Pementasan Teater Mun-Tangan Alif:
Antara Pelaksanaan Janji dan Nasehat Hidup
PERJALANAN manusia yang terlihat dalam setiap pemberitaan di media memang terkesan lebih berliku-liku. Padahal jika dilihat secara sederhana hanya ada sosok yang baik dan jelek. Itu pula yang digambarkan oleh HR Hidayat Suryalaga almarhum, dalam naskah d
Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Deni Denaswara
PERJALANAN manusia yang terlihat dalam setiap pemberitaan di media memang terkesan lebih berliku-liku. Padahal jika dilihat secara sederhana hanya ada sosok yang baik dan jelek. Itu pula yang digambarkan oleh HR Hidayat Suryalaga almarhum, dalam naskah drama Sunda pamungkasnya yang dipentaskan Teater Sunda Kiwari (TSK), di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang, Bandung, Kamis (2/2) sore.
Namun naskah yang ditulis almarhum selama tiga hari mulai tanggal 3-8 Februari 2009 itu sejalan dengan pementasan teaternya lebih menggiring audien dalam perjalanan hidupnya banyak melakukan kebaikan agar mencapai alam kebahagiaan.
Diawali dengan adegan dua tokoh utamanya, Bapuh Rohmana dan Ambu Rohimi yang mulai bangun dari tidurnya di alam dunia. Kemudian kedua tokoh ini melahirkan keturunanannya yang kemuduian keturunanya itu melahirkan keturunannya lagi, hingga bumi ini dipenuhi manusia.
Sesuai dengan keyakinan dari penulis yang beragama Islam, cerita pun banyak diilhami dengan tuntunan hidup yang islami. Diceritakan Bapuh dan Ambu lebih dulu meniti tahapan hidup dengan sikap-sikap kebaikan. Sehingga keduanya berhasil menaiki tahapan sikap mulai dari Islam, Iman, Ihsan, Soleh, Syahadat (tidak jadi orang yang bersaksi palsu), Sidikiah, dan mencapai Alam Barokah.
Tahapan yang dilalui Bapuh dan Ambu itu juga harus dilalui oleh semua keturunanannya dengan bekal kehidupan yang dikiaskan dalam sebungkus korek api yang bakal menerangi hidupnya dan meringankan bebannya bila digunakan pada kebaikan dan akan sebaliknya bila digunakan pada kejelekan.
Namun dalam usaha mencapai tahapan-tahapan itu sebagian keturunannya terjebak oleh godaan iblis. Mereka yang tergoda tak berhasil mencapai Alam Barokah yang menjadi tahapan ketujuh, tahapan akhir yang bisa berpegang pada Alif, atau berpegang kepada Yang Maha Kuasa. Karena di alam dunia mereka mengumbar nafsu keserakahan akan kekuasaan, harta, dan birahi dengan segala cara.
Ketika para keturunan Bapuh dan Ambu menemui akhir masa, mereka pun saling berlomba menaiki tahapan-tahapan. Suasana haru pun mulai terasa, didukung dengan musik pengiring bunyi tarawangsa dan tambur serta bunyi halilintar yang terus menggelegar.
Menurut Dadi P Danusubrata, Ketua Teater Sunda Kiwari (TSK), sekaligus sebagai sutradara pementasan tersebut mengatakan naskah karya almarhum HR Hidayat Suryalaga yang dipentaskan dengan durasi sekitar 90 menit itu kental dengan unsur religi. Karena didalamnya memiliki nilai tasawuf yang mengadopsi tulisan H Hasan Mustopa, yakni tentang 7 tahapan hidup mencapai kesempuranaan.
"Karenanya naskah ini berisi cermin kehidupan yang begitu dalam, karena menggambarkan tentang 7 tahapan hidup mencapai kesempuranaan," katanya saat ditemui wartawan sebelum pementasannya yang digelar hanya sehari dengan dua kali pertunjukkan, sore dan malam.
Adapun alasan dipentaskannya naskah drama Sunda karya almarhum budayawan HR Hidayat Suryalaga, dikatakan Dadi karena sudah menjadi pesan almarhum ketika masih hidup dan TSK pun sudah berjanji untuk mementaskannya bersamaan dengan peringatan hari lahirnya almarhum, pada 16 Januari. Namun budayawan yang konsisten pada kesundaan dan keislaman ini meninggal pada 25 Desember 2010.
Seperti yang tertulis pada penutup naskahnya (Tanceb Kayon) yang ditulis pada 12 November 2009, bahwa naskah itu ditulis sebagai tanda terimakasih kepada personel TSK, PP-SS dan Rumentang Siang. Almarhum juga menuliskan bahwa ia berharap bisa menyaksikan saat naskahnya dipentaskan oleh TSK, tapi kalaupun tidak, juga bisa disaksikan dari tahap kedua.
"Maka TSK juga berjanji akan mememntaskannya, dan baru sekarang ini bisa terealisasi. Dan naskah Mun-Tangan Alif juga masuk dalam nominasi pemenang hadiah Rancage 2012, sehingga semakin menggugah TSK untuk mementaskannya," ujar Dadi. (ddh)