Kondisi Jatiluhur Masih Aman
bendungan yang dibuat di era Presiden Soekarno tersebut masih dalam status aman dan bisa dinikmati serta dimanfaatkan oleh berbagai
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Darajat Arianto
"Curah hujan yang kondisinya di atas normal mengakibatkan debit air dari hulu Sungai CItarum membuat tinggi muka air di Jatiluhur ini meningkat hingga melewati batas normal pertama yakni mencapai 107 mdpl. Tapi itu masih normal dan masih aman," kata Direktur Utama Perum Jasa Tirta (PJT) II Herman Idris kepada wartawan di Graha Citarum, Kantor Pusat PJT II Purwakarta, dalam konferensi pers mengenai kondisi Jatiluhur saat ini, Rabu (24/4).
Ia menjelaskan, meski TMA di Jatiluhur ini meningkat, tidak lantas dikaterikan menjadi kategori siaga bencana. Pasalnya, limpasan air dari TMA ke Morning Glory yang meningkat tersebut, masih jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan atau harus dilakukan upaya pencegahan bencana.
"Limpasan dari TMA yang meningkat di Jatiluhur saat ini mencapai 288 meter kubik per detik. Sedangkan limpasan air yang membuat kami melakukan upaya penanggulangan lebih ekstra, jika limpasan airnya mencapai 1500 meter kubik perdetik hingga 3000 meter kubik per detik. Jadi, karena saat ini kondisi limpasan airnya masih jauh di bawah 1500 meter kubik perdetik, jadi Jatiluhur masih berkategori aman," katanya.
Ia menjelaskan, limpasan air sebesar 1500 meter kubik perdetik itu, jika TMA di Jatiluhur mencapai atau melewati 115.6 mdpl. Sedangkan, limpasan air mencapai 3000 meter kubik per detik, atau kapasitas maksimal limpasan, jika TMA melewati 114.50 mdpl.
"Jika limpasan airnya sudah mencapai 1500 meter kubik per detik hingga 3000 meter kubik per detik, baru kami akan membuka titik limpasan baru di bendungan Ubrug yang memiliki kapasitas limpasan sebesar 2000 meter kubik per detik. Membukanya dengan menjebol bendungan tersebut," katanya. (*)