Liputan Khusus
Bantuan Siswa Miskin Disunat Lebih Dari Separuh
Sejumlah orang tua siswa mengeluhkan pemotongan dana bantuan siswa miskin di Madrasah Tsanawiyah Nurul Iman, di Kampung Bangong, Desa
Penulis: M Zezen Zainal Muttaqin | Editor: Darajat Arianto
* Seharusnya Rp 550 Ribu, Siswa Cuma Terima Rp 100 Ribu
SINDANGKERTA, TRIBUN - Sejumlah orang tua siswa mengeluhkan pemotongan dana bantuan siswa miskin (BSM) di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Iman, di Kampung Bangong, Desa Pasirpogor, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dana BSM yang seharusnya diterima siswa sebesar Rp 550 ribu, hanya diterima Rp 100 ribu hingga Rp 140 ribu per siswa.
Sebelum disalurkan ke siswa, dana Rp 550 ribu itu pun dipotong oleh pihak sekolah untuk membayar berbagai perlengkapan sekolah, seperti sepatu, tas, dasi, pakaian batik, serta kaus olahraga. Bahkan khusus untuk kelas 9 atau kelas 3, sebagian dana digunakan untuk membayar biaya ujian.
Para penerima BSM pun hanya menerima dana sisanya yakni Rp 100 ribu hingga Rp 140 ribu baru per siswa. Parahnya lagi, dana itu disalurkan hanya melalui amplop, tidak melalui rekening sebagaimana peraturan penyaluran dana BSM.
Robby (50), bukan nama sebenarnya, salah seorang orang tua siswa, mengaku sangat keberatan dengan pemotongan dana BSM yang dilakukan pihak sekolah kepada anaknya dan juga ratusan siswa penerima dana BSM lainnya.
"Bapak (saya, Red) hanya menerima Rp 140 ribu. Enggak tahu kenapa hanya segitu," kata Robby saat ditemui Tribun di Desa Pasirpogor, Kamis (13/2).
Roby menjelaskan, uang sebesar Rp 140 ribu itu diserahkan langsung oleh pihak sekolah kepada anaknya yang masih duduk di kelas VIII (2). Padahal berdasarkan prosedur penyaluran dana BSM, dana bantuan dari pemerintah itu menjadi hak masingmasing siswa miskin dan penyalurannya dilakukan melalui rekening setiap siswa, tidak melalui pihak sekolah.
Di sekolah-sekolah lain, menurutnya, dana BSM tidak pernah dicairkan oleh pihak sekolah, melainkan diambil langsung oleh siswa atau orang tua siswa dengan diantar guru atau pihak sekolah. Dana yang diterima siswa pun, kata dia, tidak pernah dipotong dan diterima secara utuh yakni Rp 550 ribu per siswa.
"Uangnya pakai amplop, dibawa langsung anak saya dari sekolah. Saya juga merasa aneh, mengapa enggak melalui rekening seperti sekolah yang lain," kata pria tersebut.
Robby sempat menanyakan kepada anaknya mengapa uang yang diterima hanya sebesar Rp 140 ribu. Menurut keterangan anaknya, uang Rp 550 ribu itu dipotong untuk membayar berbagai perlengkapan sekolah, seperti pakaian seragam batik, sepatu, kaus olahraga, dasi, dan tas sekolah.
"Jadi uang Rp 140 ribu itu sisanya, setelah dipotong untuk ini itu. Katanya kesepakatan orang tua, tapi saya sendiri dan istri tidak tahu. Enggak ada undangan, mungkin karena rumah saya jauh di gunung," kata dia.
Yusuf (45), bukan nama sebenarnya, orang tua siswa lainnya, menyatakan hal senada. Ia juga mengaku sangat keberatan dengan pemotongan yang dilakukan oleh pihak MTs Nurul Iman tersebut. Bahkan, menurut dia, pemotongan dana BSM yang dilakukan pihak sekolah kepada para siswa penerima dana BSM, bukan baru pertama kali terjadi.
"Tahun lalu juga sama. Uangnya dipotong untuk membayar perlengkapan sekolah seperti tas, sepatu, batik dan kaus olahraga. Tapi katanya sudah kesepakatan, padahal banyak orang tua yang protes, banyak yang kecewa," kata Yusuf. (*)
*) Berita ini selengkapnya bisa dibaca di Tribun Jabar edisi Selasa (18/2/2014)