Success Story

Berawal dari Patungan Rp 200 Ribu

Di tangan Lismita Maya dan Winny Witana, totebag dibagi menjadi tiga jenis, totebag, pounch, dan dwastring. Ketiganya memiliki fungsi masing-masing.

Editor: Hermawan Aksan
TRIBUN JABAR
Lismita Maya dan Winny Winata 

NAMA totebag belakangan sempat naik daun. Dikenal sebagai pendamping tas, totebag mulai digemari masyarakat. Di tangan Lismita Maya dan Winny Witana, totebag dibagi menjadi tiga jenis, totebag, pounch, dan dwastring. Ketiganya memiliki fungsi masing-masing.

Perempuan dengan model rambut bob itu terlihat semringah. Sembari mempersilakan Tribun masuk, dengan ramah ia menunjukan beberapa karyanya yang terpajang rapi di outletnya, di Jalan Jalaprang, Nomor 13, Kota Bandung.

Kesan simple, edgy dan chic nampak sekali di totebag karya Lismita Maya yang ia beri nama whitebag, ''Bahan utamanya blacu, kanvas dan karung goni,'' ujarnya.

Karya whitebag itu tak diperoleh secara instan dan langsung sukses. Lismita membutuhkan waktu tujuh tahun agar bisa eksis seperti sekarang.

Usahanya bermula dari kesukaan Mita panggilan akrab Lismita terhadap tas. Bahkan, alumni Pendidikan Bahasa Perancis di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini sudah merencanakannya sejak masih kuliah.

"Dulu dosen saya pernah nanya, mau kerja di mana nanti, aku jawab aja mau jualan tas," ucapnya sambil tertawa.

Kini, berjualan tas bukan hanya sebuah rencana. Mita berhasil mewujudkannya, dengan brand bernama whitebag, sebuah merek tas berbahan kanvas dengan warna dominan putih dipadukan dengan berbagai desain berupa quotes dan lukisan khas whitebag.

Selain tas, Mita juga mengembangkan produknya dengan mengeluarkan side project, berupa wall decoration.

"Dimulai dari awal bulan puasa kemarin. Karena kita juga suka sama wall decoration," ucap Mita

Omzet puluhan juta rupiahpun mengalir ke kantongnya setiap bulan. Lantaran ingin terjun ke dunia usaha, Mita memutuskan keluar dari pekerjaannya dan mulai merintis bersama sahabatnya Winny Witana.

"Kita temen dari SD SMP dan kebetulan punya passion yang sama," ucap Mita.

Dengan modal Rp 400 ribu, hasil patungan masing Rp 200 ribu, Mita dan Winny mulai merintis bisnis tas sejak akhir 2011.

Awalnya, whitebag dipasarkan terbatas pada rekan-rekannya. Waktu itu, produksinya masih satuan. "Dulu itu masih pre-order, customer ngasih desainnya lalu kita kerjain. Makin kesini banyak pesan dalam jumlah banyak," tutur Mita. Dari sanalah, Mita dan Winny memutuskan untuk membeli mesin jahit sendiri karena mulai yakin produknya akan mendapat respon baik di pasar.

Untuk pengembangan jaringan penjualan, kedunya sepakat memanfaatkan jaringan media sosial, seperti Facebook, Blackberry Messenger, Line dan Website sebagai kepanjangan tangannya menjajakan barang. "Pemasaran sudah hampir se Indonesia, Singapura, Malaysia, bahkan ke Amerika," kata Mitha.

Penjualannya pun terus bertumbuh. Bahkan, sempat pula karena permintaan mengalir deras, banyak konsumen masuk daftar tunggu (waiting list).

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved