Alat Musik dari Bambu Ini Tembus Pasar Internasional, Ternyata Asli Cimahi
Komunitas IBC (Indonesian Bamboo Community) membuat sebuah produk alat musik berbahan bambu yang diberi nama Virageawie
Penulis: Resi Siti Jubaedah | Editor: Theofilus Richard
Laporan wartawan Tribun Jabar, Resi Siti Jubaedah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Komunitas IBC (Indonesian Bamboo Community) membuat sebuah produk alat musik berbahan bambu yang diberi nama Virageawie.
Beberapa alat musik yang dibuat adalah gitar, bass, drum, dan kecapi.
Bahan yang mudah didapat dan harga yang murah menjadi alasan IBC memproduksi alat musik yang terbuat dari bambu.
"Karena di Indonesia bambu melimpah, tidak hanya di Jabar, bahkan di daerah lainnya juga banyak, hampir sama seperti rumput, mudah ditemui dan jenisnya berbeda pula," ujar Wakil Ketua IBC, Hafid Fadillah (26), saat ditemui Tribun Jabar, di pameran 'Cooperative Fair Jabar', Halaman Barat Gedung Sate, Jumat (10/8/2018).
• Jusuf Kalla Dikabarkan Akan Gabung Tim Sukses Jokowi dan Maruf Amin
Inspirasi membuat alat musik ini berawal ketika Ketua IBC ingin memperbaiki biolanya yang patah.
Sang pengrajin kemudian menggunakan bahan bambu untuk memperbaiki biola tersebut.
"Awal mulanya pertemuan ketua IBC dengan pengrajinnya. Berawal dari biola patah diganti pake bambu, ternyata bisa dipake akhirnya mulai maju ke body-nya, nah dari situ mulai buat gitar, drum, sampai kecapi," ujar Hafid.
Ia juga mengatakan bahwa untuk membuat alat musik, semua jenis bambu bisa digunakan, tidak terpatok pada satu jenis bambu saja.
Harga yang ditawarkan Viegeawie juga tidak main-main. Biola ia jual seharga Rp 2,5 juta, gitar double seharga Rp 30 juta, bass seharga Rp 10 juta, satu set drum dengan ring bambu seharga Rp 35 juta, sedangkan satu set drum ring biasa seharga Rp 25 juta.
• Ridwan Kamil Pimpin Gotong Royong Warga Beberes Bandung
Selain bambunya yang diolah menjadi alat musik, akar hingga daunnya pun dapat diolah.
"Akar bisa jadi hiasan, diukir gitu. Kalau batangnya jelas bisa buat banyak. Sedangkan daunnya dapat diolah jadi kerupuk, seperti kerupuk bayam," ujar Hafid.
Nama Virageawie, kata Hafid, terinspirasi dari ledekan seseorang yang meremehkan produknya saat dipamerkan di sebuah pameran.
"Jadi awalnya di pameran gitu, kami sedang memamerkan alat musik dari bambu, terus dia nanya harga biola, waktu itu harganya masih 400 ribu rupiah, terus orang itu langsung nyeletuk 'Pirage awi meni mahal', nah dari kata Pirage Awi itu jadi Virageawie, merk unit bisnis IBC. Selewat kepikiran, nama itu ya kami pake," ujar Hafid.
Untuk pemasaran, Virageawie juga dibantu oleh sebuah band.
• Saat Ini Turun, Harga Ayam Dikhawatirkan kembali Melambung Menjelang Iduladha
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/alat-musik_20180812_110111.jpg)