LIPUTAN KHUSUS

Kurikulum 2013: Mengajarnya Tak Banyak Bicara

Penggunaan kurikulum baru tersebut sudah menginjak satu bulan lebih, dan dari penelusuran Tribun di lapangan, masih banyak permasalahan

Editor: Kisdiantoro

* Masih Pakai Kurikulum Lama

* Terpaksa Beri Materi Tambahan
BANDUNG, TRIBUN - Ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh menyatakan kurikulum-baru mulai diterapkan pada 15 Juli 2013, beberapa sekolah dasar di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Cimahi sudah menggunakan kurikulum 2013 (K-13) kepada para muridnya.

Penggunaan kurikulum baru tersebut sudah menginjak satu bulan lebih, dan dari penelusuran Tribun di lapangan, masih banyak permasalahan yang dikemukakan oleh para guru yang menjalankan kurikulum tersebut.

Dilah Rachmatika, guru SDN Gumuruh 9, Bandung, yang mengajar siswa kelas 1, menilai peluncuran K-13 belum matang, khususnya untuk siswa kelas satu. Menurutnya, materi pembelajarannya sangat terbatas.

"Bayangkan saja, selama tiga jam jadwal belajar, mulai dari pukul 7 sampai pukul 10 pagi, siswa hanya diberi keterbatasan mengenal bilangan 1 sampai 5. Sementara pada waktu pemberlakuan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), dengan kurun waktu yang sama, siswa khususnya kelas satu SD bisa mengenal lebih banyak bilangan, bahkan bisa mengenal bilangan hingga 20," ujar Dilah.

Menurut Dilah, hal tersebut bisa membuat siswa cepat bosan karena materi yang diberikan seperti mengenal bilangan sudah diajarkan di taman kanak-kanak. "Kami terkadang memaksakan untuk tetap menggunakan metode pengajaran lama. Terkadang juga saya memberikan tambahan materi jika masih ada waktu tersisa," kata Dilah.

Neni Rasmini, guru di kelas 4 di SDN Gumuruh 6, Bandung, juga mengaku kadang menggunakan kurikulum yang lama dalam proses pembelajaran sesuai kondisi di lapangan. "Daripada materi tersebut tidak sampai kepada siswa. Memang secara keseluruhan saya masih belum sepenuhnya memahami materi-materi di K-13," ujar Neni kepada Tribun.

Kepala Sekolah SDN Krida Winaya 1 dan 2 Bandung dan SDN Kebon Gedang 3 Bandung, Dra Neneng Cucu Supriati, mengaku masih ada keterbatasan kemampuan dan wawasan mereka mengenai K-13. "SDM/Tenaga Pengajar dituntut untuk lebih memahami K-13, agar saat materi yang diberikan kepada siswa nanti, siswa dapat memahaminya," ujar Neneng.

Guru Kelas 2 di SDN Nagreg 2 Kabupaten Bandugn, Fitriah Rohmatu Saniah, mengatakan kurikulum yang sebelumnya lebih enak dibanding K-13. Sekalipun dalam K-13 itu siswa dituntut lebih mandiri dalam belajar, sebagai guru juga ia harus mengubah kebiasaanya mengajar yang selama ini ia praktikkan.

"Di kelas, saya mulai mempraktikkan apa yang telah didapat dari pembinaan tentang K-13, tapi kebiasaan mengajar yang biasa saya lakukan juga harus berubah, siswa jadi lebih aktif," tuturnya.
Fitri juga mengeluhkan kurangnya fasilitas pendukung. Selama ini guru-guru hanya memanfaatkan fasilitas yang ada untuk sebagai bagian dari menerapkan K-13 tersebut.

Sekalipun siswa diberi ruang untuk belajar leboh kreatif, Fitri mengaku bahwa ia tidak lepas begitu saja. Ia terus mendampingi siswa-siswanya di kelas. "Ya, masih tetap mendampingi anak-anak. Kelas 2 kan masih begitu kecil, mereka belum begitu paham proses belajar dalam K- 13 ini. Masih harus betul-betul mendapat bimbingan," ujarnya.

Ditanya soal K-13, Fitri mengaku baru mengetahui hal itu baru-baru ini, bukan setahun lalu sejak K-13 diumumkan ke khalayak pendidik.

Lain lagi dengan guru kelas 4 di SDN 03 Cileunyi, Muhammad Latif Mahtum. Dia mengaku senang dengan diterapkannya kurikulum K-13 ini. Menurutnya, guru sebagai tenaga pendidik bisa lebih mengeksplorasi model-model pembelajaran yang pas untuk siswa-siswanya.
"K-13 ini harus dianggap sebagai satu kesempatan baik untuk mengubah pola ajar terhadap siswa. Tentu saja, di K-13 ini, baik siswa maupun guru dituntut untuk senantiasa kreatif. Baik guru dalam menyajikan materi sesuai buku panduan maupun siswa yang menjalaninya," katanya kepada Tribun, Rabu (27/8).

Latif mengungkapkan ia telah menerima buku panduan guru sejak awal Agustus, dan sampai sekarang ia telah memasukkan metode demonstrasi dan simulasi dalam praktik K-13-nya. Tetapi hal-hal semacam itu tergantung kebutuhan. Artinya, setiap subtema yang tersedia di buku panduan siswa dikresikan oleh Latif dalam bentuk lain yang tidak monoton.
Ditanya soal penilaian yang tidak hanya sebatas angka, tetapi juga deskripsi, Latif menjawab bahwa masa belajar belum sampai pada tahap penilaian akhir. Namun untuk sementara ia sering melakukan penilaian sejawat yang melibatkan setiap siswa untuk memberikan nilai kepada
temannya sendiri.

"Sampai hari ini, penilaian baru sampai pada penilaian sejawat saja. Siswa menilai temannya sendiri, dengan deskripsi," ujarnya.
Menurut dia, K-13 bukan hanya tugas guru, tetapi juga tugas semua pihak. Ia mengaku sering memberikan tugas kepada siswa yang akan melibatkan orang tua mereka dalam proses pengerjaannya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved