Bulan Ini Saja, Jumlah Kasus DBD di Kabupaten Bandung Mencapai Angka 211 Kasus
Jumlah kasus ini tersebar di puluhan desa di Kabupaten Bandung. Namun menurutnya hingga saat ini belum ada korban jiwa akibat DBD tersebut.
Penulis: Mumu Mujahidin | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mumu Mujahidin
TRIBUNJABAR.ID, SOREANG - Jumlah kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bandung per Januari 2019 meningkat sebanyak 211 kasus dari tahun sebelumnya di bulan yang sama sebanyak 189 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Deni Jaeni menuturkan jumlah kasus DBD di Kabupaten Bandung per Januari 2019 mencapai 211 kasus, jumlah tersebut meningkat setelah masuknya laporan dari Rumah Sakit Al Ihsan.
"Kemarin memang jumlahnya masih 67 kasus sebelum masuk laporan dari Rumah Sakit Al Ihsan. Tapi hari ini jumlah kasus DBD setelah laporan masuk menjadi 211 kasus. Jumlah ini meningkat dari bulan yang sama di tahun lalu," tuturnya di Soreang, Selasa (22/1/2019).
Kisah KSAD Bambang Soegeng Ditilang di Jogja, Polisi Kaget saat Lihat SIM-nya >> https://t.co/TCsAV5SHG5https://t.co/AKqu9WVn2Q via @tribunjabar
— Tribun Jabar (@tribunjabar) January 22, 2019
Jumlah kasus ini tersebar di puluhan desa di Kabupaten Bandung. Namun menurutnya hingga saat ini belum ada korban jiwa akibat DBD tersebut.
Sementara berdasarkan data 2018 jumlah kasus DBD di Kabupaten Bandung mencapai 1794 kasus dengan jumlah korban jiwa mencapai 11 orang. Adanya korban meninggal akibat DBD ini disebabkan lambatnya penanganan pascaterjangkit DBD.
"Alhamdulillah sejauh ini belum ada korban jiwa. Mudah-mudahan kedepannya tidak ada korban jiwa seperti tahun lalu," katanya.
• Ini Penyebab Guru Bantu Daerah Terpencil di Kabupaten Cirebon Tak Digaji Selama 2018
Deni menuturkan berdasarkan data 2018, dari 260 desa terdapat 176 desa yang ditetapkan sebagai daerah endemik DBD. Jumlah kasus DBD ini hampir tersebar rata di setiap kecamatan di Kabupaten Bandung.
"Jumlah kasus tersebar hampir di setiap kecamatan. DBD juga terjadi hampir di setiap bulan karena, penyakit ini tidak mengenal musim atau siklus. Jumlah kasus terbanyak biasanya terjadi di Desember-Januari," ujarnya.
Deni menuturkan jumlah kasus DBD ini masih terus meningkat, selain faktor cuaca, hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat.
• Ini Penyebab Guru Bantu Daerah Terpencil di Kabupaten Cirebon Tak Digaji Selama 2018
Untuk itu Dinkes sudah melakukan upaya preventif dengan membuat surat edaran ke setiap kecamatan untuk mewaspadai DBD dengan cara PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan 4M (Mengubur, Menutup, Menguras dan Memantau).
Dikatakannya pemantauan ini bisa dilakukan oleh juru pemantau jentik (Jumantik) dari setiap desa. Namun diakuinya sejauh ini dari 260 desa baru ada 67 kader jumantik di 67 desa. Oleh karena itu Dinkes menghimbau setiap desa untuk membentuk kader jumantik, untuk kemudian dilatih oleh Dinkes.
"Kami menghimbau kepada masyarakat sebagai langkah antisipasi segera berobat ke puskesmas atau ke pelayanan kesehatan terdekat jika terjadi panas selama dua hari," pungkasnya.
• Ini Penyebab GBDT di Kabupaten Cirebon Belum Digaji Selama Tahun 2018