Puskesmas di Bandung Sudah Lama Bisa Obati Pasien Penderita TBC, Begini Metodenya
Rita, mengatakan, saat ini di Kota Bandung tercatat 9. 632 kasus TBC. Untuk kasus yang dilaporkan sebanyak 399 per 100.000 penduduk.
Penulis: Tiah SM | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Tiah SM
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dinas Kesehatan Kota Bandung memastikan semua Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Bandung bisa melayani dan mengobati pasien tuberulosis (TBC).
"Puskesmas sudah lama melayani pengobatan TBC. Masyarakat yang terkena penyakit TBC tidak sulit mencari tempat pengobatan, cukup ke Puskesmas terdekat, " ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Rita Verita saat peringatan Hari TBC (Tuberculosis) Sedunia tingkat Kota Bandung di Balai Kota Bandung, Rabu (28/3/2018).
Rita mengatakan, pengobatan TBC dilakukan melalui metode DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course).
DOTS adalah pengawasan langsung pengobatan jangka pendek untuk menjamin kesembuhan bagi penderita, mencegah penularan, mencegah resistensi obat, mencegah putus berobat dan segera mengatasi efek samping obat jika timbul.
Baca: VIDEO: Kompas Gramedia Meninjau Desa Tarumajaya Kabupaten Bandung
Hingga akhirnya dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat tuberkulosis di dunia.
Menurutnya, metode DOTS itu cukup signigfikan untuk pengobatan. Dengan gagasan dari pemerintah pusat, maka pengobatannya pun tersedia sehingga tidak akan menyulitkan penderita.
“DOTS itu suatu program pemerintah pusat bahwa untuk pengobatan dengan metode ini dapat droping dari pusat, sehingga tidak akan menyulitkan. Semua sudah tersedia fasilitas pelayanan kesehatan dengan baik,” jelasnya.
Febri Hariyadi Curhat Setelah Persib Gagal Menang di Laga Perdana https://t.co/HWna3gb86Q pic.twitter.com/fJiUZt00pj
— Tribun Jabar (@tribunjabar) March 28, 2018
Rita, mengatakan, saat ini di Kota Bandung tercatat 9. 632 kasus TBC. Untuk kasus yang dilaporkan sebanyak 399 per 100.000 penduduk.
“Di Kota Bandung itu dalam 100.000 penduduk, sebetulnya bisa ditemukan sebanyak 399 kasus. Hanya dalam pengobatan baru 80 persen, yang seharusnya 90 persen. Jadi kurang 10 persen harus kita kejar. Kita berkoordinasi dengan fasilitas pelayanan lainnya untuk mencapai target ini,” ujar Rita.
Dijelaskan Rita, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan penyakit TBC, di antaranya faktor lingkungan di daerah yang padat, pemukinan kurang baik, fentilasi rumah dan pencahayan yang kurang sehingga menimbulkan kelembaban.
“Bukan hanya badan saja yang fit dan daya tahan tubuhnya baik, tetapi lingkungan juga harus bersih,” ujar Rita.
TBC tidak hanya menyerang organ paru paru saja, bisa juga menyerang tulang, usus dan pencernaan lainnya. Ini bisa terjadi kepada anak-anak hingga orang dewasa.