Success Story
Bangga Penuhi Pesanan Istana
Siapa sangka, ternyata karpet tersebut dibuat di sebuah pabrik di Kampung Cibatu, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
Penulis: Taufik Ismail | Editor: Hermawan Aksan
SIAPA saja tamu negara yang berkunjung ke Istana Negara akan berjalan di atas karpet merah. Siapa sangka, ternyata karpet tersebut dibuat di sebuah pabrik di Kampung Cibatu, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
Di Cibatu, terdapat sebuah bangunan cukup besar yang memanjang. Di tempat ini, PT Opus Mekar Indah memproduksi karpet-karpet pesanan, termasuk pesanan dari Istana Negara.
Saeful Rahman, penanggung jawab lapangan PT Opus Mekar Indah, mengatakan, pada awalnya mereka membuka pabrik di kawasan Bekasi. Bertahun-tahun proses produksi dilaksanakan di sana, mereka pun kemudian memilih untuk membuka pabrik di kawasan Bandung.
"Pertama pindah ke Bandung, kami buka di Padalarang. Lalu sekitar tujuh bulan lalu kami pindah ke Cilame," katanya kepada Tribun, Sabtu (13/2).
Bukan tanpa alasan mengapa proses produksi dialihkan ke Bandung. Karena hampir semua bahan baku didapat dari Bandung. Mulai kanvas, leno, benang, hingga lateks didapat di Bandung. Ini tentunya bisa memangkas biaya operasional.
"Kalau yang di Bekasi sekarang untuk pemasaran. Produksi semuanya di sini," ucap Saeful.
Yang unik, karpet-karpet di sini dikerjakan secara manual. Dari proses awal hingga akhir, semuanya dikerjakan oleh tangan manusia. Karenanya, karpet buatan mereka punya ukuran yang tak terbatas. Tak seperti karpet di pasaran yang ukuran dan motifnya sudah ditentukan.
Saat Tribun melihat proses produksi, mereka sedang mengerjakan karpet berukuran 20x30 meter. "Kalau ada yang pesan, karpet seukuran lapangan sepak bola pun bisa dibuat," ujar Saeful.
Ihwal karpet mereka masuk istana, Saeful mengatakan ada empat investor yang mem-back up. Keempat investor itu adalah Samsul, Uha, Oyat, dan Pepep. Para investor ini bergerak dan bisa mendapat pesanan dari Istana Kepresidenan.
"Untuk yang di istana, ukuran karpetnya 318 meter persegi. Itu untuk di ruangan belakang dan depan. Kemudian ada juga karpet merah untuk menyambut tamu negara," kata Saeful. Pesanan ini diserahkan pada Januari 2016.
Karena untuk di Istana Negara, bahan yang digunakan pun tak main-main. Pihak istana memesan karpet berbahan wol.
Saeful menambahkan, wol memang punya beberapa keunggulan. Di antaranya halus dan tidak mudah terbakar.
"Karpet Istana Negara memang cukup rumit karena dalam motifnya ada tujuh warna. Tapi alhamdulillah, tenggat waktu satu bulan bisa kami penuhi," ucapnya.
Selain Istana Negara, karpet-karpet produksi Saeful dan kawan-kawan sudah bertebaran di berbagai tempat. Beberapa kantor pemerintahan, hotel, serta masjid memesan karpet dari mereka.
Misalnya saja Pemkab Bandung, masjid di Palembang, Bekasi, dan Tasikmalaya, sebuah hotel ternama di Cilacap dan tempat-tempat lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/saeful-rahman_20160214_064513.jpg)