Kamis, 23 April 2026

Orang Indonesia Sulit Menerima Feedback dari Orang Lain dan Cenderung Baper

Perempuan ini membagikan ilmu yang didapatnya saat berkeliling dunia kepada masyarakat Indonesia. Ia membuat perusahaan User Experience (UX).

istimewa
Eunice Sari CEO and Co Founder of UX Indonesia. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Berkembangnya teknologi di Indonesia membuat banyak perubahan yang terjadi mulai dari budaya hingga kebiasaan manusianya.

Kurangnya edukasi akan bagaimana cara menghadapi tantangan perubahan teknologi membuat masyarakat Indonesia "kaget" dan justru tidak mampu me-manage antara kehidupan asli dan kehidupan di media sosial.

Seorang wanita Indonesia, Eunice Sari, pergi berkelana keliliing dunia untuk mempelajari bagaimana perbedaan teknologi yang hadir.

Ilmu yang didapatnya dibagikan kepada masyarakat Indonesia, hingga akhirnya ia membuat sebuah perusahaan teknologi dengan nama User Experience (UX).

UX atau user experience melihat kepuasan seseorang ketika menggunakan produk berbasis teknologi, seperti website atau mobile apps.

Kepuasan itu biasanya muncul karena kemudahan penggunaan teknologi tersebut atau pengalaman menyenangkan yang diperoleh ketika menggunakannya.

Telah melakukan riset ke berbagai belahan dunia, Eunice Sari mengatakan setiap negara memiliki perbedaan masing-masing dalam menerima teknologi.

"Di Jepang itu kehidupannya sudah berbasis teknologi tapi mereka tidak menganggap hal yang mereka lakukan adalah bagian dari teknologi," ucap Eunice Sari setelah mengadakan acara di Cihampelas Walk, Jalan Cihampelas No. 160, Jumat (15/2/2019).

Di Indonesia penggunaan teknologi dibagi dalam kategori tertentu. Generasi dengan kategori usia lanjut usia merasa kesulitan untuk mengenal bagaimana teknologi saat ini.

Berbeda halnya dengan di Jepang, Eunice memberi contoh orang lanjut usia yang menggunakan vcd player untuk menonton film dibuat dengan bentuk yang sama tapi di dalamnya dirangkai dengan teknologi yang sudah canggih.

"Ketika di Scandinvia masyarakat yang hanya sebagai pengguna teknologi bisa ikut berartisipasi dalam proses pembuatan perancangan teknologi atau produk berbasis teknologi," ujarnya.

Teknologi di Jerman pun begitu kencang, ketika pemerintah membangun fasilitas publik seperti museum atau perpustakaan, masyarakat bisa memberikan masukan dan justru dijadikan konsultan untuk mengetahui lebih jauh akan berfungsinya fasilitas ini.

"Konsultan ini akan dikumpulkan, tidak hanya sekadar focus group discussion yang biasanya hanya satu orang yang banyak berbicara. Semua orang berpendapat dan demokratis sekali," ujarnya.

Lalu bagaimana ketika teknologi dibawa ke Indonesia? Peraih first female Asian Goggle Expert in product desain and strategy ini mengaku sulit membawa hal ini ke Indonesia.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved