Tragedi Sukhoi
Pejabat Rusia: Kuat Dugaan 'Human Error'
Faktor "human error" atau kesalahan manusia dan kerusakan teknis diduga kuat menjadi penyebab jatuhnya Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak,
MOSKWA, TRIBUN - Faktor "human error" atau kesalahan manusia dan kerusakan teknis diduga kuat menjadi penyebab jatuhnya Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Jawa Barat, Indonesia, kata Pejabat Wakil Presiden Rusia Dmitry Rogozin seperti dikutip situs berita Rusia RT.com, Kamis (10/5/2012).
"Saya berharap IAC (Komisi Penerbangan Internasional) melakukan hal-hal yang diperlukan untuk memastikan penyebab tragedi ini. Namun para pakar berpendapat teknologi (Sukhoi) berfungsi dengan baik dan penyebabnya kemungkinan human error," papar Rogozin.
Meskipun demikian, kata Rogozin, semua versi itu hanya akan menjadi spekulasi sampai komisi (penyelidik) mengumumkan kesimpulan akhirnya.
Rogozin mengatakan dia terbang pesawat jenis itu pada Februari lalu di Novobirsk. Menurutnya Superjet 100 merupakan pesawat terbang modern yang bagus dan bisa diandalkan.
"Dalam penerbangan dari Novosibirsk ke Moskwa, saya berada di kokpit dan pilot menerangkan kelebihan pesawat itu. Para pilot memujinya. Pesawat ini memiliki masa depan yang bagus, menjanjikan dan kompetitif," Rogozin menerangkan.
Demikian senada disampaikan pilot Ronny Rosnadi, Kamis (10/5/2012). "Saya menduga kuat, sumber kecelakaan pesawat ini human error," tutur pemilik catatan 33.000 jam terbang tersebut.
Pertama, Superjet 100 adalah pesawat baru, bahkan new brand sehingga dilengkapi perangkat peringatan dini yang modern.
Mantan pilot Merpati Airlines yang kini masih menjadi pilot di salah satu perusahaan penerbangan swasta di kawasan Indonesia Timur ini kemudian menjelaskan sejumlah perangkat peringatan dini pada pesawat.
Peringatan dini tersebut antara lain minimum obstacle clearance altitude (MOCA), minimum off route altitude (MORA), dan theater airborne warning system (TAWS) versi baru ground proximity warning system (GPW).
MOCA adalah sistem pemberitahuan tentang ketinggian minimum pesawat pada radius lokasi tertentu. Sistem ini ada, baik di perangkat pesawat, maupun radar pembimbing.
"Saya sendiri heran, mengapa pilot minta izin turun ke ketinggian 6.000 kaki. Itu sudah melanggar MOCA di kawasan tersebut karena MOCA di sana sekitar 11.000 kaki. Seharusnya pesawat turun di kawasan pantai selatan Pangandaran. Kawasan ini jauh lebih aman," ucap Ronny.
Ia menduga, kondisi psikis pilot kala itu sedang labil. "Bisa overconfident, atau sedang fatigue. Pilot kan sedang melakukan penerbangan promosi, dan itu melelahkan," ujarnya.
Kemungkinan lain, terjadi down draft, atau tiupan angin karena pergantian musim yang membuat pesawat jatuh. "Bisa jadi pandangan pilot terhalang kabut tebal yang tidak ia duga datangnya," ujar Ronny.
Sementara itu pilot senior dan pakar keamanan penerbangan Rusia Vladimir Gerasimov mengatakan, dia sudah menganalisis sejumlah fakta dan mengambil kesimpulan sama.
"Pesawat itu menabrak gunung di tengah cuaca buruk," kata Gerasimov kepada media Rusia RBK (RosBusiness Consulting).
"Itu artinya dia turun lebih rendah daripada batas keselamatan. Ada ketinggian minimum bebas rintangan untuk medan yang rata, berbukit, dan bergunung-gunung. Jika sebuah pesawat jatuh, itu artinya dia melanggar peraturan ketinggian yang aman," papar Gerasimov.