Angry Bird Pun Ikut Arak-arakan Sedekah Bumi
Tujuan mereka satu, yakni menuju ke kompleks makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati. Dari Alun-alun Gunungjati,
Penulis: Tarsisius Sutomonaio | Editor: Darajat Arianto
SEKITAR pukul 12.30, Jumat (23/11), sepanjang Jalan Raya Gunungjati, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, mulai berubah menjadi lautan manusia. Orang dewasa, remaja, dan anak-anak kecil tak menyerah pada terik yang menyengat.
Tujuan mereka satu, yakni menuju ke kompleks makam Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati. Dari Alun-alun Gunungjati, masih menyatu dengan kompleks makam Gunungjati, sekitar 270 jenis arak-arakan berukuran raksasa mulai bergerak. Beberapa di antaranya adalah replika Pandawa, kereta kencana, Pangeran Gajah, dan naga berkepala manusia.
Namun, tidak semuanya berkaitan dengan peninggalan masa lalu. Di antara arak-arakan itu, ada juga replika angry bird besar. Sekitar pukul 14.00, Alun-alun Gunungjati penuh sesak. Jalan dari arah Jalan Raya Gunungjati menuju Alun-alun Gunungjati di kompleks pasar pun penuh dengan manusia.
Pembawa acara, di hadapan Sultan Kanoman XIII Muhammad Emirudin dan Pangeran Mahmud dari Keraton Kasepuhan Cirebon, melalui pengeras suara menyebutkan acara ini adalah acara tahunan yang diikuti warga dari Kecamatan Gunungjati, Kecamatan Kapetakan, Kecamatan Weru, dan Kecamatan Suranenggala.
Begitulah suasana hari pertama rangkaian tradisi tahunan Sedekah Bumi dan Pesta Laut (Nadran) di Kecamatan Gunungjati, Jumat (23/11). Selanjutnya, replika-replika raksasa itu diarak sepanjang Jalan Raya Gunungjati ke Bundaran Krucuk (di depan Gedung Negara) Kota Cirebon. Sebagian replika itu bergerak mengandalkan tenaga manusia dan sebagian menggunakan mobil.
Kontan jalanan sepanjang sekitar dua kilometer itu pun macet total. Sebagian warga yang tak masuk ke alun-alun berkerumun di sisi kiri dan kanan jalan demi menyaksikan arak-arakan. Tiap tahun, pembukaan tradisi Sedekah Bumi dan Nadran di Gunungjati makin ramai.
"Tahun lalu, jumlah peserta yang terdaftar 250, sedangkan tahun ini ada 270 peserta yang terdaftar," kata sang pembawa acara. Angka itu belum termasuk arak-arakan dari kelompok spontanitas. Para peserta bekerja secara swadaya untuk membuat replika berukuran raksasa. Jutaan uang pun dikeluarkan untuk membuat satu replika.
Untuk membuat replika naga laut, misalnya, dibutuhkan uang sekitar Rp 5 juta. "Namun, kami harus kumpulkan selama satu bulan dari sumbangan ikhlas dari warga satu blok," ujar anggota kelompok pembuat replika naga laut, Iing Rofii (55). Menurut warga Blok Piliran, Desa Kalisapu, Kecamatan Gunung Jati, itu, para pemudalah yang berperan menciptakan kreasi-kreasi tersebut.
Namun, ucapnya, pengeluaran senilai itu layak untuk sebuah acara besar seperti Sedekah Bumi dan Nadran. Ungkapan terima kasih atau syukur atas panen, baik hasil pertanian ataupun hasil laut. Tak peduli berapa pun jumlah panen sebelumnya karena Sedekah Bumi dan Pesta Laut pun mengandung harapan.
"Sedekah Bumi dan Pesta Laut mengandung doa agar para petani dan nelayan mendapat lebih banyak panenan daripada tahun lalu," ucap Aminah (45), warga Gunungjati, yang menyaksikan iring-iringan dari sisi jalan. Sejak pukul 12.00, bersama dua putrinya, Aminah setia menyaksikan semua replika yang ada.
Arak-arakan ini berlangsung hingga menjelang magrib. Dari Gedung Negara, arak-arakan ini kembali ke Alun-alun Gunungjati. Humas Polres Cirebon, Iptu Hasanudin, menyatakan sebanyak 200 personel polisi menjaga keamanan serta mengatur lalu lintas selama acara Sedekah Bumi dan Nadran berlangsung. (*)