Perempuan Asal Bandung Jadi Polisi di Amerika (3-Habis)
Saya Rindu Banget Makanan Indonesia
Marie, yang memutuskan menjadi polisi di Amerika, mengaku punya keinginan bergabung dengan TNI Angkatan Darat. Namun, katanya, orang tuanya tidak menyetujui keinginannya.
Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Deni Denaswara
Kisah Sebelumnya
PERUSAHAAN yang dikelola Marie, sapaan akrab Maria, di bidang desain interior, ternyata tidak terlalu berkembang karena krisis ekonomi yang melanda Amerika. Dia harus memilih pekerjaan yang lebih aman dari pemecatan, potong biaya, dan lain-lain. Untuk itulah dia harus menjadi pekerja pemerintahan. Dia pun memilih untuk menjadi polisi (bukan detektif seperti pada judul atas pada dua tulisan sebelumnya, Red).
MARIE, yang bersuamikan berkebangsaan Amerika, harus memutuskan pindah ke negeri Paman Sam. Dia pindah ke sana pada 1999. "Pacar (sekarang suami) tidak mungkin tinggal di Indonesia karena bekerjanya di sini (Amerika, Red). Jadi saya putuskan untuk berhenti kuliah dan melanjutkan kuliah saya dari Itenas ke UNCG," ujarnya kepada Tribun melalui surat elektronik, Kamis (9/2) pagi.
Marie, yang memutuskan menjadi polisi di Amerika, mengaku punya keinginan bergabung dengan TNI Angkatan Darat. Namun, katanya, orang tuanya tidak menyetujui keinginannya. "Mereka (orang tua Marie, Red) bilang masa anak perempuan mau gabung militer, nanti dikirim perang. Di Indonesia saya sempat bergabung dengan wajib militer. Satu program di Indonesia untuk menggantikan ospek di salah satu universitas di Indonesia," katanya.
Marie juga menceritakan perjalanan studinya sebelum pindah ke Amerika. Ia sempat belajar Sastra Inggris selama setahun di Universitas Kristen Maranatha. Karena tidak begitu suka, dia pun pindah ke Itenas untuk belajar di bidang desain interior.
Saat ditanya apakah ia bercita-cita jadi polisi di Indonesia, Marie menjawab bahwa tidak ada keinginan untuk itu meski ia tertarik dengan dunia forensik, investigasi, dan kriminal.
"Pernah sih bercita-cita jadi detektif, hanya keadaan di Indonesia tidak memungkinkan untuk saya menjadi polisi karena faktor keluarga, teman, pendidikan, budaya, dan lain-lain," katanya.
Profesinya menjadi polisi sebetulnya tidak sesuai dengan keinginan keluarganya. Keluarganya sama sekali tidak berharap dia bekerja di instansi pemerintah. Justru menjadi desainer interior, kata Marie, sedikit ada hubungan dengan pekerjaan bapaknya, yang insinyur sipil.
Menurut Marie, masyarakat di Amereka individualistis, jarang ada orang yang peduli pada orang lain. "Mau jadi ini itu terserah, mungkin karena budayanya lain dengan budaya Indonesia yang akrab dan dekat dengan lingkungan," kata Marie dalam surat elektroniknya.
Menurut dia, impiannya saat ini yang belum tercapai adalah melanjutkan pekerjaan sebagai desainer interior. "Untuk pekerjaan sampingan mungkin kalau ekonomi membaik," ujarnya.
Di bidang kepolisian ia bercita-cita untuk menjadi detektif di bidang special investigative unit, yang berhubungan dengan child crime, senior citizen crime, dan sex crime.
Ia mengatakan bahwa dulu pernah mencoba melamar ke FBI, tapi ditolak karena pendidikannya terlalu spesifik, yakni desain interior. "Mereka maunya dari edukasi yang umum, seperti sejarah, manajeman bisnis, atau ekonomi," katanya.
Kendati sudah menjadi deputy sheriff, ia tidak pernah bercita-cita untuk menjadi sheriff. Baginya terlalu banyak unsur politik yang mesti dilakukan untuk mencapai posisi tersebut. "Saya tidak begitu senang dengan urusan politik," katanya.
Dia berpesan untuk mahasiswa Indonesia, khususnya anak Bandung, agar tidak gampang menyerah. "Anak Bandung pokoknya paling asyik, deh! Jangan gampang menyerah, berjuang terus untuk mencapai cita-cita, meskipun bukan cita-cita utama, yang penting sukses, jadi anak berguna untuk nusa dan bangsa meskipun dapatnya di negara orang lain," katanya.
Ia berpesan hendaknya bisa memanfaatkan keuntungan dari negara lain untuk selanjutnya diberikan kembali ke tanah air di masa mendatang. "Saya rindu keluarga. Namun karena teknologi sudah canggih (dibanding tahun 90-an), jadi gak begitu rindu. Ada internet, telepon, dan lainnya. Yang saya rindu banget makanan Indonesia. Meskipun ada di sini, rasanya beda, kan? Bahannya juga beda," katanya.
Untuk mengobati rasa rindunya, ia sempatkan waktu untuk makan di resto yang menyediakan makanan-makanan Indonesia. "Aku sempatkan makan, Ha-ha-ha-ha-ha... apa lagi kalau bukan makan makanan Indonesia. Paling saya suka main-main dengan komunitas Indonesia di sini. Biasa deh kalau orang Indonesia di sini gabung, ujung-ujungnya makan lagi makan lagi," ujarnya. (*)