Kisah Adik Menjadi Punggawa Panurung Gedung Negara, Berdiri Bawa Tombak Tak Boleh Bergerak

Kisah Adik menjadi Punggawa Panurung Gedung Negara. Tugas berat, tapi ia merasa bangga.

Kisah Adik Menjadi Punggawa Panurung Gedung Negara, Berdiri Bawa Tombak Tak Boleh Bergerak
Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Seorang Punggawa Panurung tengah bertugas di Gedung Negara Sumedang. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Keberadaan Punggawa Panurung di Gedung Negara menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat sekitar hingga wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Sumedang.

Di halaman Gedung Negara yang ada di komplek Pendopo Kabupaten Sumedang, berdiri seorang penjaga yang mengenakan seragam merah kuning, bercelana putih, serta bertopi.

Satu penjaga lagi mengenakan kaus hitam, celana pangsi, dan ikat kepala biru.

Kedua orang itu, berdiri tegak tepat di depan halaman Gedung Negara sambil memegang senjata menyerupai tombak dan menatap tajam lurus ke depan seperti pengawal zaman dahulu.

Seorang Punggawa Panurung, Adik Rochmatulloh (18), mengatakan, menjadi seorang prajurit di Gedung Negara merupakan pekerjaan berat.

Ia menjalaninya sejak 2 Januari 2019.

Gedung Negara yang ada di Sumedang kini dijaga Punggawa Panurung dari Keraton Sumedang Larang.
Gedung Negara yang ada di Sumedang kini dijaga Punggawa Panurung dari Keraton Sumedang Larang. (Tribun Jabar/Hakim Baihaqi)

"Berat karena harus berdiri setiap harinya sambil melihat ke arah pintu keluar," kata Adik kepada Tribun Jabar, Sabtu (2/2/2019).

Punggawa Panurung di halaman Gedung Negara sebanyak enam orang.

Seorang Punggawa Panurung akan berjaga selama 30 menit lalu bergantian dengan penjaga lainnya.

Saat berjaga selama waktu 30 menit, Punggawa Panurung tidak diperbolehkan melakukan aktivitas lainnya, selain memantau kondisi serta situasi Gedung Negara.

Punggawa Panurung yang menjaga Gedung Negara di Sumedang.
Punggawa Panurung yang menjaga Gedung Negara di Sumedang. (Tribun Jabar/Hakim Baihaqi)

Adik mengatakan, selama 30 menit ia harus fokus menjaga situasi di halaman Gedung Negara dan ia sempat kesulitan di awal-awal masa tugasnya.

"Sering kesemutan, kalau gatal atau harus ditahan," katanya.

Meski merasakan keletihan menjadi seorang prajurit, Adik merasa bangga lantaran melestarikan budaya Sumedang.

"Anak muda tidak cuma diam saja, tapi bisa berkontribusi juga," katanya.

Gedung Negara Sumedang Kini Dijaga Punggawa Panurung Keraton Sumedang Larang, Jadi Sasaran Selfie

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: taufik ismail
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved