TribunJabar/

Bank Sampah My Darling Bisa Hidupi Warga

Salah satu warga Bandung yang sudah sadar akan kebersihan lingkungan adalah Dewi Kusmianti (37), warga RW 11 Kelurahan Cibangkong,

Bank Sampah My Darling Bisa Hidupi Warga
Zelphi
KUMPUL BERSAMA - Dewi Kusmiyanti dan suaminya Tonton Paryono berkumpul bersama anak mereka usai seharian beraktivitas di luar rumah, Selasa (5/3/2013). Dewi adalah pendiri bank sampah yang diberi nama My Darling di RW 11 Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal. Nama darling diambil sebagai akronim dari sadar lingkungan.
Oleh Siti Fatimah

SAMPAH masih menjadi persoalan yang dihadapi Kota Bandung. Semakin banyak penduduk, sampah juga semakin menumpuk. Ditambah kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan juga masih rendah. Ini masih bisa dilihat dari banyaknya sampah yang bertebaran di jalan-jalan, menandakan orang masih membuang sampah seenaknya.

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik dan sampah nonorganik juga masih rendah. Padahal bila kesadaran tersebut sudah ada, sampah bukan lagi barang yang hanya menimbulkan bau, tapi bisa mendulang uang.

Salah satu warga Bandung yang sudah sadar akan kebersihan lingkungan adalah Dewi Kusmianti (37), warga RW 11 Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal. Ia tidak berasal dari kalangan mampu dan bukan pula seseorang berpendidikan tinggi. Bahkan latar belakangnya pernah menjadi pengamen jalanan. Tapi justru ia menunjukkan kepedulian terhadap kebersihan dan terhadap lingkungan begitu besar. Salah satunya, ia mendirikan bank sampah yang diberi nama My Darling di RW tersebut. Nama darling diambil sebagai akronim dari "sadar lingkungan".

Latar belakang pendirian bank sampah itu muncul saat ia melihat suaminya, Tonton Paryono (39), yang bekerja mengurus sampah di RW tersebut. Di RW 11 terdapat kurang lebih 924 KK ditambah pendatang sehingga menjadi sekitar 1.000 KK. Sampah rumah tangga di RW tersebut bisa mencapai enam kubik per hari.

"Saya kasihan lihat suami mengurus sampah seperti itu, apalagi kalau sampah tidak juga diangkut, makin numpuk dan sampai ke jalan. Dari sini muncul keinginan kenapa tidak mengolah sampah yang ada," kata perempuan kelahiran 20 Juni 1975 ini, Selasa (5/3).

Ibu tiga anak ini pun lalu mengungkapkan keinginannya kepada suaminya, yang ternyata menanggapi positif. Mulailah ia memilah sampah menjadi sampah organik dan nonorganik serta memisahkan kembali mana sampah yang bisa dijual atau sampah yang bisa didaur ulang. Upayanya ini terus berlanjut hingga akhirnya tahun 2007 ia mendirikan bank sampah My Darling.

Pelan-pelan bank sampah ini mulai dikenal warga. Di bank sampah ini, warga secara perlahan mulai ada yang memilah sampahnya dan menjadi nasabah di bank sampah. Mereka yang menyetor sampah akan dihargai sesuai dengan "isi" sampahnya. Harga sampah yang bisa didaur ulang berbeda dengan sampah rongsokan.

"Harga bermacam-macam, seperti sampah bekas bungkus kopi atau susu, harganya beda, karena bungkus-bungkus ini bisa dimanfaatkan untuk dibuat suatu kreasi atau kerajinan," kata ibu dari Ayu Dwiyanti (17), M Yusuf M (14), dan Tri Septiani (11) ini.

Saat ini, bank sampah bisa memperoleh Rp 600 ribu per bulan. Bukan hanya bank sampah yang dikelola oleh Dewi dan suaminya serta dua orang petugas operasional, di lokasi ini Dewi juga mengelola sampah untuk dijadikan biogas dan kompos dengan alat yang sudah dimilikinya. Selain itu, ia membuat kerajinan dari sampah daur ulang yang bisa menghasilkan uang Rp 800 ribu setiap bulannya.

"Sekarang di My Darling ada 12 ibu-ibu yang membuat kerajinan daur ulang sampah ini," kata perempuan yang mempromosikan hasil kerajinannya dengan cara mengikuti pameran ini.

Langkah positif lain yang dilakukan Dewi adalah membentuk sekolah ibu-ibu. Sekolah ini tidak dimaksudkan untuk kegiatan belajar mengajar, tapi untuk bersama-sama belajar berwirausaha. Seperti  belajar membuat mi, bakso, atau penganan lainnya. Dari sekolah ini, sekarang sudah ada 32 ibu-ibu yang aktif.

"Niat saya hanya ingin ibu-ibu mandiri dengan cara membuka usaha sendiri. Dengan membuka usaha, kita bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain," kata perempuan yang menjabat sebagai humas serta terkadang membantu manajemen di bank sampah My Darling ini.

Kerja kerasnya dari bawah ini memang sudah berjalan cukup baik, tapi tidak lantas membuatnya santai. Ia justru makin aktif dan ingin makin banyak My Darling lainnya di Kota Bandung. Ia mempunyai harapan Kota Bandung menjadi kota bersih dan sampah bukan lagi permasalahan yang harus dihadapi pemerintah.

"Kesadaran harus dimulai dari hal terkecil, seperti mulai belajar memilah sampah di rumah, bisa memisahkan sampah organik dan nonorganik. Cara ini, selain membantu petugas sampah, secara tidak langsung membantu mengatasi permasalah sampah karena sampah akan lebih mudah dikelola," kata perempuan yang juga bekerja sebagai tukang ojek dan pengasuh anak ini. (*)

Penulis: Siti Fatimah
Editor: Darajat Arianto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help