Success Story
Desain Eksklusif bagi Setiap Pelanggan
Pelanggan Jeng Ditz paling berkesan adalah Atalia Ridwan Kamil, istri wali kota Ridwan Kamil.
Penulis: cr3 | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUNJABAR.CO.ID - JENG Ditz sebagai label Agustin Dita sudah berumur empat tahun. Setiap tahunnya, Dita memasang strategi pemasaran dengan mengikuti berbagai pameran.
"Sesuai dengan konsep soft marketing, saya memasarkannya lewat komunitas Creative Fashion Society, sketsa serta foto yang dipajang di Instagram dan Facebook. Jadi, pemesan kebanyakan datangnya lewat rekomendasi mulut ke mulut," ujar Dita yang sebelumnya pernah bekerja sebagai arsitek dan visual merchandiser.
Selain Bandung, pemesan berasal dari berbagai kota, di antaranya adalah Jakarta, Balikpapan, Purwakarta, Bogor, Batam, Surabaya, Bali dan bahkan dari Singapura.
Pelanggan Jeng Ditz paling berkesan adalah Atalia Ridwan Kamil, istri wali kota Ridwan Kamil. "Kalo Atalia Ridwan Kamil fitting-nya pasti cepet banget. Ya, ibu pejabat kan jadwalnya padat, tetapi untungnya sampai sekarang masih menjadi pelanggan tetap," tutur Dita.
Jeng Ditz ini bersifat custom, artinya setiap konsumen dapat memesan khusus desain, bahan hingga ukurannya. "Ibu-ibu umur 30-an kan banyak yang badannya tambah lebar karena hamil dan melahirkan, jadinya harus disesuaikan," paparnya.
Setiap pemesan diperlakukan spesial, tiga alternatif desain yang secara eksklusif disiapkan sesuai dengan permintaan pemesan. "Jika pemesan memesan satu buah baju, maka saya harus membuat sketsa hingga tiga desain," ujar Dita, yang setiap bulannya dapat menciptakan hingga 200 desain pakaian batik.

Agustin Dita
Setiap desain diperlakukan eksklusif, tiga desain tersebut khusus diberikan kepada pelanggan pada setiap pesanannya. Hasil desain pun tidak akan dibuat kembali, sehingga pelayanan konsumen lebih spesial.
"Pelanggan pasti diberikan rekomendasi motif, bahan dan desain yang cocok untuk bentuk tubuhnya. Untuk bahan dan motif batik, saya biasanya belanja langsung ke perajinnya. Saya pernah hunting bahan di banyak kota, contohnya adalah Madura, Banjarmasin, Garut, Cirebon, Jogja, Solo, Indramayu khusus untuk mencara bahan dan motif batik," tambahnya.
Lucunya, permintaan pemesan bisa saja menghasilkan desain yang aneh. "Pernah ada pemesan dari perusahaan untuk menulis nama perusahaan dengan cara ditulis, hasilnya adalah buram. Yang kayak gitu kan biasanya dicap kayak batik non-tulis," ungkapnya.
Hasil desain Dita pun menggunakan kombinasi motif yang unik. Contohnya adalah motif Batik Garut dan Madura yang dipadukan dalam Dress.
Hasilnya adalah paduan unik motif batik tradisional dalam desain modern. Jeng Ditz memang menyediakan desain dress, tunik, kebaya, kemeja pria-wanita, blazer.
"Ada juga sebenarnya sih yang dipesan ama toko retail, cuman ya gak pake label Jeung Ditz. Jeung Ditz memang lebih terfokus pada pelayanan custom design," ujar Dita, yang menyediakan desain untuk toko online maupun offline di Bandung dan Jakarta.
"Batik tulis dan sutra pun bisa dipesan, cuman saya harus hunting dulu bahannya," tambah Dita, yang memiliki supplier kain batik tetap dari Bandung, Garut, Jogjakarta dan Madura.
Permintaan bahan khusus mencapai 30 % dari pesanan setiap bulannya. "Biasanya untuk hunting bahan, kalaupun keluar kota, diantar suami atau sekalian aja maen ama keluarga," tambah Dita, yang kini sanggup memberdayakan kreativitas tiga penjahit di studio miliknya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/agustin-dita-pengusaha-fashion-bandung-2_20150809_113022.jpg)