Sorot
Komedi dan Tragedi Wakil Rakyat
PRESIDEN Indonesia keempat pernah menuding para wakil rakyat di Senayan tidak lebih dari sekumpulan murid taman kanak-kanak.
Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
PARA wakil rakyat, anggota dewan yang terhormat itu, kembali menunjukkan lakunya yang kekanak- kanakan. Pada sidang paripurna pemilihan alat kelengkapan dewan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (28/10/2014), berlangsung ricuh sekaligus memalukan.
Seperti dilaporkan Kompas.com, sidang ditutup tanpa hasil dan berujung insiden penggulingan meja oleh Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Hasrul Azwar.

PARIPURNA RICUH LAGI -- Anggota Fraksi PPP DPR RI memprotes pimpinan rapat dan menggulingkan meja saat rapat paripurna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (28/10/2014). (ANTARA FOTO/ISMAR PATRIZKI)
Apa yang terjadi di gedung dewan yang megah di Senayan, Selasa sore kemarin, mengingatkan saya kepada mendiang mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Presiden Indonesia keempat yang ketika lahir bernama Abdurrahman Addakhil ini pernah menuding para wakil rakyat di Senayan, anggota dewan yang terhormat itu, tidak lebih dari sekumpulan murid taman kanak-kanak.
Lontaran Gus Dur tersebut mendapat komentar dari banyak pihak. Banyak yang mengamini dan setuju pada apa yang dikatakan Gus Dur, tak sedikit pula yang tidak setuju dan gerah oleh celotehan mantan presiden yang lahir di Jombang 7 September 1940 itu.
Mereka yang menentang dan dibuat tidak nyaman oleh komentar Gus Dur tesebut, di antaranya adalah para wakil rakyat yang terhormat itu.
Tapi bila melihat peristiwa yang terjadi di Gedung DPR, Senayan, Selasa kemarin, apa yang ditudingkan Gur Dur ada benarnya. Aksi para wakil rakyat tersebut jelas kekanak-kanakan, kalau tidak mau disebut sebagai murid taman kanak-kanak.
Sebelumnya saat Sidang Paripurna DPR RI yang memilih pimpinan DPR RI periode 2014-2019, 1 Oktober lalu, anggota dewan juga berlaku kekanak-kanakan dengan tidak menghormati pimpinan sidang yang dipegang Ceu Popong Otje Djundjunan. Bahkan palu pimpinan sidang sempat hilang disembunyikan anggota sidang yang ricuh tersebut.
Mengomentari apa yang terjadi di gedung dewan tersebut, kawan saya yang seorang pengarang, menulis status di akun facebook-nya dengan menyebut anggota dewan yang kekanak-kanakan itu bukan lagi murid taman-kanak-kanak tapi murid PAUD (pendidikan anak usia dini).
Yang membuat miris dan menyakitkan, apa yang ditunjukkan anggota dewan tersebut bukan hanya kekanak-kanakan tapi secara terbuka menjadi bukti bahwa para wakil rakyat itu tidak sedang membela kepentingan rakyat.
Apa yang terjadi pada saat pemilihan Ketua DPR pada Oktober lalu dan saat sidang paripurna pemilihan alat kelengkapan dewan pada Selasa sore kemarin, lebih terasa sebagai laku membela kepentingan partai. Pada dua peristiwa di gedung dewan di Senayan itu, (kepentingan) rakyat jelas tidak dihadirkan.
Rakyat masih dibiarkan di sudut-sudut kumuh negeri ini yang keberadaannya dibutuhkan ketika musim pemilihan legislatif kembali tiba.
Seorang kawan lainnya, memilih menyikapi apa yang terjadi di gedung dewan di Senayan yang sejuk dan nyaman tersebut, dengan santai. Menurut kawan saya yang satu ini, sikap para wakil rakyat tersebut adalah pertunjukan komedi super lucu.
"Apa yang mereka lakukan sangat menghibur, Sule dan Bolot pun lewat!" kata kawan.
"Lalu bagaimana dengan nasib rakyat yang seakan tidak mereka pikirkan," tanya saya.
"Itu namanya tragedi," jawab kawan saya. (Deni Ahmad Fajar)
Selengkapnya, bisa dibaca di edisi cetak Tribun Jabar, Rabu (29/10/2014). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan facebook: baladtribun.