Marzuki: Rp 14,5 Miliar Masih Mahal

JAKARTA, TRIBUN - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie menilai pengurangan biaya renovasi ruang kerja Badan Anggaran atau Banggar DPR sekitar Rp 5 miliar masih sedikit. Marzuki meminta kepada Sekretaris Jenderal DPR Nining Indra Saleh agar

Editor: Deni Denaswara

JAKARTA, TRIBUN - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie menilai pengurangan biaya renovasi ruang kerja Badan Anggaran atau Banggar DPR sekitar Rp 5 miliar masih sedikit. Marzuki meminta kepada Sekretaris Jenderal DPR Nining Indra Saleh agar mengurangi lagi biaya renovasi.

"Sekjen lapor ke saya. (Total pengeluaran) masih Rp 14,5 miliar. Saya bilang harga Rp 14,5 miliar masih mahal," kata Marzuki di Kompleks DPR, Jakarta, Jumat (3/2/2012).

Seperti diberitakan, pihak Setjen DPR menyebut akan mengganti tiga komponen, yakni kursi, lampu, dan sound system, untuk mengurangi biaya total renovasi sebesar Rp 20,3 miliar. Sebanyak 178 kursi yang diimpor dari Jerman telah dikeluarkan dari ruang Banggar dini hari tadi.

Marzuki menilai masih ada komponen yang terlalu mahal di ruang Banggar, yakni biaya teknologi informasi (IT). Pihak Setjen, kata dia, menyebut biaya IT mencapai Rp 7,5 miliar. Biaya itu seharusnya bisa ditekan.

"Saya bilang bisnis IT itu bisnis tisani, bisnis tipu sana tipu sini. Kita jangan dikendalikan oleh vendor, jangan dikendalikan konsultan. Maunya kita IT yang bagaimana. Mereka kasih macam-macam yang tidak kita perlukan," kata politisi Partai Demokrat itu.

"Ada unsur penipuan proyek IT Banggar?" tanya wartawan.

"Saya tidak tahu. Itu karena ketidaktahuan pengguna aja. Saya kan Ketua Forum IT untuk BUMN Semen. Saya bangun IT di Baturaja paling Rp 200 juta. Di pemborong bisa Rp 10 miliar," jawab Marzuki.

Seperti diberitakan, pihak Setjen menyebut mahalnya biaya renovasi itu lantaran interior yang menghabiskan dana hingga Rp 14 miliar. Padahal, jika sesuai ketentuan pemerintah, renovasi ruangan itu hanya sekitar Rp 2,7 miliar.

Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan serta Komisi Pemberantasan Korupsi tengah mengusut proyek itu. Belum diketahui ada tidaknya korupsi dalam proyek itu. (kompas.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved