Rabu, 10 Juni 2026

Junaedi Dapat Solar Buat Traktor dari Tangki Angkot

Junaedi (25), petani sekaligus pemilik traktor, tak patah arang ketika susah mendapatkan solar di setiap stasiun pengisian bahan bakar umum

Tayang:
Penulis: Tarsisius Sutomonaio | Editor: Darajat Arianto
CIREBON, TRIBUN - Junaedi (25), petani sekaligus pemilik traktor, tak patah arang ketika susah mendapatkan solar di setiap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Ia mendatangi beberapa beberapa temannya, para sopir angkutan umum (angkot) untuk meminta berbagi solar. Pria asal Blok Seledu, Desa Kedung Dawa, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, itu memang membutuhkan solar untuk menghidupkan mesin traktornya.

Junaedi rela membayar lebih mahal untuk solar yang ia dapatkan, Rp 5.000 tiap liter atau lebih mahal Rp 500 daripada harga di SPBU. Biasanya, dari tangki angkot yang dikemudikan rekannya, dia mendapatkan 10 liter solar bagi traktornya. Itu cukup untuk membajak 300-500 meter persegi lahan sawah.

"Kalau ngga begitu (beli dari teman sopir angkot), saya ngga bisa membajak sawah," ujar Junaedi seusai membajak sawah di Blok Tuk, Kedawung, Rabu (1/5). Berkat 'kucuran' solar dari tangki-tangki angkot itu, pria itu bisa membajak sawahnya seluas satu hektare di BloK Griya Mukti, Kedawung.

Selain itu, ia memakai traktornya untuk membajak hingga lima hektare lahan sawah milik petani lain selama masa pengolahan tanah. Tentu saja, tak gratis. Selain sawah, Junaedi menganggap traktornya sebagai modal. Ia sendiri yang mengendalikan traktornya di sawah.

Setiap membajak satu hektare lahan sawah, Junaedi mendapat bayaran Rp 550.000. Uang itu untuk biaya rawat mesin traktor, biaya solar, dan biaya tenaga. Sisa uang hasil membajak sawah-sawah orang lain itu, bahkan bisa menutupi semua modal pengolahan sawah satu hektare miliknya.

Ongkos membeli bibit padi sebanyak 10 kilogram senilai Rp 55.000 serta ongkos sewa tenaga menanam padi sebesar Rp 200.000. "Selama semusim tanam, saya membutuhkan empat ton pupuk untuk dua kali penyebaran. Nilainya, sekitar Rp 900.000," katanya. Saat panen, ia harus membayar butuh panen senilai Rp 800.000.

Itu sebabnya, Junaedi bernapas lega mendapat solar "kucuran" dari tangki angkot. "Kalau ga dapat solar, mungkin bisa terlambat mulai tanam padi apalagi mau memasuki musim kemarau. Air makin berkurang," kata pria itu. Jika terlambat memulai musim tanam, ia dan kawan-kawannya terancam tak bisa memanen padi. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved