Seni Budaya
Bekasem Ikan untuk Muludan pun Dibuka
Sultan Sepuh XIV Kasultanan Kasepuhan, mengatakan, bekasem ikan merupakan salah satu menu untuk upacara panjang jimat pada puncak Muludan nanti.
Penulis: roh | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ida Romlah
CIREBON, TRIBUN - Tak hanya nyiram panjang, Keraton Kasepuhan Cirebon, Minggu (28/12/2014) juga menggelar satu rangkaian acara Muludan, yakni membuka bekasem ikan.
Adalah ibunda Sultan Sepuh XIV Kasultanan Kasepuhan, RA Hj Irawati Pakuningrat; permaisuri Sultan, RA Isye Natadiningrat; dan keluarga keraton yang bertugas membuka bekaseman ikan. Semua adalah perempuan.
Sultan Sepuh XIV Kasultanan Kasepuhan, PRA Arief Natadiningrat mengatakan, bekasem ikan merupakan salah satu menu untuk upacara panjang jimat pada puncak Muludan nanti. "Isinya berbagai macam ikan seperti kakap, bandeng, dan lain-lain yang kami peroleh dari utara Cirebon," katanya.
Bekasem ikan merupakan ikan laut yang diolah dengan cara fermentasi. Ikan segar yang sudah dibersihkan dan dipotong-potong lalu dicampur dengan nasi putih, gula dan garam. Kemudian semuanya dimasukkan ke dalam guci.
Setelah semua masuk ke dalam guci, guci pun ditutup serapat mungkin agar tidak ada udara sedikit pun yang masuk. Sebab udara masuk bisa menyebabkan kualitas ikan bekasem kurang bagus.
Agar rapat, mulut guci ditutup dengan kertas karton dulu. Kemudian dikasih abu gosok, lalu kertas karton lagi, dan barulah terakhir oleh penutup guci.
"Proses bekasem ikan ini satu bulan, dimulai 5 Safar (kalender Jawa) dan dibuka 5 Mulud (kalender Jawa) atau hari ini," kata Sultan Sepuh.
Setelah dibuka, kata dia, ikan pun berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Setelah itu, ikan dibersihkan, dan siap dimasak bersama nasi jimat. Bekasem ikan dan nasi jimat ini merupakan hidangan utama pada acara panjang jimat, 12 Mulud nanti. (roh)