Komunitas

PTM Voker, Wadahi Bakat Terpendam

KOMUNITAS yang satu ini boleh dibilang sangat unik. Ada yang merupakan mantan petinju juara dunia. Wow, bukan main!

Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Hermawan Aksan

KOMUNITAS yang satu ini boleh dibilang sangat unik. Betapa tidak, para anggotanya yang menyukai olahraga yang sama, datang dari latar belakang berbeda, dari mulai pelajar, warga sekitar hingga pengusaha. Bahkan ada yang merupakan mantan petinju juara dunia. Wow, bukan main!

Komunitas penggemar tenis meja ini menamakan diri mereka sebagai PTM Voker yang mewadahi bakat-bakat terpendam warga sekitar yang memiliki latar belakang dan usia berbeda akan hobi melakukan olahraga tenis meja. Alhasil dengan memiliki hobi dan kesenangan yang sama, terbentuklah wadah komunitas yang bertujuan mulia yaitu ingin memberikan sumbangsih terhadap keberadaan olahraga tenis meja di masa yang akan datang meski, untuk saat ini, kelompok ini bukanlah merupakan sebuah perkumpulan profesional.

PTM Voker sendiri berdiri belum terlalu lama yaitu pada pertengahan tahun 2014 ini. Wadah ini berdiri atas prakarsa tokoh warga di Kompoleks Pharmindo Jalan Kalasan II No 74 yaitu Henry Chaniago yang melihat keberadaan tenis meja yang seolah terbengkalai dan tak diperhatikan oleh pemerintah.

Secara kebetulan Henry berteman dengan mantan petinju Juara Dunia Kelas Bulu WBA asal Bandung, Soleh Sundava yang ternyata memiliki minat yang sama terhadap hobi ber-tenis meja.

"Saya ngobrol-ngobrol dengan Soleh, bagaimana jika kita membentuk wadah untuk merangkul para pehobi tenis meja ini. Tidak jauh-jauh dari warga sekitar sini aja dulu," tutur Henry kepada Tribun beberapa waktu lalu.

Soleh sendiri yang saat itu tidak memiliki keahlian khusus soal tenis meja langsung menyanggupinya. Dia melihat ide sahabatnya ini sebagai ide brilian yang bisa turut membantu pemerintah dalam mengembangkan keberadaan olahraga tenis meja.

"Saya langsung aja setuju saat diajak untuk membentuk wadah ini," timpal Soleh yang mendampingi Henry saat itu.

Setelah berkutat dengan ide, Henry dan Soleh pun mulai sibuk mencari tempat yang cocok untuk mewadahi. Didapatlah dua tempat yang dianggap cocok yaitu di kawasan Pharmindo di rumah Henry sendiri serta di kawasan Jatayu.

"Saya hanya memanfaatkan ruang seadanya, yaitu halaman rumah untuk para anggota bermain ping pong," ujar Henry.

Meski dengan fasilitas seadanya, namun dari hari ke hari, kata Hendry, anggota yang berminat untuk bergabung kian bertambah. Semula yang menjadi anggota adalah hanya warga sekitar, namun semakin kesini, anggota yang bergabung bertambah dari luar kawasan Phaarmindo.

"Anggota sudah puluhan, itupun kami hanya share lewat Facebook aja, belum kemana-mana. Anggota berasal dari beberapa daerah Bandung, Cimahi dan lain-lain. Juga dari latar belakang yang berbeda, ada warga biasa, pegawai, olahragawan, hingga pedagang. Mulai anak-anak hingga dewasa dan tua," katanya.

Menurut Henry, wadah ini terbuka untuk siapa saja yang berminat gabung. Namun ke depannya, Hendy dan Soleh memiliki keinginan kuat untuk konsentrasi ke pembinaan anak-anak usia dini.

"Selama ini perhatian pemerintah kurang terhadap olahraga tenis meja. Saya sangat miris melihatnya, hal ini sungguh jauh berbeda dibandingkan terhadap olahraga lain, sebut saja sepakbola. Perhatian pemerintah begitu besar. Nah makanya saya dan Kang Soleh mendirikan wadah ini dengan maksud untuk menarik minat usia dini terhadap olahraga ini. Termasuk mengetuk pemerintah untuk memberi perhatian lebih kepada olahraga ini," harapnya. (set)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved