Sabtu, 13 Juni 2026

Menunggu Kebangkitan Mitra Batik

Yang Tersisa Hanyalah Nama Jalan Mitra Batik

Pabrik di atas lahan 3,5 hektare di Jalan SL Tobing, Kota Tasikmalaya, itu menjadi pabrik tenun terbesar penghasil kain mori, bahan

Tayang:
Penulis: Firman Suryaman | Editor: Darajat Arianto

Oleh Firman Suryaman

TIDAK terdengar lagi suara ratusan mesin tenun bertalu-talu. Tak ada lagi senda gurau di antara kesibukan ribuan pekerja pabrik. Tak ada lagi hiruk-pikuk kendaraan pengangkut kain hasil tenunan. Semua itu hanya masa lalu, sekaligus kenangan indah masa-masa jaya pabrik tenun milik Koperasi Mitra Batik Tasikmalaya.

Pabrik yang berdiri di atas lahan 3,5 hektare di Jalan SL Tobing, Kota Tasikmalaya, itu menjadi pabrik tenun terbesar penghasil kain mori, bahan dasar kain batik, di era tahun 50-an. Saat itu, kain batik masih menjadi salah satu kain andalan masyarakat. Industri batik pun berkembang pesat di Tasikmalaya.

Kini, tak ada lagi sisa-sisa kejayaan masa lalu, seiring dengan melorotnya industri batik yang tak mampu bersaing dengan pakaian modern. Semua mesin tenun berikut peralatan pendukungnya sudah dilelang. Bangunan pabrik pun tak terurus, mulai lapuk ditelan usia. Yang paling mengenaskan, pabrik sudah dijual oleh pengurus untuk menutupi utang koperasi yang mencapai miliaran rupiah.

"Agar utang tidak terus membengkak, satu-satunya jalan adalah menjual bangunan pabrik berikut lahannya seluas 3,5 hektare," ujar Bendahara Koperasi Mitra Batik, Ade Suryana (60), yang ditemui Tribun, Rabu (26/3), seraya menyebutkan, utang koperasi mencapai miliaran rupiah akibat produk yang tidak sempat terjual serta utang ke bank.

Koperasi Mitra Batik dirintis pada 1939 oleh sembilan pengusaha batik Tasikmalaya. Mereka adalah Eni, Badri, Enong, Dion, Kartadibrata, Kartasasmita, Naseh, Sayuti, dan Sumiraatmadja. Saat itu industri batik berkembang pesat sehingga perlu dibentuk wadah usaha yang mengatur soal pengadaan bahan baku serta pemasaran.

"Setelah persiapan matang, ditetapkan pendirian Koperasi Mitra Batik pada 17 Januari 1939. Di luar dugaan, pendirian koperasi pertama di Indonesia itu mendapat sambutan Wakil Presiden RI, Dr M Hatta. Bahkan tanggal itu ditetapkan sebagai hari lahir koperasi. Bung Hatta pun hadir pada acara itu," kata Ade, yang merupakan generasi kedua pengurus koperasi.

Perlahan tapi pasti, koperasi terus berkembang dan anggotanya mencapai puluhan. Tiap anggota menyimpan uang antara Rp 1-5 setiap bulannya. Tetapi memasuki penjajahan Jepang yang otoriter, usaha batik tidak karuan hingga koperasi pun bangkrut.

Namun beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, usaha batik mulai dirintis lagi. Koperasi Mitra Batik dihidupkan kembali dan pada 1948 berhasil mengumpulkan modal sebesar Rp 68. Para perajin masuk kembali koperasi hingga berjumlah 59 orang dan ada tambahan modal Rp 43 lebih.

"Dari sinilah momentum awal kebangkitan Koperasi Mitra Batik hingga meraih sukses mulai tahun 50-an berbarengan dengan didirikannya pabrik tenun mori," kata Ade.

Koperasi beberapa kali mendapat kepercayaan pemerintah melalui kucuran kredit, di antaranya sekitar Rp 50.000 dan tiga tahun kemudian dapat pinjaman lagi Rp 1 juta.

Usaha batik Tasikmalaya berkembang karena memiliki corak yang khas, baik batik tulis maupun cetak. Batik masuk ke Tasikmalaya pada abad ke-18 oleh orang Pekalongan yang merantau ke Jawa barat. Lalu orang Tasik melakukan berbagai inovasi corak sehingga lahir batik khas Tasikmalaya.

Modal koperasi terus bertambah hingga menjadi Rp 2 juta. Simpanan anggota yang sudah berjumlah 185 orang mencapai Rp 700.000. Koperasi pun membangun kantor pusat sekaligus tempat menginap para anggota dari luar daerah, di gedung yang digunakan Toserba Yogya saat ini. Anggota saat itu mampu memproduksi batik 29.985 kodi setiap bulan. Produk mereka dijual tak hanya ke berbagai aderah di  Indonesia, tetapi juga ke negeri tetangga.

"Sekitar tahun 1953, Koperasi Mitra Batik menyerap ribuan tenaga kerja, yang terdiri atas sekitar 1.600 tukang cap, 2.600 tukang tulis, 400 mandor godog, dan 20 orang pegawai adimintrasi. Belum lagi pekerja pabrik. Itulah kenangan masa keemasan Koperasi Mitra Batik," tutur Ade.

Sisa-sisa kejayaan Koperasi Mitra Batik kini nyaris punah. Pabrik tenun di Jalan SL Tobing kini sudah berpindah tangan. Gedung kantor dan penginapan anggota disewa toserba. Kedua bangunan monumental itu boleh jadi sudah dilupakan orang. Yang tersisa hanyalah penamaan sebuah jalan untuk mengenang kejayaan Koperasi Mitra Batik, yaitu Jalan Mitra Batik, yang membentang dari simpang Jalan Galunggung hingga Jalan RE Martadinata. (bagian 2)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved