Gerhana Bulan Total Dini Hari Ini, Berikut Amalan yang Dilakukan Rasulullah Saat Terjadi Gerhana

Hal tersebut sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Mas'ud Al Anshary

Gerhana Bulan Total Dini Hari Ini, Berikut Amalan yang Dilakukan Rasulullah Saat Terjadi Gerhana
Kolase (eramuslim.com & Tribun Jogja)
Tata Cara Shalat Gerhana Sesuai Sunah 

TRIBUNJABAR.ID - Menjelang peristiwa gerhana Bulan total di akhir Juli mendatang ini, Anda mungkin sering membaca istilah Blood Moon.

Tapi, apa sebenarnya Blood Moon itu?

Dikutip dari infoastronomy.org, Blood Moon atau "Bulan Darah" hanya terjadi ketika puncak peristiwa gerhana Bulan total.

Bulan yang biasanya berwarna putih keabu-abuan akan tampak berubah warna menjadi merah atau cokelat kemerah-merahan.

Itulah mengapa dijuluki sebagai "Bulan Darah", karena warnanya yang memang mirip dengan darah.

Peristiwa "Bulan Darah" ini akan bisa kita amati selama gerhana Bulan total pada 28 Juli 2018 nanti, yang akan terlihat dari seluruh wilayah Indonesia, Asia, Afrika, Eropa, Australia, hingga sebagian Amerika Selatan.

Melansir dari Kompas.com, gerhana bulan tersebut akan berlangsung dari pukul 01.15 WIB hingga 06.00 WIB.

Sedangkan puncak gerhana akan terjadi pukul 03.21 WIB.

Melansir dari nu.go.id, pada saat gerhana terjadi Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya agar membaca takbir, melaksanakan salat sunnah gerhana, berdoa, dan bersedekah.

Hal tersebut sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Mas'ud Al Anshary

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah menjadikan keduanya untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Dan sungguh tidaklah keduanya terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seorang manusia pun. Apabila kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka sholatlah dan berdo’alah kepada Allah hingga gerhana tersebut hilang dari kalian” (HR. Bukhari no. 1041, Muslim no. 911).

Dalil yang menerangkan tentang salat gerhana adalah hadis dari Aisyah ra:

“Terjadi gerhana matahari pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, kemudian Beliau keluar menuju masjid untuk melaksanakan sholat, dan para sahabat berdiri dibelakang Beliau membuat barisan shof sholat, lalu Beliau bertakbir dan membaca surat yang panjang, kemudian bertakbir dan ruku’ dengan ruku’ yang lama, lalu bangun dan mengucapkan : ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian bangkit dari ruku’ dan tidak dilanjutkan dengan sujud, lalu membaca lagi dengan surat yang panjang yang bacaannya lebih singkat dari bacaan yang pertama tadi. Kemudian bertakbir, lantas ruku’ sambil memanjangkannya, yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang pertama. Lalu mengucapkan : ‘sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd’, kemudian sujud. Beliau melakukan pada rakaat yang terakhir seperti itu pula maka sempurnalah empat kali ruku’ pada empat kali sujud” (HR. Bukhori no. 1046, Muslim no. 2129).

Tata Cara Salat Gerhana Berjamaah

Berikut niat salat sunah gerhana bila dilakukan secara berjamaah:

Tips Memotret Gerhana Bulan Total Blood Moon Pakai Smartphone Android atau iPhone

Fenomena Blood Moon Terjadi Akhir Pekan Ini, Ini Tata Cara Shalat Gerhana Sesuai Sunah

Adapun secara teknis, shalat sunah gerhana bulan adalah sebagai berikut.

1. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.

2. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram.

3. Baca taawudz dan Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca Surat Al-Baqarah atau surat lainnya yang setara dengan lamanya Surat Al-Baqarah dan dibaca secara jahar (lantang).

4. Rukuk dengan membaca tasbih yang durasinya seperti membaca 100 ayat Surat Al-Baqarah.

5. Itidal, bukan baca doa i’tidal, tetapi baca Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca Surat Ali Imran atau surat yang panjangnya setara surat Ali Imran.

6. Rukuk dengan membaca tasbih selama membaca 80 ayat Surat Al-Baqarah.

7. Itidal. Baca doa i’tidal.

8. Sujud dengan membaca tasbih selama rukuk pertama.

9. Duduk di antara dua sujud

10. Sujud kedua dengan membaca tasbih selama rukuk kedua.

11. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.

12.Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama. Hanya saja bedanya, pada rakaat kedua pada diri pertama dianjurkan membaca surat An-Nisa. Sedangkan pada diri kedua dianjurkan membaca Surat Al-Maidah.

13. Salam.

14 .Imam atau orang yang diberi wewenang menyampaikan dua khutbah shalat gerhana dengan taushiyah agar jamaah beristighfar, semakin takwa kepada Allah, tobat, sedekah, memerdedakan budak (pembelaan terhadap kelompok masyarakat marjinal), dan lain sebagainya.

