Memorabilia Bank Indonesia
Pengunjung Bisa Mengangkat Emas Batangan
Ruangan memorabilia ini salah satunya bisa ditemui di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI Jabar-Banten yang terletak di Jalan Braga. Ruangan
Penulis: Isa Rian Fadilah | Editor: Darajat Arianto
Oleh Laisa Khoerun Nissa
KEBERADAAN Bank Indonesia (BI) berkaitan erat dengan geliat sejarah ekonomi Indonesia. Sejak dinasionalisasikannya De Javasvhe Bank (DJB) menjadi Bank Indonesia, lewat adanya UU Pokok Bank Indonesia No. 11/1953 pada 1 Juli 1953, BI telah menjadi bank sentral yang mengawasi kegiatan perbankan di Indonesia.
Namun sejarah panjang BI dalam perekonomian Indonesia itu belumlah banyak diketahui masyarakat umum. Tak heran, berbagai upaya dilakukan BI untuk memperkenalkan sepak terjang selama lebih dari setengah abad tersebut ke khalayak ramai. Salah satunya adalah membangun ruangan memorabilia.
Ruangan memorabilia ini salah satunya bisa ditemui di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI Jabar-Banten yang terletak di Jalan Braga. Ruangan yang diresmikan Senin (26/5), menampilkan aneka koleksi yang berhubungan dengan sejarah Bank Indonesia dan maupun koleksi benda-benda numismatika (segala sesuatu yang berhubungan dengan uang).
"BI sebenarnya memiliki sejarah yang cukup kaya tapi belum ada media yang masyarakat bisa mudah memahami itu, bisa datang dan membaca sejarah, melihat benda-benda koleksi. Makanya kita membuat memorabilia ini," kata Regional Head Bank Indonesia Wilayah VI Jabar-Banten, Dian Ediana Rae, Senin (26/5) sore.
Keberadaan memorabilia tersebut, ujarnya, bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat yang mungkin belum terlalu paham mengenai tugas dan fungsi Bank Indonesia. Ruangan memorabilia yang terletak di gedung heritage juga memiliki kelebihan tersendiri dari sisi arsitektur neoklasik nan elegan.
"Inginnya memorabilia ini bisa menjadi bagian edukasi publik agar mereka bisa mengetahui peran, fungsi dan tugas BI serta sejarah bagaimana kerjanya BI sejak dulu. Tak menutup kemungkinan juga tempat ini bisa menjadi tourist destination baru di Kota Bandung," ujar Dian.
Berbagai koleksi bersejarah memang dipajang di ruangan tersebut. Informasi sejarah BI sejak masih menjadi De Javasche Bank hingga saat ini tertata rapi dalam guratan informasi yang dipajang layaknya lukisan. Dibingkai dengan pigura dan ditempel di sekat-sekat khusus, pengunjung bisa dengan leluasa membaca informasi sambil menikmati keterangan gambar yang menjadi latar tulisan.
Selain informasi mengenai BI, memorabilia ini juga mencatat sejarah perekonomian Kota Bandung mulai zaman kolonialisme. Di ruangan bernama Old Money Corner, pengunjung bisa melihat koleksi numismatika yang memajang berbagai koleksi mata uang yang pernah digunakan rakyat Indonesia.
Berbagai jenis uang kertas yang pernah digunakan ditata rapi secara berderet dalam beberapa pigura. Selain itu, terdapat juga koleksi uang logam yang disimpan dalam sebuah tabung dan diletakkan di atas meja.
Ada juga ruangan tempat menyimpan koleksi emas batangan. Tidak hanya melihat, pengunjung juga bisa memegang dan mengangkat emas seberat tiga belas kilogram tersebut.
"Nantinya memorabilia ini juga akan dilengkapi dengan audio serta video. Saat ini memang belum sempurna tapi semoga masih bisa dinikmati," katanya.
Selain menikmati berbagai koleksi, pengunjung juga bisa menikmati kemegahan arsitektur bergaya neoklasik yang dirancang pada tahun 1915. Jejak-jejak neoklasik tersebut terlihat dari berbagai ornamen maupun gaya atap bangunan yang tinggi, dengan desain kotak dan transparan.
Dian mengatakan, memorabilia BI belum bisa dikunjungi secara bebas. Pasalnya, ruangan memorabilia terhitung belum cukup luas untuk menampung banyak orang. Masyarakat yang berminat untuk berkunjung, terlebih dahulu bisa mengontak bagian humas Bank Indonesia di nomor telepon 022- 4230223 Ext. 8297 atau fax di 022-4214326.
"Bisa telepon atau kirim surat dulu nanti kita aturkan waktunya untuk berkunjung. Kalau terlalu crowded juga kan gak efektif, kalau dibagi jadi kelompok-kelompok kan enak. Nanti juga ada guide-nya dari kita. Pastinya tidak dipungut biaya apapun kalau ingin berkunjung," katanya. (*)


