Inspirasi Bisnis
Tas Pelepah Pisang Dijual Hingga ke Yunani
Nama Omorfa Matia memiliki arti mata yang indah, yang diambil dari bahasa Yunani. Nama itu sesuai dengan konsep yang diusung Budi, yakni memadukan art
TRIBUNJABAR.CO.ID - BEBERAPA tas dengan warna kuning keemasan tertata rapi dalam lemari, di sekelilingnya, di atas meja memanjang, terdapat gelang, binder dan kotak tisu. Ruang tamu rumah di daerah Margahayu Raya Barat, Kota Bandung, tersebut tampak seperti sebuah toko.
Barang-barang berbahan dasar pelepah pisang tersebut merupakan karya Budi Krisnandi, pemilik Omorfa Matia. Omorfa Matia merupakan salah satu bisnis kreatif yang digagas Budi, lulusan Manajemen Universitas Padjadjaran.
Nama Omorfa Matia memiliki arti mata yang indah, yang diambil dari bahasa Yunani. Nama itu sesuai dengan konsep yang diusung Budi, yakni memadukan art dan etnik dengan mengandalkan bahan lokal pelepah pisang. Budi mengatakan, awal pertama menciptakan produk dari pelepah pisang justru didasari ketidaksengajaan, saat ia berkunjung ke sebuah pameran, setahun lalu.
"Di sana (pameran-Red) saya melihat perajin pelepah pisang yang unik," ujarnya saat berbincang dengan Tribun, pekan lalu.
Mulai saat itu, Budi mencoba konsultasi dengan perajin pelepah pisang untuk menciptakan tas dan aneka cendera mata lainnya. "Pertama produksi responsnya ternyata bagus," katanya.
Sadar produknya memiliki potensi, Budi pun menciptakan prodak lainnya, seperti dompet, sampul paspor, binder, cover mug, kotak tisu dan gelang. Bahkan, beberapa produknya ada yang dibuat khusus limited edition dengan menggandeng pelukis, untuk menggoreskan lukisan dengan motif etnik di tas dan gelang produknya.
"Kalau itu (limited edition) harganya bisa sampai empat kali lipat dan peminatnya banyak banget," ujarnya.
Untuk kisaran harga tasnya sendiri dibanderol mulai Rp 180 ribu sampai Rp 300 ribu, kotak tisu Rp 75 ribu sampai Rp 150 ribu, dan binder Rp 70 ribu. Sedangkan untuk harga tas yang berkolaborasi dengan lukisan bisa sampai empat kali lipat dari harga normal.
"Itu juga tergantung senimannya, kalau senimannya sudah terkenal harganya bisa naik lagi," katanya.
Untuk promosi Budi masih menggunakan media online instagram dan facebook. Meski begitu, dalam satu bulan rata-rata Budi dapat menjual hingga 100 tas lebih. "Ke luar negeri seperti Athena, Jepang dan Melbourne juga pernah, tapi dari teman ke teman sih, bukan ekspor,"katanya.
Saat ini Budi masih membidik pasar lokal, sebagai target pasarnya. Menurutnya, konsumen lokal mulai menghargai produk lokal. "Trennya lagi bagus, apalagi tahun depan kita sudah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), kita pengen jadi tuan rumah di sini, sambil nanti ekspansi keluar negeri juga," tuturnya.
Pria yang aktif di Komunitas Tangan di Atas (TDA), ini berpendapat jika ingin memulai usaha, salah satu kuncinya adalah harus tekun dan tahu masalah konsumen.
"Bisnis itu harus punya produk yang menyelesaikan masalah. Jadi, produknya bisa memberikan solusi itu Gabung dengan komunitas juga penting. Karena di sana kita akan banyak belajar. Terutama dari pengusaha yang sudah sukses," katanya. (bb)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/tas-pelepah-pisang_20150917_091828.jpg)