Sabtu, 30 Mei 2026

Ikan Mas Merah Beranting Emas di Situ Patenggang

WARGA di sekitar Situ Patenggang di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Bandung, berbaur di tepi situ, Jumat (11/1) sore. Mereka terdiri

Tayang:
Penulis: Agung Yulianto Wibowo | Editor: Darajat Arianto
WARGA di sekitar Situ Patenggang di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, berbaur di tepi situ, Jumat (11/1) sore. Mereka terdiri dari anak-anak, perempuan, dan laki-laki. Sembari berdiri, semua turut menebar sejumlah ikan mas dari karung ke tengah-tengah situ.

Kegiatan menebar ikan ini merupakan satu rangkaian dari ritual Sukuran Situ, yang dilaksanakan setahun sekali. Syukuran ini adalah upacara sakral, yang nanti disusul dengan gebyar situ yang biasanya dilaksanakan pada pertengahan tahun.

Ketua Kompepar Mikadedeuh Situ Patenggang, Abah Ebed didampingi Asep Ester mengatakan, inti Sukuran Situ adalah menebar ikan mas dan recak nasi tumpeng. Kegiatan ini sendiri sudah mulai dilaksanakan sejak lama, sebagai kearifan lokal.

"Ikan mas yang ditebar sebanyak 1,2 kuintal. Syukuran ini lebih kepada tasyakur, penghargaan terhadap ekosistem yang mengarah pada lingkungan. Situ Patenggang daya tariknya memancing, dan masyarakat sekitarnya juga banyak yang memancing. Ketika banyak yang dipancing, harus ada yang dikembalikan," katanya.

Dia menambahkan, pada gebyar pertengahan tahun nanti, ada penaburan ikan mas merah seberat 0,5 kilogram yang diberi anting emas 0,5 gram. Filosofis ikan mas merah itu menandakan ciri kejayaan dan keberkahan masyarakat Sunda, sedangkan emas adalah barang yang mulia.

"Upacara ini sudah dilakukan sejak sekitar 1970-an. Kegiatannya berupa laporan Kompepar, zikir bersama, tausiah, tabur ikan, dan rencak tiga tumpeng. Untuk rangkaian rencak tiga tumpeng, angka tiga berarti air, tanah, dan hutan. Ini potensi alam yang juga menjadi sumber kehidupan manusia," katanya.

Syukuran harus dilaksanakan setiap Jumat dan pada awal Maulud. Hanya sehari dilakukan. Sedangkan gebyar pada pertengahan tahun nanti, akan dilaksanakan selama tiga hari. Kegiatan ini bentuk penghargaan masyarakat Situ Patenggang yang sudah turun temurun, dan kahurun kearifan lokal.

"Dulu, air situ pernah sampai meluap dan menggenangi tempat warga di sekitarnya pada 1998 dan 2002. Kepercayaan masyarakat, itu karena tidak dilakukan Sukuran Situ Patenggang. Selain itu ada tanda-tanda memasuki bulan Maulud, yaitu keluarnya ikan-ikan nilem," ujarnya.  (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved