Rabu, 20 Mei 2026

HIKMAH RAMADAN

Memperkokoh Keimanan

PARA ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan qadha dan qadar ketika dipisahkan kata per kata.

Tayang:
Editor: Dicky Fadiar Djuhud

PANGKAL dari kehadiran kita sebagai sosok muslim adalah karena landasan keimanan kita, yaitu serangkaian keyakinan kita yang memuat pilar utama dalam agama, dan kita mengenalnya sebagai rukun iman.

Semenjak kecil, kita telah diajarkan dan bahkan sangat hafal di luar kepala satu per satu dari enam rukun iman tersebut. Iman Kepada Allah; Iman kepada Para Malaikat Allah; Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah; Iman kepada para rasul utusan Allah; Iman kepada hari akhir; dan Iman kepada qadha dan qadar, yang baik maupun yang buruk.

Sangat menarik apabila kita mencermati rukun keenam dari rukun iman, yaitu beriman kepada qadha dan qadar, yang baik maupun yang buruk. Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan qadha dan qadar ketika dipisahkan kata per kata. Namun, mayoritas ulama sependapat bahwa ketika digabungkan qadha dan qadar keduanya memiliki kesamaan makna, yaitu terkait dengan ketetapan Allah SWT.

Dalam kesempatan ini, kita mungkin tidak akan membahas tentang makna qadha dan qadar dalam kacamata para ulama secara dalam dan mendetail, namun yang menjadi kebutuhan fokus kita adalah pemaknaan dari rukun keenam dari rukun iman tersebut dengan tujuan agar mampu memperkokoh keimanan kita.

Sumpah setia kita sebagai mukmin dengan pengakuan terhadap ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT atas diri kita, baik itu kita pandang baik maupun sebagai hal buruk, atau enak ga enak dalam bahasa kita.

Manusia diciptakan Allah SWT dengan potensi keluh kesah dan kikir, dimana ia akan menjadi galau ketika ditimpa kesulitan, dan dalam kondisi kelapangan rezeki ia akan menjadi kikir. Kontradiksi sikap alamiah manusia sejatinya patut menjadi pelajaran penting yang harus kita cermati bersama, terutama berkaitan dengan kualitas keimanan kita sebagai hamba Allah yang mengharap ridho dan rahmat-Nya.

Karakter keluh kesah manusia mungkin sangat jelas tergambar ketika kita memperjelas rukun iman yang keenam, bahkan mungkin penyakit itu bisa jadi sering menimpa kita. Tidak sedikit kita menyaksikan, ketika seseorang mendapatkan kebaikan ia akan mengatakan bahwa itu merupakan bagian dari takdir Allah SWT.

Tetapi terkadang ia menunjukkan sikap prustasi dan karakter tidak nerimo ketika sesuatu yang buruk menimpanya, seakan bahwa itu bukan merupakan ketetapan Allah SWT atas dirinya.

Seorang mukmin sejati pada hakikatnya memiliki karakter kuat yang menggambarkan kualitas keimanan paripurna, ia senantiasa konsisten dalam sikapnya bahwa baik dan buruk yangterjadi atas dirinya merupakan kehendak dari Allah SWT dan bagian dari ketetapannya untuk diimani dengan sepenuh hati. Dua persepsi yang menunjukkan perbedaan kualitas keimanan tersebut sejatinya berdasarkan fondasi utama yang menentukan cara pandang seseorang.

Seorang mukmin sejati akan melandaskan cara pandangnya dalam kehidupan bahwa penentuan kualitas baik dan buruk dalam setiap sesuatu hakikatnya berdasarkan Allah SWT. karena, sesuatu yang kita anggap baik belum tentu itu pada hakikatnya baik untuk diri kita.

Sebaliknya, bahwa sesuatu yang kita anggap buruk bisa jadi itu merupakan hal terbaik bagi kita. Allah SWT yang menciptakan kita, maka sudah dapat dipastikan bahwa hanya Allah SWT Yang Maha Mengetahui apa yang baik dan yang buruk bagi kita.

Mengakui sesuatu yang baik dan buruk sebagai bagi dari ketetapan Allah, serta mengakuinya sebagai hal terbaik bagi diri kita adalah upaya memperkokoh kualitas keimanan kita. (AHMAD HERYAWAN)

Selengkapnya, bisa dibaca di Harian Pagi Tribun Jabar, Kamis (10/7/2014).

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved