Anak-anak Menyeberang Sungai Cibaluk untuk Sampai ke Sekolah
Puluhan pelajar dari Kampung Sakambangan, Desa Mekarwangi, Kecamatan Cibalong, harus berjalan menerjang arus deras Sungai Cibaluk
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Kisdiantoro
GARUT, TRIBUN - Puluhan pelajar Madrasah Tsanawiyah Almanar, Kampung Sakambangan, Desa Mekarwangi, Kecamatan Cibalong, harus berjalan menerjang arus deras Sungai Cibaluk untuk pergi ke sekolahnya pada musim hujan.
Jembatan gantung penghubung Desa Sagara dan Mekarwangi yang melintasi Sungai Cibaluk selebar 70 meter tersebut sudah puluhan tahun rusak dan tidak bisa dipakai.
Seorang pelajar MTs Almana, Cecep (13), mengatakan setiap hari harus turun ke badan sungai untuk menyeberang menuju sekolahnya. Pada musim kemarau, sungai tersebut hampir kering. Namun jika musim hujan tiba, air sungai pun meninggi sampai selutut orang dewasa.
"Sekolahnya kan ada di Kampung Almanar di Desa Sagara, itu harus menyeberang sungai dulu. Banyak yang tidak sekolah karena takut harus menyeberang sungai pas musim hujan. Airnya besar. Kalau airnya agak turun, kita turun ke sungai menyeberang. Kalau tinggi, pulang lagi," kata Cecep, Rabu (15/1).
Cecep mengatakan perasaan khawatir dan takut terbawa hanyut sungai sering muncul. Bisa saja, katanya, anak-anak terpeleset di sungai atau tiba-tiba air sungai menjadi deras. Jika arus sungai menjadi deras, katanya, mereka harus berlarian menuju tepi sungai.
Kepala MTs Almanar, Saefulrohman, mengatakan hal ini terjadi akibat tidak tersedianya jembatan layak pakai penghubung dua desa tersebut. Tidak hanya dari Desa Sagara, pelajar MTs ini pun berasal dari desa sekelilingnya. Setiap hari, katanya, para pelajar dari luar desa menyebrangi sungai selebar 70 meter denga cara menurui dasar sungai.
Saefulrohman mengatakan pihaknya beberapa kali meminta Desa Sagara dan Mekarwangi untuk membangun jembatan namun belum terwujud. Padahal, jembatan tersebut sangat dibutuhkan warga dari kedua desa tersebut. (Sam)