OBITUARI ADAM LAY
Adam Sempat Selesaikan Lukisan 17 Kuda Berlari ke Atas Gunung
Rumah itu merupakan kediaman seorang seniman ternama asal Jawa Barat. Adam Lay (65), pelukis yang sudah malang melintang puluhan tahun
Penulis: cis | Editor: Darajat Arianto
Oleh Teuku Muhammad Guci S
SUASANA duka menyelimuti sebuah rumah di RT 01/01 Kampung Balakang, Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jumat (4/4) pagi. Bendera kuning terpasang di sejumlah sudut jalan menuju rumah yang berada di pinggir Jalan Sindanglaya itu.
Rumah itu merupakan kediaman seorang seniman ternama asal Jawa Barat. Adam Lay (65), pelukis yang sudah malang melintang puluhan tahun dan melahirkan ratusan karya lukis itu, meninggal dunia.
Kepergian kakek bercucu dua, Fatimah Az Zahra (7) dan Rahma Meta Asyifa (3), itu menambah duka dunia penghasil karya seni di Indonesia, terutama di Jabar. Sebelumnya, dalang kondang asal Jabar, Asep Sunandar Sunarya (59), dipanggil Sang Khalik terlebih dulu, Senin (31/3).
Pelukis beraliran naturalis itu meninggal sekitar pukul pukul 04.15. Pria yang memiliki dua putra, yakni Wahyu Purnawan (30) dan Daminata (29), ini meninggal ketika dibawa ke rumah sakit. Pelukis yang tersohor dengan lukisan bertajuk Kuda Delapan itu menderita sakit jantung.
"Papah sakit parah selama dua minggu ini dan sempat dirawat lima hari di Rumah Sakit Cimacan. Baru tadi subuh (kemarin, Red) sakitnya terasa dan ingin dibawa ke rumah sakit. Tapi dalam perjalanan ia mengembuskan napas terakhir," ujar Wahyu ketika ditemui di rumah duka, kemarin.
Keluarga, kata Wahyu, tak menyangka Adam dipanggil menghadap Tuhan lebih cepat. Sebab, sepulang dari rumah sakit, kata Wahyu, ayahnya masih sempat bercanda dengan keluarga. Menurutnya, tak ada tanda-tanda ayahnya akan meninggal.
"Sambil bercanda, almarhum sempat berpesan kepada kami untuk melestarikan budaya Indonesia, jangan sampai termakan zaman. Ia pun meninggalkan satu Kedai Yeye, yang dalam bahasa Cina berarti kakek. Kedai itu juga mengabadikan karya-karyanya," ujar Wahyu.
Diakui Wahyu, selama puluhan tahun berkarier di dunia lukis, ayahnya telah membuat ratusan karya lukisan. Di akhir hayatnya, Adam pun memiliki sejumlah proyek lukisan yang sedang dikerjakan. Lukisan itu diberi judul 17 Kuda Berlari ke Atas Gunung. Dalam lukisan itu terdapat 17 ekor kuda tengah berlari ke puncak gunung.
"Lukisan itu menjadi kenang-kenangan tahun kuda sekaligus menggambarkan tahun pemilu," ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, lukisan itu memiliki banyak arti bagi ayahnya. Jumlah kuda sebanyak 17 ekor, misalnya, yang merupakan angka keramat, adalah hari lahir Indonesia dan jumlah rakaat salat wajib umat Islam. Kuda-kuda yang berlari ke puncak gunung itu menggambarkan politisi di Indonesia yang tengah merebut takhta tertinggi, yakni kursi presiden.
"Kuda paling depan berwarna merah putih sebagai simbol Indonesia. Kuda yang kedua adalah kuda hitam yang menggambar calon pemimpin di Indonesia. Apakah Prabowo, Jokowi, Dahlan Iskan, Rhoma Irama, dan lainnya. Semuanya bisa terpilih. Mereka semua ingin mencapai puncak," ujar Wahyu.
Wahyu mengatakan, sebelum mengerjakan lukisan 17 Kuda Berlari ke Atas Gunung, Adam sempat menyelesaikan sejumlah lukisan. Di antaranya lukisan berjudul Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu. Lukisan itu diselesaikan sebelum Joko Widodo (Jokowi) terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta.
"Dulu almarhum sempat cerita punya feeling terhadap Jokowi. Makanya ia melukis Jokowi tapi digambarkan sebagai tokoh Jaka Tarub. Di lukisan itu terdapat air terjun dan bulan purnama. Air terjun itu ibarat perjalanan berat yang akan dihadapi Jokowi setelah menjadi gubernur, sedangkan bulan itu menggambarkan Ahok yang mendampingi Jokowi," kata Wahyu.
Suami Shinta Yuli Arisiti (34) ini mengatakan, almarhum dikebumikan di permakaman keluarga di Kampung Pakuwon, Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur. Ia disemayamkan di atas tanah seluas 200 meter sesuai dengan pesan terakhirnya ketika sakit.