Breaking News:

Menikmati Segarnya Air Terjun Sungai Cilamaya

JAJARAN pohon pinus di kaki Gunung Burangrang membuat suasana di Desa Cipancar, Kecamatan Serang Panjang, Kabupaten Subang, terasa sejuk. Air

Tribun Jabar/Mega Nugraha
Sejumlah anak bermain di Air Terjun Cikondang di Desa Cipancar Kecamatan Serang Panjang, Sabtu (5/10/2013). Curug atau air terjun Cikondang merupakan salah satu hulu Sungai Cilamaya selain Cijalu. 

Oleh Mega Nugraha

JAJARAN pohon pinus di kaki Gunung Burangrang membuat suasana di Desa Cipancar, Kecamatan Serang Panjang, Kabupaten Subang, terasa sejuk. Air bersih dan bening mengalir di selokan kecil serta di pancuran-pancuran air milik warga.

Debit air makin membesar kala menemukan Sungai Cijalu di daerah tersebut. Sungai ini merupakan satu di antara sekian hulu Sungai Cilamaya, yang melintasi Kabupaten Subang, Purwakarta, dan Karawang, kemudian berhilir di Laut Jawa.

Di musim kemarau, air Sungai Cijalu ini dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari warga desa tersebut, termasuk untuk pertanian dan perkebunan. Selain itu, di desa tersebut, terdapat dua objek wisata air terjun yang menyumbang besar terhadap ekonomi desa. Setidaknya hal itu terlihat dari infrastruktur jalan yang mulus mulai dari Jalan Raya Serang Panjang hingga Desa Cipancar tersebut.

Air terjun Cikondang menjadi objek wisata utama yang banyak dikunjungi para wisatawan, baik dari Subang maupun kota lain di Jawa Barat. Tidak aneh jika infrastruktur jalan desa tersebut sangat mendukung kegiatan pariwisata.

Selain air terjun Cikondang, di desa tersebut juga terdapat air terjun Cijalu. Hanya saja, akses menuju air terjun tersebut jarang terjamah oleh wisatawan sehingga dibutuhkan pemandu untuk mengunjunginya.

Di sekitar objek wisata air terjun Cipancar ini petugas pengelola bisa mengantarkan pengunjung ke lokasi air terjun Cijalu. Untuk menuju air terjun Cijalu ini, pengunjung harus menyusuri aliran sungai dari kampung Cipancar. Lama perjalanan sekitar 30 menit dengan jalan setapak serta mengikuti aliran air. Tutupan pohon pun sangat rindang sehingga sinar matahari tidak terlalu panas ketika menyusuri sungai Cijalu.

Sepanjang perjalanan menyusuri Sungai Cijalu, mata air banyak sekali ditemukan. Umumnya, mata air-mata air tersebut keluar dari dinding tebing dan rembesan dari jalan yang dilewati. Di hulu sungai, air terjun setinggi kira-kira 100 meter menjega di depan mata. Air yang jatuh menciptakan angin disertai buliran air sehingga terasa sejuk.

Air terjun yang jatuh dari ketinggian 100 meter tersebut kemudian tertampung dalam semacam kolam alami yang berdiameter 10 meter. Karena jarang terjamah oleh pengunjung, kolam itu terlihat sangat bersih dengan kondisi air yang bening. Air terjun Cijalu, yang juga merupakan hulu Sungai Cilamaya, begitu terasa eksotis karena air terjunnya belum terjamah oleh manusia.

Asep Supriatna (30), warga Desa Cipancar, yang memandu menyusuri Sungai Cijalu, mengatakan, hulu sungai ini tepat berada di air terjun Cijalu. Dari Sungai Cijalu ini, pada akhirnya, airnya akan menyatu dengan Sungai Cilamaya. "Air terjun Cikondang dan Cijalu ini salah satu hulu Sungai Cilamaya," kata Asep, Sabtu (5/10).

Hanya saja, kata dia, tidak banyak yang mengetahui bahwa Cijalu dan Cikondang ini ialah hulu Sungai Cilamaya. "Orang datang ke sini paling untuk wisata saja. Banyak yang enggak tahu kalau kedua tempat itu salah satu hulu Sungai Cilamaya," katanya.

Aliran Sungai Cijalu dan Cikondang, kata Asep, memberikan banyak berkah dan manfaat bagi warga desa tersebut. Baik untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari maupun untuk pertanian dan perkebunan. "Kalau lewat sini, jalannya kan bagus, tuh. Itu sebagian didanai dari penghasilan objek  wisata air terjun Cikondang dan Cijalu ini," kata dia.

Di tengah sumber daya air yang begitu melimpah di desa tersebut, Asep dan warga lainnya kadang merasa miris dengan ulah pengunjung yang kurang menjaga kebersihan di sekitar aliran air. Padahal, air yang melimpah di desa tersebut memberikan banyak manfaat bagi warga sekitar. "Paling banyak pengunjung yang buang sampah sembarangan," katanya.

Karena air yang berlimpah tersebut banyak memberikan manfaat, ia berharap pengunjung yang datang tidak membuang sampah di sekitar aliran air.

"Air terjun Cijalu dan Cikondang ini salah satu hulu Sungai Cilamaya dan telah memberi manfaat bagi kami. Seharusnya, berkah dan manfaat seperti ini bisa dirasakan juga oleh warga lainnya di daerah hilir yang justru mendapat air sungai yang kotor," kata Asep.

Kondisi hilir Sungai Cilamaya memang tidak seberuntung kawasan hulu. Sungai Cilamaya berhilir di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, atau berbatasan dengan Kabupaten Karawang. Sepanjang aliran sungai yang melintasi Kabupaten Subang, Karawang, dan Purwakarta ini diduga sudah tercemar limbah industri. Penanganannya pun harus lintas sektoral karena melibatkan beberapa kabupaten.

"Justru industri yang sering membuang limbah tanpa melewati IPAL itu kebanyakan dari Purwakarta dan Karawang. Pencemaran Sungai Cilamaya sudah di atas ambang batas. Tingkat pencemarannya sangat tinggi," kata Kabid Pengawasan dan Pengendalian BPLHD Subang, Nano Sumpena.

Pihaknya berharap Pemprov Jabar bisa turun tangan dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan di Kabupaten Subang. "Kami hanya berharap Sungai Cilamaya tidak bernasib seperti Sungai Citarum," kata Nano. (*)

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Darajat Arianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved