Bis Surat Ditelan Zaman
Sekitar 2-3 dekade silam, untuk memudahkan komunikasi, selain bertelepon, cara lain yang tergolong efektif
Penulis: | Editor: Januar Pribadi Hamel
Dulu, Bis Surat menjadi sarana berkirim surat yang sangat dibutuhkan. Itu karena, tidak sedikit orang yang malas mengirimkan surat ke kantor pos secara langsung.
Seiring dengan perkembangan, secara perlahan, keberadaan Bis Surat pun tersisihkan. "Setidaknya, sampai akhir 1990-an, Bis Surat masih berfungsi dan produktif," kata Kepala Kantor Mail Proccessing Center (MPC) PT Pos Indonesia, Salman, di tempat kerjanya, Jalan Soekarno-Hatta 588 Bandung, Kamis (5/7).
Kenyataan sekarang Bis Surat memang sudah mulai ditinggalkan masyarakat yang biasa berkirim surat. Bis Surat di depan kantor Pos dan Giro di Jalan Cihampelas No 108, misalnya langsung tercium bau pesing menusuk hidung. Kondisi Bis Suratnya masih terlihat cukup bagus. Hanya bagian depan kotak berwarna oranye yang memiliki tinggi sekitar 2 meter itu ada bekas tempelan kertas stiker. Samping kiri dan kanannya pun terlihat ada bekas orang menempelkan semacam propaganda.
Berdiri di antara sebuah kios dan telepon umum, tiang lampu penerangan jalan umum, tanaman pinggir jalan tumbuh tak jauh dari Bis Surat itu berdiri.
Subardan (71), seorang pemilik kios yang lokasinya tak jauh dari Bis Surat di Jalan Cihampelas, tak memungkiri kalau di sekitar Bis Surat itu bau pesing. Subardan mengaku masih sukam melihat orang yang kerap mengirim surat melalui Bis Surat itu.
Bis Surat ini satu dari beberapa Bis Surat yang Tribun jumpai dan kondisinya kurang lebih sama. Seperti di kawasan Jalan Merdeka, Jalan Cipaganti, Jalan LRE Martadinata, dan beberapa lokasi lainnya.
Benda berwarna oranye yang berada di pinggir jalan ini, sekarang banyak yang tak terawat. Penuh dengan tempelan poster reklame beraneka ukuran yang mempromosikan mulai dari jasa sedot wc, olah statistik, rumah kos atau pengobatan alternatif, dan lain-lain.
Sejak hadirnya telepon seluler, sekitar tahun 2000-an, kata Salam, Bis Surat mulai ditinggalkan penggemarnya. Ponsel membuat banyak kalangan memilih mengirimkan pesan singkat (SMS) daripada berkirim surat yang bersifat personal.
"Kalau mengirim SMS, saat itu kita kirim, detik itu juga pesannya sampai. Sedangkan surat butuh waktu setidaknya kalau menggunakan prangko kilat sekitar 1-2 hari," katanya.
Kondisi dan keberadaan Bis Surat semakin ditinggalkan publik, khususnya, yang berkirim surat secara antar-personal, seiring dengan kehadiran smartphone, semisal blackberry, android, dan sebagainya.
"Itu membuat orang semakin mudah dan cepat berkomunikasi. Belum lagi adanya surel (surat elektronik alias e-mail), ditambah jejaring sosial, seperti facebook, twitter," katanya.
Kehadiran alat-alat komunikasi canggih itu membuat banyak Bis Surat di wilayah Bandung Raya, yang terdiri atas Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, plus Kota Cimahi, yang tidak produktif. Menurutnya, sampai saat ini, di wilayah Bandung Raya, terdapat sekitar 86 unit Bis Surat yang tersebar di berbagai titik. "Sebanyak 61 unit di antaranya, Bis Surat kecil. Sisanya, berukuran besar," ucapnya.
Di tempat yang sama, Assisten Manajer Sarana Kantor Mail Proccessing Center (MPC) PT Pos Indonesia, Agus Widodo, menambahkan, dari 86 unit Bis Surat itu, pihaknya menganggap sebanyak 35 unit di antaranya tidak lagi produktif. "Artinya, benar-benar tidak ada orang yang mengirim surat melalui ke-35 Bis Surat tersebut. Antara lain, di kawasan Jalan Riau, Cicaheum, Buahbatu (dekat Griya)," katanya.
Karenanya, pihaknya mengajukan usul kepada PT Pos Indonesia untuk menarik ke-35 Bis Surat yang tidak lagi produktif tersebut.
Seandainya ada persetujuan, kata dia, pihaknya mengajukan beberapa opsi, di antaranya mengalihkan Bis Surat pada titik-titik yang lebih produktif atau meleburnya. "Tapi, jika belum ada putusan, kami menyimpannya," jelas Widodo. (win/dic)