Liputan Khusus

Ratusan Lulusan Akper Resah

Lulusan Akademi Keperawatan Pemkab Cianjur angkatan XIV 2013 mulai merasa resah dengan nasibnya. Pasalnya, mereka belum menerima ijazah

Penulis: cis | Editor: Darajat Arianto

Teman seangkatan dengan Irma ini mengaku belum melamar menjadi perawat ke rumah sakit swasta atau melamar untuk menjadi tenaga non-PNS ke rumah sakit milik pemerintah di berbagai daerah. Menurut dia, usaha tersebut akan percuma lantaran akan dikesampingkan dengan pelamar yang memiliki syarat yang lengkap.

"Keinginannya sih pengen nyoba melamar ke rumah sakit swasta atau ke rumah sakit pemerintah. Yang penting kerja karena cita-cita memang ingin jadi perawat. Tapi lebih baik nunggu ijazah, biar lebih enak melamarnya. Makanya tidak apa-apa tidak ikut tes CPNS, mungkin juga belum waktunya. Masih ada tahun depan," kata Rian.

Meski tidak mengetahui pasti waktu pembagian ijazah asli, Rian mengaku mendapat kabar dari temannya. Ijazah asli kabarnya baru akan dibagikan enam bulan kemudian. Padahal, menurut dia, tiga bulan belum mendapat ijazah asli sudah menjadi penghambat baginya untuk mencari kerja.

"Itu baru kabar burung, tapi kata kakak angkatan paling lama sih sebulan. Soalnya saya sendiri tidak menanyakan itu langsung ke kampus. Tapi kalau dibandingkan dengan Poltekes misalnya, tidak lama sampai berbulan-bulan begini. Padahal sama-sama milik pemerintah," kata Rian.

Belum mendapatkan pekerjaan mapan memang membuat Rian sedih dan terbebani. Pasalnya, ia belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Meski sudah mendapat gelar, ia merasa belum lengkap jika belum memperoleh pekerjaan.

"Orang tua sendiri sudah mengetahui ada hambatan untuk mencari pekerjaan akibat belum adanya ijazah. Alhamdulillah, orang tua mengerti dan pasti ada jalan kalau mau usaha," kata Rian.

Memiliki beban kepada orang tua lantaran masih menganggur dirasakan Ina (21), juga bukan nama sebenarnya, ketika diwawancarai Tribun, Minggu lalu. Pasalnya, Ina merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adik lelakinya masih sekolah di tingkat SMA.

Ina pun menyebut, orang tuanya sempat menanyakan hambatan dalam mencari pekerjaan. Di samping itu, orang tua Ina pun menanyakan alasan ijazah yang tak kunjung dibagikan. "Bagaimana tidak kepikiran, karena seharusnya sudah lulus dari Akper bisa langsung kerja sehingga tidak membebani orang tua karena memikirkan saya," kata Ina.

Ina mengaku tidak mengetahui alasan pasti belum dibagikannya ijazah. Ia pun tidak tahu cara mendapatkan ijazah lebih cepat. "Kalau disuruh bayar, saya tidak tahu karena tidak pernah lagi datang ke kampus. Kalaupun ingin tahu, paling nanya ke teman-teman. Tapi teman-teman juga banyak yang tidak tahu," kata Ina.

Menurut Ina, belum memiliki ijazah membuatnya sulit dalam mencari pekerjaan, terutama melamar ke rumah sakit swasta atau tenaga non-PNS di rumah sakit pemerintah. Menurut dia, SKL lebih mudah diterima ketika melamar di klinik. Akan tetapi, upah yang diberikan di klinik jauh berbeda dibanding dengan jika bekerja di rumah sakit.

"Jam kerjanya 12 jam, tapi gajinya tak lebih dari Rp 1 juta per bulan, bahkan bisa juga kurang. Sebab, saya sempat bekerja di klinik, tapi karena kecapaian saya memilih keluar," kata Ina, yang baru sembuh dari sakit dari tifus. Menurut dia, perawat yang bekerja di rumah sakit rata-rata menerima Rp 1,8 juta per bulan.

Ina hanya bisa pasrah menunggu dibagikannya ijazah. Ia pun memilih beristirahat di rumah sembari memulihkan kesehatannya. Terakhir dia melamar ke rumah sakit di Kabupaten Sukabumi, tapi hingga kemarin belum ada panggilan.

"Kalau kecewa, ya pasti, sebab beberapa kesempatan harus dibuang. Seperti tes CPNS kemarin, saya hanya bisa melihat formasi, tapi tidak bisa melamar akibat tidak ada ijazah asli," kata Ina.

Ina pun berharap bisa segera memperoleh ijazah asli karena sebagian besar rumah sakit meminta ijazah asli. Apalagi transkrip nilai menjadi satu dengan ijazah. Karenanya ia ingin pihak Akper segera membagikannya. "Saya tidak bisa apa-apa tanpa ijazah. Mau protes juga gimana. Yang jelas, tidak adanya ijazah sangat menghabat untuk melamar pekerjaan," kata Ina.

Lulusan akper lainnya, Dimas (21), pun mengaku kecewa dengan lambatnya proses pembagian ijazah asli. Pasalnya, ia masih meminta uang kepada orang tuanya selama belum mendapatkan pekerjaannya akibat enggan melamar pekerjaan dengan SKL.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved