Moyes Juga Bisa Menakutkan
David Moyes, juga bisa jadi sosok yang menakutkan. Setidaknya, itulah yang dirasakan Marouane Fellaini.
DAVID Moyes boleh jadi mengklaim dirinya lebih merupakan manajer yang kalem. Tapi, para pemain Manchester United tampaknya tak bisa mulai berpikir bakal terhindar dari hair dryer treatment setelah Sir Alex Ferguson pensiun. Pasalnya, manajer baru mereka, David Moyes, juga bisa jadi sosok yang menakutkan. Setidaknya, itulah yang dirasakan Marouane Fellaini.
Di Everton, Moyes memang mendapat afeksi dan respek yang besar dari skuadnya. Menangani klub selama 11 tahun, Moyes begitu dihargai semua elemen klub. Tapi, meskipun menjalin hubungan nan hangat dengan para pemainnya, Moyes juga bisa menjadi sosok menakutkan ketika marah. Hal ini tak berbeda jauh dari pendahulunya di Old Trafford, Sir Alex.
Fellaini merupakan salah satu pemain yang pernah merasakan semprotan Moyes. Hal itu terjadi ketika Fellaini yang mengaku kehilangan kontrol emosinya sengaja menanduk pemain Stoke City, Ryan Shawcross dalam laga Desember lalu. Kala itu Moyes sendiri usai laga menyatakan, "Itu adalah hal buruk untuk dilakukan. Saya kira dia akan dihukum."
Kegeraman Moyes akan aksi Fellaini tak hanya sampai di situ. Moyes bahkan membuat pemain asal Belgia itu berlatih sepanjang Natal. Bahkan, meskipun Fellaini mendapat hukuman tak boleh bertanding tiga laga. Fellaini juga tetap harus berlatih pada hari Natal 25 Desember.
Itu diakui Fellaini sebagai momen terburuknya bersama Moyes. "Dia adalah manajer hebat, tapi percaya padaku, dia juga bisa menjadi keras. Jika mau ingin menang, menciptakan tim yang bagus, kamu kadang harus keras terhadap para pemain, sepak bola seperti itu," ungkap Fellaini kepada The Mirror.
"Dia bisa jadi menakutkan. Aku ingat ketika dihukum setelah pertandingan Stoke. Dia memberikan semua orang hari libur, setiap orang: pemain, seluruh staf, tapi aku harus datang ke pusat latihan melakukan sesi latihan dengannya. Hanya aku dan dia. Tak mudah pergi latihan untuk menemui dia seperti itu," lanjutnya.
"Aku mengerti karena tahu diriku membuat kesalahan. Tapi, kamu tahu tak akan mudah ketika kamu membuat dia kecewa. Masuk ke tempat latihan dan tahu akan bertatap mata langsung dengannya, itu sulit! Dia memberikan latihan berat untukku, satu sesi penuh, berlari, menembak, mengumpan, segalanya. Sangan intens," cerita dia.
Kendati begitu, pelajaran berharga dipetik Fellaini dari peristiwa tersebut. "Itu caranya mengatakan padaku, aku telah mengecewakan tim. Itulah mengapa dia manajer bagus. Dia manajer hebat. Dia tahu kapan harus menjadi keras," pungkas Fellaini. (*)