TribunJabar/

Anak-anak Indonesia Butuh Pancasila untuk Membangun Pesahabatan Tanpa Diskriminasi

Lagu seperti “O, Ibu dan Ayah Selamat Pagi (Pergi Belajar)” salah satu contoh penanaman nilai penghormatan kepada orang tua.

Anak-anak Indonesia Butuh Pancasila untuk Membangun Pesahabatan Tanpa Diskriminasi
ISTIMEWA
Sestama Lemhannas RI, Komjen Pol. Arif Wachjunadi, yang sekaligus Ketua Senat Peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI – TA 2017, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI berfoto bersama. 

TRIBUNJABAR.CO.ID, JAKARTA - Pesahabatan dan menghargai kemajemukan adalah bagian dari nilai-nilai Pancasila.

Anak-anak Indonesia membutuhkan pemahaman Pancasila yang mudah dan dapat diterapkan atau dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya dengan cara demikian, nilai-nilai luhur Pancasila dapat ditanamkan mengingat bahwa anak-anak itu merupakan tabula rasa yang dapat diisi dengan apa saja.

Jika sejak dini ditanamkan Pancasila membangun persahabatan dengan semua orang tanpa diskriminasi, tanpa membeda-bedakan suku, agama, rasa atau strata sosial, mereka akan menjadi generasi yang pluralis yang menghargai kesetaraan, kemajemukan dan juga kebersamaan.

Demikian diungkapkan Sestama Lemhannas RI, Komjen Pol Arif Wachjunadi, yang sekaligus Ketua Senat Peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI – TA 2017, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, dalam rilis yang diterima Tribun Jabar, Rabu (13/9/2017).

Pernyataannya tersebut disampaikan sebelum mengadakan kunjungan media terkait sosialisasi seminar nasional dengan tema “Peran Pancasila Dalam Memperkokoh NKRI”, Rabu (13/9/2017).

Adapun judul seminar yang dipilih adalah, “Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila Dalam Sistem Pendidikan Guna Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa Dalam rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional”.


Peserta PPSA XXI yang turut dalam sosialisasi seminar nasional itu adalah Mayjen TNI Madsuni (Danjen Kopassus), Marsda Imran Baidirus (Pangkoopsau I), Brigjen TNI (Mar) Lukman (Dankomar Pasmar I Surabaya), Prof DR Gumilar R Somantri, Taufik Dwicahyono MSc, Brigjen TNI A. Daniel Chardin (Kasdam Iskandar Muda), Laksma TNI Edi Sucipto (Danlantamal V Surabaya), Laksma TNI Muhammad Ali (Waasrena KASAL), Prof DR Lydia Freyani Hawadi, AM Putut Prabantoro dan Brigjen TNI Achmad Marzuki (Komandan Pusat Misi Pemelihara Perdamaian TNI - PMPP).

Menurut Arif Wachjunadi, anak-anak membutuhkan bentuk nyata dari implementasi pengamalan Pancasila. Oleh karena itu, seminar nasional pada 16 November 2017 itu diharapkan dapat menghasilkan berbagai bentuk implementasi sebagai sarana penanaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Lagu seperti “O, Ibu dan Ayah Selamat Pagi (Pergi Belajar)” salah satu contoh penanaman nilai penghormatan kepada orang tua. Atau juga, diajarkannya kembali lagu-lagu daerah seluruh Indonesia atau bahkan diciptakan kembali lagu-lagu yang menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan tanpa diskriminasi, atau pengajaran solidaritas tanpa perbedaan.

“Kita semua tanpa terkecuali harus terlibat dalam membangun generasi baru Indonesia yang berjiwa Pancasila. Cara yang lain antara lain adalah pemilihan ketua kelas dengan cara musyarawah, jambore nasional anak-anak dari berbagai daerah, atau gerakan anti-korupsi dengan berdisplin waktu. Karya dan pengalaman nyata anak-anak tentang nilai-nilai Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika serta UUD NRI 1945, akan membekas dalam pertumbuhan hidup mereka,” ujar Sestama Lemhannas ini.

Namun demikian, Arif Wachjunadi menegaskan bahwa, para pendidik juga harus berjiwa Pancasilais dulu sebelum mendidik anak-anak. Dikhawatirkan aktualisasi nilai-nilai Pancasila untuk anak-anak tidak memenuhi harapan karena para pendidiknya tidak memberi contoh jiwa Pancasilais.

Seminar nasional ini merupakan sumbang sih dari peserta PPSA XXI Lemhannas RI yang ikut bertanggung jawab terhadap generasi Indonesia di masa mendatang terkait dengan arus nilai-nilai ideologi lain akibat dari globalisasi, yang tantangannya lebih besar dan berat.

Berharap bahwa, ditegaskan Arif Wachjunadi, seminar nasional ini akan dihadiri para tokoh nasional, pendidik, media-media ataupun lembaga perguruan tinggi. (*)

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help