Succes Story

Sapah A Karaton Berprestasi Berkat Pertahankan Konsep Ahadiat Hotel & Bungalow

Ia mengaku bersyukur hotelnya mendapatkan penghargaan di saat makin maraknya hotel-hotel baru dengan konsep modern.

Sapah A Karaton Berprestasi Berkat Pertahankan Konsep Ahadiat Hotel & Bungalow
TRIBUN JABAR
Sapah A Karaton.

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah

ANUGERAH Pesona Pariwisata Kota Bandung 2015 memberikan penghargaan kepada Ahadiat Hotel & Bungalow untuk kategori salah satu hotel bintang 2 terbaik. Penghargaan tersebut diapresiasi Sapah A Karaton (82), pemilik Ahadiat Hotel & Bungalow. Ia mengaku bersyukur hotelnya mendapatkan penghargaan di saat makin maraknya hotel-hotel baru dengan konsep modern.

"Hotel kami masih mengusung hotel gaya lama. Kami tetap mempertahankan konsep hijau atau banyak pohon dan tanaman, dan ini tetap kami pertahankan sampai sekarang," kata perempuan yang masih terlihat sehat dan bugar di usia 82 tahun itu saat ditemui di Ahadiat Hotel & Bungalow, Jalan Sindang Sirna Elok, belum lama ini.

Menurutnya, hotel yang didirikan almarhum suaminya, Ahadiat Sadikin, ini mengutamakan kebersihan dan keasrian di lingkungan hotelnya, selain tentu pelayanan. Namun yang paling diperhatikan adalah kebersihan 60 kamar di hotel tersebut. "Kesederhanaan tetap kami pertahankan. Salah satunya dari cat, semua warna yang sederhana, warna-warna alam," kata perempuan yang mengaku cerewet soal kebersihan hotel ini.

Soal bisnis hotel, Ahadiat mulai membeli tanah di tahun 1968 seluas 1.000 meter dengan harga Rp 2.000 per meter. Secara bertahap tanah-tanah di sekitar Jalan Sindang Sirna dibeli hingga kini tanah seluas sekitar 19.600 meter persegi sudah dijadikan hotel yang didirikan tahun 2004 tersebut. Hotel dibangun dalam dua versi, yakni hotel dan bungalo. Perbedaan hotel ini dibanding hotel lainnya adalah adanya danau di tengah-tengah bungalo dan hotel yang berfungsi sebagai penyerapan atau penampungan air sekaligus tempat pemancingan. Adanya bungalo menjadikan hotel ini sebagai satu-satunya hotel yang memiliki bungalo di Kota Bandung.

Mengenai persaingan bisnis, menurut Dodi Ahmad Sofyandi, anak sulung Ahadiat, hotel yang memiliki 60 karyawan ini masih bisa bersaing di tengah maraknya hotel modern dengan harga murah. Meski diakui ada penurunan hunian, pihaknya optimistis masih banyak wisatawan yang membutuhkan hotel yang asri dan nyaman.

"Dulu saat hotel masih sedikit, okupansi weekday saja bisa 60 persen. Sekarang turun 20 persen, apalagi saat ada pelarangan penggunaan hotel untuk kegiatan mice. Kalau weekend hunian bisa 80 persen, tapi kalau lagi sepi ya sepi," katanya.

Melihat bisnis perhotelan saat ini, pihaknya berharap pemerintah Kota Bandung bisa memberikan batasan pembangunan hotel baru karena jumlah tamu yang datang tidak lagi seimbang dengan keberadaan hotel. Ditambah, makin banyak rumahatau kos yang beralih fungsi untuk disewakan sebagaimana hotel, termasuk apartemen yang seharusnya sebagai tempat hunian menjadi penginapan.

Anugerah Pesona Pariwisata Kota Bandung merupakan apresiasi dari Pemerintah Kota Bandung kepada insan pariwisata, seperti restoran, hotel, objek wisata, dan biro perjalanan di Kota Bandung. Penilaian dilakukan oleh berbagai instansi seperti Dinas Kesehatan, Dinas Tenaga Kerja, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Penilaian dilakukan di antaranya terhadap pelaksanaan sapta pesona (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, kenangan), K3 (ketertiban, kebersihan, keindahan). Termasuk taat membayar pajak, perbaikan sumber daya manusia, pelayanan yang baik, serta kreativitas. Penghargaan ini merupakan pengakuan dari pemkot kepada insan pariwisata di Kota Bandung yang berprestasi, dan dinilai oleh tim juri yang independen. (*)

Penulis: Siti Fatimah
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved