Rabu, 15 April 2026

Longsor Cibitung

Ngeri Terjadi Longsor Seperti Cibitung, Wabup Garut Akui Sudah Antisipasi

Secara kasat mata, katanya, pembangunan di kawasan Darajat sangat rawan terkena bencana.

TRIBUN JABAR / FIRMAN WIJAKSANA
Evakuasi korban longsor Cibitung, Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan mulai dilakukan, Rabu (6/5/2015). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

GARUT, TRIBUNJABAR.CO.ID - Longsor seperti di Kampung Cibitung, Pangalengan, Kabupaten Bandung yang memutuskan pipa geothermal, menghancurkan sejumlah rumah, serta menyebabkan korban jiwa, berpotensi terjadi di kawasan Darajat, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut. Untuk mengantisipasinya, Pemerintah Kabupaten Garut segera menertibkan bangunan-bangunan di kawasan Darajat.

Awalnya, pipa-pipa uap PT Chevron Geothermal Indonesia hanya berdampingan dengan lahan pertanian dan hutan di kawasan Darajat. Namun, dengan semakin maraknya wisata air panas di Darajat, kolam renang, penginapan, tempat makan, dan toko, semakin banyak dibangun di Darajat.

Bangunan-bangunan ini didirikan secara sporadis dalam waktu cukup singkat di sekitar tebing curam, pinggir sungai, bahkan bersebelahan dengan pipa geothermal. Bangunan-bangunan ini pun berpotensi atau bahkan telah terkena longsor beberapa waktu lalu.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengatakan tahun lalu, Bupati Garut Rudy Gunawan sudah mengantisipasinya dengan memberlakukan moratorium penghentian pembangunan dan pengembangan wisata di Darajat.

Helmi mengatakan telah memohon Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk membuat kajian secara menyeluruh terhadap kawasan Darajat berdasarkan aspek vulkanologi dan geologi. Terutama, katanya, dampak bencana dari pembangunan yang sporadis di kawasan puncaknya.

"Kami masih menunggu rekomendasi dari PVMBG sebagai hasil kajiannya. Nantinya, rekomendasi ini akan dijadikan salah satu dasar utama dalam menertibkan pembangunan dan aktivitas di kawasan Darajat. Sebagai dasar sebelum kita bertindak lebih jauh," kata Helmi, Rabu (6/5).

Secara kasat mata, katanya, pembangunan di kawasan Darajat sangat rawan terkena bencana. Dalam kondisi ekstrim, bangunan-bangunan didirikan di atas bukit atau bahkan bibir tebing. Hal ini dapat menimbulkan longsor dan kerusakan alam.

"Bupati sejak awal tidak setuju dengan pembangunan wisata yang tanpa izin di darajat. Bahkan bilang akan ditutup. Berdasarkan RTRW, pembangunan kawasan wisata di Darajat sangat menyalahi aturan dan akan membahayakan," katanya.

Penyelesaian masalah di Darajat ini, katanya, harus secara menyeluruh. Dampak sosiologis dan ekonomi warga Darajat dari penutupan kawasan wisata, katanya, harus juga diperhatikan dan dipikirkan.

"Semua harus dipikirkan secara matang. Ada warga yang menggantungkan hidupnya dari sektor wisata di Darajat. Jadi selain menunggu rekomendasi PVMBG, kami memikirkan seluruh dampak penutupan kawasan ini," ujar Helmi.

Sekitar dua tahun lalu, kawasan wisata air panas Darajat di Kecamatan Pasirwangi diliputi pemandangan hamparan lahan pertanian sayuran. Namun kini, pemandangan longsor di sejumlah titik terlihat jelas di sekeliling kawasan wisata tersebut.

Lokasi-lokasi longsor ini sebagian besar terdapat di kawasan pertanian sayuran berupa perbukitan dan tebing pinggir sungai atau jalan. Longsor ini membuat air sungai-sungai di perbukitan yang biasanya jernih menjadi berwarna coklat.

Longsor terakhir terjadi pada 4 April 2015 di Kampung Darajat di Desa Padaawas. Longsor ini dipicu oleh banjir bandang yang terjadi pada sungai kecil yang mengikis tebing di sebelahnya.

Lokasi longsor dan banjir bandang ini bersebelahan dengan sebuah tempat wisata air panas dan sebuah lokasi pembangunan tempat penginapan baru. Lumpur dan batang-batang pohon tumbang pun masih nampak di kawasan wisata tersebut.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved