Kompetisi Surfing
Bersaing Sekaligus Jalin Pertemanan Lewat Surfing
Menit demi menit, surfer (peselancar) perempuan Iis Tresnawati (30), salah satu peserta kompetisi surfing internasional pada even West Java Surfing
Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Darajat Arianto
BADANNYA yang atletis dengan kulit tubuh yang sawo matang tertelungkup di atas papan surfing, sementara kedua tangannya silih berganti mengayuh di dalam air sehingga papan meluncur ke tengah pantai. Menit demi menit, surfer (peselancar) perempuan Iis Tresnawati (30), salah satu peserta kompetisi surfing internasional pada even West Java Surfing Championship 2012, menunggu momen ombak yang pas untuk berselancar di antara pecahnya gulungan ombak.
Itu pula yang dilakukan oleh empat belas surfer perempuan pada babak penyisihan kelas open women's kompetisi surfing yang merupakan bagian dari program kompetisi Indonesian Surfing Championship (ISC) dan Asian Surfing Championship (ASC) di Pantai Cimaja, kawasan Pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Kamis (14/6).
Iis mengaku, pada babak penyisihan ia tidak banyak mendapat momen yang tepat untuk melakukan surfing. Namun untung, satu-satunya momen yang dia peroleh dengan waktu yang tersedia hanya sekitar 25 menit berhasil dimanfaatkannya dengan baik untuk lolos ke babak semifinal.
Pada saat babak semifinal pun, tak jarang ombak yang cukup besar melewatinya begitu saja karena saat itu posisinya tidak tepat untuk surfing.
Kembali satu momen yang diperoleh peselancar asal Batukaras, Pangandaran, Kabupaten Ciamis, ini dapat dijalani dengan baik, yakni surfing diiringi gulungan ombak hingga bertahan beberapa menit dan Iis berhasil meraih poin 7. Otomatis, peselancar yang tergabung dalam komunitas Batukaras Surfing Club (BSC) sejak tahun 2008 ini lolos ke babak final.
"Asyik, tapi gimana ya, cukup tegang juga. Karena banyak momen yang nggak bisa dimanfaatkan. Untungnya tadi ada momen yang pas sehingga saya bisa meraih poin," tutur Iis saat ditemui Tribun setelah menunjukkan aksinya di Pantai Cimaja, kemarin.
Kejuaraan surfing yang menghadirkan para peselancar dari luar negeri itu ternyata tidak menyurutkan optimisme Iis untuk mencapai juara. Pasalnya, Iis pernah menjadi juara pada seri ISC-ASC tahun lalu yang juga dilaksanakan di Pantai Cimaja.
"Mudah-mudahan saja tahun ini juga bisa menjadi juara satu," ujarnya.
Meski Iis baru empat tahun belajar surfing, kemahirannya dalam memahami karakter ombak dan mengusai gerakan papan surfing sudah cukup dalam. Terbukti selain tahun lalu menjadi juara 1 ISC- ASC di Pantai Cimaja, tahun 2010 pun mampu memosisikan diri pada juara tiga.
Kondisi ombak di Pantai Cimaja diakui Iis cukup baik untuk para surfer beraksi. Bahkan ombak di sana juga sangat pas untuk para surfer muda yang masih belajar. Ombaknya paling tinggi hanya sekitar 1,5 meter. Karena itu pula Pantai Cimaja ini sudah menjadi agenda rutin digelarnya seri International Surfing Championship ISC-ASC, dan Disparbud Jabar yang bekerja sama dengan Disbudpar Kabupaten Sukabumi.
"Di sini ombaknya mengasyikkan untuk surfing. Tadi saja kalau posisi saya tepat tentu sudah banyak momen melakukan surfing. Karenanya kebanyakan para peserta kompetisi lebih fokus merasakan kenyamanan ombaknya, kalau soal persaingan jadi juara mah nggak terlalu karena semua juga sudah saling kenal," katanya. (*)