Feature
Kini Bisa Mengajak Cucu untuk Bermain
Tetap Semangat denagn Kaki Palsu.
Penulis: dra | Editor: Dedy Herdiana
Oleh DONY INDRA RAMADHAN
RAUT wajah gembira terpancar dari wajah Zaenal Mutaqien. Warga Cikalong Wetan ini sudah bisa berjalan secara utuh seperti orang lainnya. Sebelumnya, selama kurang lebih empat tahun ia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Kaki kirinya harus diamputasi akibat kecelakaan yang
menimpanya.
Pria berusia 37 tahun ini menuturkan kecelakaan motor yang menimpanya pada 2010 di kawasan Cikalong Wetan. Saat itu Zaenal, yang bekerja di pabrik alumunium di Banten, hendak pulang menggunakan sepeda motor. Nahas, motor yang dikendarainya terjatuh.
“Pas jatuh, kaki saya kena besi, kebetulan di tempat saya jatuh lagi ada perbaikan jalan. Jadi kaki kena besi pengecoran. Kaki saya langsung ancur,” ujar Zaenal di Jalan Sukajadi, Kota Bandung, Sabtu (6/12).
Setelah kecelakaan itu, ia langsung dilarikan ke rumah sakit. Saat itu dokter, kata Zaenal, meminta agar kaki sebelah kiri Zaenal diamputasi. Zaenal pasrah menerima kenyataan kaki yang
menopang tubuhnya harusdiamputasi. “Kata dokter, daripada membusuk, lebih baik diamputasi. Ya mau bagaimana lagi, mau nggak mau,” katanya.
Setelah diamputasi, ia pun mengalami kebuntuan untuk mencari pekerjaan. Padahal, masih ada beban yang harus ia tanggung. Ia harus membiayai istri dan ketiga anaknya. “Sewaktu masih kerja saya kan nabung dikitdikit. Ya, pakai tabungan saja sehari-hari. Istri juga membantu dikit-dikit,” katanya.
Salah satu penderita tunadaksa lainnya, Jaenal Arifin (26), yang juga warga Cikalong, malah harus diamputasi kedua kakinya sekaligus. Ia menuturkan, ia
mengalami kecelakaan di kawasan Cikalong juga pada 2006.
“Jadi waktu itu kebetulan saya masih muda, ya main motor biasa. Tiba-tiba jatuh masuk ke dalem truk. Kaki dua-duanya terlindas sama truk itu,” ujarnya.
Setelah kejadian yang tidak bisa ia lupakan itu, sehari-harinya ia menggunakan kursi roda. Dengan kursi roda itu, ia pun memberanikan diri membuka usaha untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Ia membuka kios pulsa dan bengkel kendaraan untuk menyambung hidup. “Ya, lumayan, rezeki mah ga hilang. Meskipun kecil juga usahanya, alhamdulillah ada aja rezeki mah buat sehari-hari,” katanya.
Ismail (62), juga penderita tunadaksa, pun harus hidup tanpa satu kakinya. Kakek asal Padalarang ini terkena penyakit yang mengharuskan kakinya diamputasi. “Waktu itu ada infeksi luka di kaki. Awalnya sedikit, tapi tiba-tiba merembet. Ya, otomatis, daripada ke bagian yang lain, terpaksa diamputasi,” ujar kakek enam cucu ini.
Raut wajah kegembiraan terpancar dari wajah ketiganya kemarin. Baik Zaenal Mutaqien, Jaenal Arifin, maupun Ismail diberi bantuan kaki palsu oleh salah satu perusahaan asuransi jiwa Sequislife.
Dengan kaki baru, mereka pun kini tampak ceria. Zaenal Mutaqien, misalnya, yang sudah pasrah menggunakan tongkat untuk berjalan, kini sudah bisa berjalan lagi seperti semula meskipun belum lancar.
“Ini seperti mimpi aja. Saya jadi punya semangat baru untuk menatap masa depan. Awalnya saya down sekali, tapi setelah dapat ini terasa ada cahaya cerah,” katanya.
Secercah cahaya dan semangat baru yang kini dimiliki oleh Zaenal membuatnya bersemangat menatapmasa depan. Bahkan,
ia pun sudah merencanakan apa yang akan ayah tiga anak ini lakukan setelah kini memiliki kaki baru.
“Kalau untuk bekerja di pabrikan lagi terlalu berat, terlalu berisiko dengan kaki palsu saya yang baru ini. Paling saya mau ternak kambing saja. Mungkin saat ini masih itu yang bisa saya lakukan. Kalau cari-cari rumput mah masih bisa,”katanya.