Hariono, Pekerja Gudang yang Moncer di Lapangan Hijau
Pernah bekerja jadi kuli di bagian gudang sebuah minimarket di Sidoarjo selama 3-4 tahun, dia tidak pernah sekali pun bermimpi bermain di Persib
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Darajat Arianto
GELANDANG Persib Bandung, Hariono, bisa jadi bernasib sama seperti halnya pemain sepakbola dunia seperti Lionel Messi, Luiz Suarez, Mario Balotelli hingga Pele, yang harus melewati masa-masa sulit dalam jeratan kemiskinan sebelum sepak bola merubah hidupnya menjadi lebih layak.
"Dibilang susah, ya susah. Tapi dilalui saja. Kesulitan beli sepatu bola, pernah. Tapi intinya dilalui saja, toh semua sudah ada yang ngatur, kita cuma ngejalani saja," kata Hariono seraya tersenyum, di teras kamarnya di Mess Persib, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa (4/2).
Pernah bekerja jadi kuli di bagian gudang sebuah perusahaan minimarket di Sidoarjo selama 3-4 tahun, dia tidak pernah sekali pun bermimpi bermain di Persib. Ia hanya suka sepakbola dan hanya ingin bekerja dan membahagiakan kedua orangtuanya.
"Saya pernah kerja di bagian gudang selama 3-4 tahun. Saya juga main sepakbola di klub di Divisi 2. Sambil kerja ya main bola, beruntung perusahaan memberi izin saya main sepakbola," kata Hariono seraya tersenyum.
Masa-masa sulit memang dijalani dirinya sebelum menjadi pemain sepakbola profesional di Indonesia. "Saya engga pernah kepikiran main di Persib. Saya engga pernah ikuti sepakbola dunia, tapi saya hanya ingin ubah nasib keluarga saja," kata pemilik nomor punggung 24 ini.
Hingga akhirnya, meski harus dicap pemain kampung dan pemain kasar terlebih dulu, akhirnya ia lolos seleksi di Deltras Sidoarjo era Jaya Hartono. Tidak berapa lama, kemudian akhirnya ia diboyong Jaya ke Persib.
"Tapi ketika saya main bola di Deltras dan Persib, ibu saya keburu meninggal. Dia belum lihat saya ketika bermain di Deltras, Timnas atau di Persib. Tapi setidaknya, mungkin dia tahu sekarang saya sudah lebih baik. Dia hanya ingin saya bernasib lebih baik," kata Hariono sambil tertunduk, ketika kepalanya kembali terangkat, matanya sedikit berkaca-kaca.
Selama membela di Persib, Hariono memang pekerja keras selama di rumput hijau. Tidak jarang, aksi menjegal selalu mewarnai saat dirinya mempertahankan gawang Persib. "Dulu saya lebih dari itu mainnya. Sekarang lebih mendingan," katanya.
Hariono juga pernah bermain di timnas Indonesia. Penampilannya di timnas saat melawan Palestina, mungkin akan jadi pengalaman yang sulit dilupakan olehnya. Bagaimana tidak, saat itu ia mencetak gol pertamanya sepanjang karir sepakbolanya. Golnya itu menjadi gol pembuka untuk Timnas hingga pada akhirnya menang 4-1.
Meski begitu, gol yang dicetaknya pun, harus dibayar mahal. Pasalnya, sundulan bola dari Hariono yang melahirkan gol, bertepatan dengan kaki pemain Palestina, Murad I.M Said yang bersarang pelipis hingga ia harus dijahit sebanyak 6 jahitan. "Semua sudah ada yang ngatur. Kita cuma ngejalani saja," ujarnya.
Musim ini, musim ke enamnya membela Persib. Ia pun memiliki dua cita-cita. "Membawa Persib juara dan membiayai ayah saya naik haji," katanya. (*)