Pengakuan Mantan Napi Lapas Sukamiskin, Toilet Umur Seabad dan Tak Semua Napi Kaya

Anak TK Tewas Tertabrak Mobil Ayahnya, Sang Ayah Masih Belum Bisa Diperiksa, Berikut Kronologinya

Apakah boleh dibuat dalam versi ringkas?

Dalam artian seseorang membaca Surat Al-Fatihah saja sebanyak empat kali pada dua rakaat tersebut tanpa surat panjang seperti yang dianjurkan?

Atau bolehkah mengganti surat panjang itu dengan surat pendek setiap kali selesai membaca Surat Al-Fatihah?

Berdasarkan nu.go.id, hal tersebut boleh saja dilakukan.

Seperti keterangan Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I’anatut Thalibin berikut ini.

Kalau seseorang membatasi diri pada bacaan Surat Al-Fatihah saja, maka itu sudah memadai. Tetapi kalau seseorang membatasi diri pada bacaan surat-surat pendek setelah baca Surat Al-Fatihah, maka itu tidak masalah. Tujuan mencari bacaan panjang adalah mempertahankan salat dalam kondisi gerhana hingga durasi gerhana bulan selesai.

(Lihat Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz I, halaman 303).

Selagi gerhana bulan berlangsung, maka kesunahan shalat dua rakaat gerhana tetap berlaku.

Sedangkan dua khutbah shalat gerhana bulan boleh tetap berlangsung atau boleh dimulai meski gerhana bulan sudah usai.

Cara Main Mobile Legends di Laptop atau PC, Hanya Butuh Satu Software ini

Bagaimana kalau tidak bisa mengkuti salat berjamaah dan memutuskan untuk salat sendiri?

Shalat sunah gerhana bulan boleh dikerjakan secara sendirian di rumah masing-masing.

Pendapat tersebut dipegang oleh Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki.

Kalangan Hanafi mengatakan, salat gerhana bulan itu berjumlah dua rakaat dengan satu rukuk pada setiap rakaatnya sebagai salat sunah lain pada lazimnya, dan dikerjakan secara sendiri-sendiri. Pasalnya, gerhana bulan terjadi berkali-kali di masa Rasulullah SAW tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasul mengumpulkan orang banyak, tetapi beribadah sendiri.

Kalangan Maliki menganjurkan salat sunah dua rakaat karena fenomena gerhana bulan dengan bacaan jahar (lantang) dengan sekali rukuk pada setiap kali rakaat seperti salat sunah pada lazimnya, dikerjakan sendiri-sendiri di rumah.

Salat itu dilakukan secara berulang-ulang sampai gerhana bulan selesai, lenyap, atau terbit fajar. Kalangan Maliki menyatakan makruh salat gerhana bulan di masjid baik berjamaah maupun secara sendiri-sendiri.

(Lihat Syekh Hasan Sulaiman Nuri dan Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam Syarah Bulughul Maram, Beirut, Darul Fikr, cetakan pertama, 1996 M/1416 H, juz I, halaman 114).

Berikut niat bila melaksanakan salat sunah gerhana sendirian.

Adapun secara teknis, shalat sunah gerhana bulan sendirian menurut Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki adalah sebagai berikut.

1. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.

2. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.

3. Baca ta‘awudz dan Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca salah satu surat pendek Al-Quran dengan jahar (lantang).

4. Rukuk.

5. Itidal.

6. Sujud pertama.

7. Duduk di antara dua sujud.

10. Sujud kedua.

11. Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.

12. Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama. Durasi pengerjaan rakaat kedua lebih pendek daripada pengerjaan rakaat pertama.

13. Salam.

14. Istighfar dan doa.

Shalat sunah gerhana bulan juga dapat dikerjakan lebih ringkas.

Seseorang membaca Surat Al-Fatihah saja pada setiap rakaat tanpa surat pendek atau dengan surat pendek.

Ini lebih ringkas seperti keterangan Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I’anatut Thalibin berikut ini:

Artinya, kalau seseorang membatasi diri pada bacaan Surat Al-Fatihah saja, maka itu sudah memadai. Tetapi kalau seseorang membatasi diri pada bacaan surat-surat pendek setelah baca Surat Al-Fatihah, maka itu tidak masalah.

(Lihat Syekh Ibnu Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz I, halaman 303).

Selagi gerhana bulan berlangsung, maka kesunahan salat sunah gerhana bulan tetap berlaku.

Tidak ada batasan jumlah rakaat shalat gerhana bulan menurut Madzhab Maliki.

Hanya saja salat sunah gerhana bulan ini dikerjakan per dua rakaat.

Demikian tata cara salat gerhana bulan berdasarkan Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki.

Tetapi salat gerhana bulan sendiri dapat dilakukan dengan kafiat ala Madzhab Syafi'i, yaitu dengan membaca dua Al-Fatihah, dua rukuk, dan dua kali i'tidal.

Ingin Mengintip Gerhana Bulan Merah di Tempat yang Sejuk dan Keren? Ke Imah Noong Aja!

Keluarga Denada Berduka, Adik Emilia Contessa Meninggal Dunia

Perbaiki Prestasi pada 2016, Kabupaten Bandung Targetkan Juara Umum di POPDA Tahun Ini

Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved