Jaksa KPK Sebut Tanpa Rekomendasi Billy Sindoro, Uang Suap Perizinan Meikarta Tidak Akan Cair

Peran terdakwa Billy Sindoro dan Toto Bartholomeus mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang berperan penting dalam mengucurkan uang suap

Jaksa KPK Sebut Tanpa Rekomendasi Billy Sindoro, Uang Suap Perizinan Meikarta Tidak Akan Cair
Tribun Jabar/Mega Nugraha
Terdakwa kasus Meikarta, Billy Sindoro tangannya hendak dipakaikan borgol. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Peran terdakwa Billy Sindoro dan Toto Bartholomeus mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang berperan penting dalam mengucurkan uang suap untuk memuluskan perizinan proyek Meikarta. Hal ini terungkap di persidangan kasus itu di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (11/2/2019).

Di persidangan dengan menghadirkan Edy Dwi Soesianto selaku Kepala Divisi Land Ackuitition atau dikenal Edy Soes itu, jaksa KPK memutar percakapan telpon antara Edy Soes dengan terdakwa Fitradjaja Purnama.

Percakapan itu membahas soal penanganan banjir yang mengharuskan pengembang berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Di percakapan itu, Fitra menjawab ‎akan melaporkan itu ke terdakwa Billy Sindoro.

"Memang itu percakapan saya. Saat itu, Pak Fitra menjawab untuk mengatasi masalah mandegnya perizinan akan lapor dulu ke Pak Billy," ujar Edy.

Edy juga berperan mempertemukan James Riady, Toto Bartholomeus dan Billy Sindoro dengan Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin yang menurut dakwaan jaksa, menerima total suap senilai Rp 16 miliar lebih.

"Saat itu pak Toto menghubungi saya, menyampaikan permintaan bahwa pak James Riady dan pak Billy akan menemui bu Neneng. Pak Toto bilang, biasanya kan pak James tidak mau bertemu, tapi sekarang mau bertemu. Jadi ini harus dimanfaatkan," ujar Edy Soes‎.

Akhirnya, Edy Soes menghubungi EY Taufik selaku ASN Pemkab Bekasi, orang dekat Neneng. "Saya sampaikan ke pak Taufik untuk mengatur pertemuan itu. "Pertemuannya jadi, tapi saya tidak ikut. Sepemahanan saya, pertemuan itu memang membahas perizinan Meikarta," ujar Edy.

Wanita PNS di Disdik KBB Ini Ditangkap Polisi jadi Pengedar Narkoba, Jejaring Lapas

Pernyataannya itu sekaligus membantah kesaksian James Riady pada pekan lalu yang membantah pertemuan dengan Neneng membahas Meikarta dan hanya menjenguk Neneng yang baru melahirkan bayi.

Peran Billy Sindoro kembali diungkit saksi Achmad Bahrul Ulum, sopir pribadi Henry Jasmen. Menurutnya, Henry menyebut Billy Sindoro dengan sebutan Babe atau terkadang Henry.

"Saya sering dengar saja pak Henry menelpon pak Billy, seringkali pakai sebutan Pak Bis, atau Babe. Tapi kalau pak Billy nelpon, pak Henry nyuruh saya ke luar (mobil)," ujar Achmad.


Seperti diketahui, di persidangan menurut Edy Soes, mengungkap soal peran tim pusat yang dikomandoi Billy Sindoro dan tiga terdakwa Fitradjaja Purnama, Henry Jasmen dan Taryudi. Ketiganya bergerak secara operasional mengurus perizinan dan melaporkannya ke Billy Sindoro.

Jaksa KPK, Yadyn usai sidang menjelaskan, dari keterangan saksi di persidangan serta percakapan telpon, uang suap yang dikeluarkan dipahaminya, tidak akan keluar tanpa rekomendasi Billy Sindoro.

"Tanpa rekomendasi petinggi itu (Billy Sindoro dan Toto Bartholomeus), uang tidak mungkin keluar. Dan itu sudah kami buktikan di persidangan dengan bukti, keterangan saksi dan percakapan yang kami hadirkan di persidangan. Di percakapan telpon, Fitradjaja mengatakan wajib laporan ke Billy," ujar Yadyn.

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved