Komunitas

Tarantula Si Pengusir Suntuk

TARANTULA dikenal sebagai binatang melata yang memiliki bentuk nyaris mirp dengan laba-laba.

Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Hermawan Aksan

TARANTULA dikenal sebagai binatang melata yang memiliki bentuk nyaris mirp dengan laba-laba. Karena kesamaan bentuk dan sifatnya yang bisa membuat jaring, tak heran jika orang awam menganggap tarantula juga merupakan hewan mematikan yang memiliki racun berbisa yang mampu membuat manusia yang terkena bisanya akan menemui ajal. Tak heran pula jika orang awam merasa ngeri dan takut jika bertemu hewan yang satu ini ini, tak jarang siapa yang menemuinya akan langsung berusaha menghindar atau membunuhnya seketika.

Namun di mata komunitas yang satu ini, keberadaan tarantula justru membawa keuntungan dan kesenangan tersendiri. Alih-alih dihindari atau dibunuh, tarantula yang ada di komunitas ini justru dipeliharan bahkan diberi makan sebagaimana memelihara binatang peliharaan pada umumnya.

Mengerikan? hmm, ternyata tidak juga jika kita menyimak lebih jauh tarantula di mata komunitas bernama BATAKO (Barudak Tarantula Kota Kembang) ini.   

Ya, siapa bilang tarantula itu mengerikan dan layak dihindari? Ternyata bagi barudak BATAKO, tarantula merupakan hewan peliharaan yang manis, lucu dan memberi daya tarik tersendiri. Lebih jauh lagi, tarantula di mata komunitas ini merupakan binatang yang sangat indah yang layak dipelihara dan disimpan menjadi pengusir suntuk rutinitas sehari-hari.

BATAKO memang merupakan komunitas penggemar tarantula yang ada di Kota Bandung. Sebagai bagian dari komunitas tarantula Indonesia (Indonesia Tarantula Community), BATAKO menjadi satu dari sedikit komunitas yang melindungi keberadaan tarantula di sekitar kita.

Menurut koordinator BATAKO, Ahmad Hasan dan Deon, BATAKO dibentuk sebagai wadah bagi pecinta tarantula yang tidak ingin binatang indah ini musnah begitu saja di habitat yang berdampingan dengan manusia.

"BATAKO dibentuk berdasar hobi sama yaitu pencinta dan pemelihara tarantula di Kota Bandung," kata Ahmad didampingi Deon kepada Tribun belum lama ini.

Nama BATAKO sendiri dipakai bukan hanya sekadar mempersingkat sebuah kepanjangan, menurut Deon, nama batako dipakai karena sangat identik dengan masyarakat Sunda. "Jadi biar terdengar nyunda," ujar Deon.

Ahmad menambahkan, sebagai bagian dari ITC, BATAKO yang resmi dibentuk pada 28 September 2014, juga dituntut bukan hanya bertujuan memelihara tarantula, namun juga memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa tarantula bukanlah hewan berbisa yang mampu membunuh seseorang.

"Jadi kalo ada yang beranggapan racun tarantula itu sangat berbisa, itu tidak sepenuhnya benar. Memang tarantula itu memiliki racun, namun efek racunnya tidak membuat manusia meninggal. Efek racunnya hanya terasa sesuai kondisi korban. Misalnya ada yang hanya panas dingin atau efek lain jika orang itu alergi terhadap zat yang terkandung dalam racun tarantula. Sejauh ini, belum ada kabar orang meninggal karena sengatan tarantla. Kalau (racun) laba-laba memang ada (yang mematikan)," ujar Ahmad.

Karena memiliki misi melindungi sekaligus memberi edukasi kepada masyarakat terkait semua hal yang berkaitan dengan tarantula, maka komunitas BATAKO mengajak agar masyarakat tidak perlu panik jika bertemu dengan tarantula.

"Kalau ketemu tarantula siapkan mental aja, jangan setengah-setengah. Misalnya cukup ambil toples atau kaleng, lalu kurung dia dengan toples itu, alasnya diberi kertas lalu balikkan dan tutup rapat-rapat. Amana kok," tutut Ahmad.

Terkait tarantula yang ada di sekitar masyarakat Indonesia, Ahmad dan Deon menerangkan bahwa tarantula di Indonesia pada umumnya tidak terlalu berbahaya dan bisa dipelihara.

Pemeliharaan tarantula pun relatif sangat mudah dan tidak memerlukan biaya besar. "Pakannya cukup diberi serangga aja, dia mampu bertahan tanpa makan berhari-hari kalau sudah kenyang," tambah Deon. (set)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved