Komunitas Aquascape Bandung
Mencari Bahan dari Alam Lebih Irit
SELAIN sebagai hobi, Aquascape juga bisa dinikmati sebagai freelance bisnis.
SELAIN sebagai hobi, Aquascape juga bisa dinikmati sebagai freelance bisnis. Karena menurut Rizal, tidak semua orang mampu membuat aquascape-nya sendiri dengan beberapa alasan. Salah satunya adalah alasan ekonomis, misal karena mahalnya bahan, terutama jika kita tidak mau repot membuat tau menata aquascape itu sendiri.
Namun, membuat sebuah aquascape memang tidak murah, "Biasanya kalau mau langsung jadi dekorasi aquascape-nya tinggal pesan ke tempat khusus aquascape dan merogoh kocek minimal Rp 250 ribu hanya untuk kotak akuarium ukuran sedang (40 cm x 25 cm)," ungkap Rizal.
Untuk bahan aquascape-nya sendiri tidak sulit untuk dicari. Di daerah Bandung, kita bisa menemukan penjual perlengkapan aquascape di Jalan Anggrek, Jalan Kresna, Jalan Karapitan, atau di Pasar Ikan Muara di daerah Tegalega. "Harganya juga bermacam-macam, mulai dari Rp 5.000 hingga jutaan rupiah," tambahnya.
Meski begitu, Rizal menuturkan, ada cara lain yang dapat dilakukan jika tidak ingin banyak mengeluarkan uang untuk membuat aquascape sederhana. Misalnya dengan mencari bahan-bahan yang tersedia di alam terbuka seperti pasir pantai, tanaman air liar, batu-batu sungai, kayu bonsai, dan lain sebagainya. Hal itu biasa ia lakukan sehingga pembuatan aquascape miliknya bisa dicapai dengan uang jajan mahasiswa.
Aquascape sendiri lebih fokus pada tanaman-tamanan yang ditata seindah mungkin di dalam akuarium, sehingga hewan air merupakan unsur sekunder atau pelengkap. Disebut sebagai bahan sekunder karena tanpa hewan air pun aquascape sudah dapat dinikmati oleh para penikmatnya. Namun, dalam praktiknya setiap aquascape selalu memakai hewan air untuk melengkapi dekorasi yang ada.
"Di sisi lain, adanya hewan air itu akan menciptakan ekosistem mini yang saling berkelanjutan. Karena ketika tanaman air mengeluarkan oksigen sebagai hasil dari fotosintesis, maka ikan membutuhkannya untuk proses respirasi/pernapasan. Kemudian ketika ikan mengeluarkan karbondioksida dari proses respirasi maka tanaman air membutuhkannya untuk proses fotosintesis, dan begitu seterusnya," jelas pria yang pernah memenangkan lomba Aquascape di Pameran Ikan Hias Cibinong 2011 lalu.
Selain sebagai media kreativitas bagi kita karena dapat kita bentuk sendiri, aquascape juga data dijadikan sebagai salah satu cara melatih keterampilan dan pengetahuan tentang biota air. Sehingga bukan tidak mungkin jika kita dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.
"Dengan aquascape kita juga bisa belajar bagaimana menghargai alam yang lebih luas cakupannya dibanding aquascape itu sendiri. Dalam prosesnya, aquascape memprioritaskan keindahan membuat taman di dalam air namun berakibat fatal apabila tidak memperhatikan kondisi lingkungan ekosistemnya. Apabila salah satu unsur ekosistemnya terganggu, maka bisa merusak semuanya. Unsur tersebut terdiri dari tanah/pasir, cahaya matahari, ketersediaan air, aliran air, CO-2 untuk tanaman, serta oksigen untuk ikan atau biota air lainnya. Semua itu saling terkait untuk keberlangsungan hidup suatu ekosistem," tutur Rizal. (tj3)