Selasa, 26 Mei 2026

SENI TRADISIONAL

Mandi Bersama di Pusat Air Berharap Keberkahan

Menurut budayawan Sunda, Abah Dasep Arifin, kegiatan Ngabungbang atau mandi bersama pada tengah malam, merupakan tradisi turun temurun masyarakat di setiap pertengahan bulan Maulud. Esensi dari ngabungbang merupakan kegiatan silaturahmi antarsesama yang d

Tayang:
Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Deni Denaswara

RATUSAN warga berpakaian balutan kain putih dan ikat kepala kain putih barbaur dalam suasana sakral dan penuh kegembiraan di kaki Gunung Tangkuban Perahu, kawasan Curug (air terjun) Pangadegan, Kampung Babakan Pacekom (Pacekaman), Desa Nagrak, Kecamatan Ciater, Subang, Selasa (7/2) malam.

Menurut budayawan Sunda, Abah Dasep Arifin, kegiatan Ngabungbang atau mandi bersama pada tengah malam, merupakan tradisi turun temurun masyarakat di setiap pertengahan bulan Maulud. Esensi dari ngabungbang merupakan kegiatan silaturahmi antarsesama yang diikuti mandi bersama di pusat air untuk mensucikan diri dengan harapan akan mendapatkan berkah dan kesejahteraan serta dijauhkan dari segala malapetaka.

"Sekarang ini memang sudah jarang masyarakat yang menggelar acara ngabungbang. Kalau pun ada terlihat sudah agak bergeser dari esensinya. Mereka hanya melakukan berjalan berkeliling sebagai simbol mencari pusat air begitu ketemu langsung mandi bersama di tengah malam tapi pemahaman intinya tidak disampaikan.

Tradisi ngabungbang itu upacara membersihkan diri yang secara simbolis dilakukan menggunakan air sebagai lambang kerahayuan yang juga intinya menjalin silataruhmi. Karenanya dengan adanya acara ini, semoga menjadi salah satu upaya untuk meluruskan bentuk tradisi seni budaya ngabungbang sekaligus untuk mengenalkan pada generasi muda," kata Abah Dasep di sela-sela pergelaran acara.

Ditambahkan Abah Dasep, traidisi ngabungbang itu berdasarkan penelusurannya dimulai sejak abad ke-15 yakni tahun 1593 pada masa Ranggawale dan Eyang Khair (penemu Silat Cimade). Ketika itu menjelang akan runtuhnya Kerajaan Padjadjaran, sehingga kepercayaan masyarakat saat itu pun berada pada masa peralihan dari Hindu ke Islam.

"Sehingga pada ritual tradisi ngabungbang itu juga terlihat adanya gerakan-gerakan menyucikan diri secara Islam atau berwudu. Jadi sebetulnya pada tradisi itu juga tersirat salah satu syiar Islam tentang cara berwudu," papar Abah Dasep.

Kadisparbud Jabar Drs Nunung Sobari MM mengatakan acara ritual budaya yang digelar masyarakat bisa menjadi daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan mancanegara. Karena selama ini suguhan obyek wisata dalam bidang seni budaya kepada turis kebanyakan berupa seni pertunjukan. Sementara para turis pun banyak yang ingin melihat keberlangsungan hidup masyarakat lokal yang masih menjalankan tradisi seni budayanya.

"Seni tradisi upacara adat masyarakat ini utamanya banyak disukai turis dari Eropa. Karena itu Disparbud Jabar siap membantu dalam mempromosikannya sebagai salah satu obyek kunjungan wisata, namun acara ini harus menjadi acara rutin dulu, dan jika ingin diajukan menjadi program pemeritah (Pemprov Jabar) harus diajukan setahun sebelumnya," kata Nunung. (ddh)
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved