasanya, nama kampung di Tatar Sunda berasal dari bahasa Sunda.

"Junghuhn memang menanam kina di Kampung Babakan Kina, dekat Kampung Pasir Junghuhn. Rumah sakit ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1917. Dokter yang terkenal saat itu, dr Wieder. Rumah sakit ini sejak dulu untuk pengobatan dan perawatan kesehatan para karyawan perkebunan," kata Elis.

Semua bangunan rumah sakit ini, katanya, masih asli, belum mengalami perombakan sejak didirikan pertama kali. Atapnya masih berupa seng bergelombang, sedangkan dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu tebal, kayu, dan kapur, masih mampu menahan hawa dingin masuk ke dalam ruangan. Hanya lantai yang kini dilapisi keramik.

Selain ruang persalinan dan ruang perawatan perempuan, rumah sakit ini memiliki ruang administrasi, pendaftaran, klinik, ruang perawatan pria, dan ruang-ruang kebutuhan rumah sakit lainnya. Semuanya dihubungkan melalui koridor beratap dan dipisahkan taman-taman berbunga. Rumah sakit ini memiliki 52 karyawan, yang terdiri atas karyawan bagian administrasi, dokter, ahli gizi, apoteker, perawat, analis, dan pegawai lainnya.

"Dokternya tinggal tiga yang bertugas. Sekarang fungsinya seperti balai pengobatan dengan tempat perawatan saja. Sejak 2006, kebanyakan operasi besar dilakukan di rumah sakit rujukan. Sudah banyak juga puskesmas di sekitar kawasan perkebunan ini. Pasien makin sedikit, semoga semuanya memang sehat-sehat," kata Elis yang juga telah bertugas selama 32 tahun ini.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved